Kamis, 18 Juni 2020

Media Cetak, Riwayatmu Kini

sumber: jatim times


Mei lalu, jagat maya sempat ramai soal koran harian The Jakarta Post  yang akan berhenti terbit. Rumor berjudul Sayonara The Jakarta Post itu muncul setelah surat internal koran tersebut bocor ke publik. Tanpa menjelaskan detail isi surat tersebut, Pemimpin Redaksi The Jakarta Post, Nizar Patria menyebutkan judul surat itu telah diubah dan  kemudian beredar di media sosial. Walaupun memastikan koran berbahasa Inggris ini tetap terbit, Nizar mengakui kondisi perusahaan memang sedang tak baik. Selain preferensi pembaca yang lebih condong pada media online saat ini, situasi tak menentu karena pandemi juga membuat perusahaan harus melakukan efesiensi untuk menekan biaya operasional. Mereka pun hendak melakukan transformasi ke format digital yang saat ini dianggap lebih menjanjikan (Tempo.co.id)
The Jakarta Post bukan lah satu-satunya media cetak yang mulai kembang kempis menghadapi situasi ekonomi yang tak menentu akibat pandemi. Apalagi sejak sebelumnya, media cetak memang telah lama terpuruk akibat gerusan zaman. Penyebabnya, kecenderungan orang saat ini yang lebih suka mengakses informasi melalui media online atau media lain selain media cetak.
Tahun 2014, Lembaga Survei Indonesia (LSI) pernah melakukan survei dengan pertanyaan: “Dari mana Anda mendapatkan berita dan informasi?” Survei itu menunjukkan 79% responden menjawab televisi, 8% internet, 2 % radio dan 11% membaca koran. Pertanyaan yang sama juga diajukan kepada responden yang hanya terdiri dari Generasi Z- generasi yang lahir di rentang waktu tahun 1998-2010. Hasil yang ditunjukkan ternyata sedikit berbeda. Hanya 14,4% yang menjawab televisi sebagai sumber akses utama informasi. 83,6% memperoleh informasi dari internet dan hanya 1,7 % yang membaca koran (tirto.id).
Preferensi khalayak yang berubah itu memaksa banyak media cetak untuk beralih ke format online, tetap terbit 2 versi- online dan cetak - namun edisi cetaknya dibuat terbatas atau malah tutup sama sekali.  Majalah wanita Femina  misalnya yang semula terbit seminggu sekali, sejak 2017 terbit 2 mingguan bahkan kini terbit hanya sebulan sekali dengan oplah terbatas. Koran Tempo berhenti terbit di daerah dan hanya terbit di Jabodetabek.  Mereka pun menghentikan penerbitan Koran Tempo Edisi Minggu dan kini lebih fokus pada media online. Koran Sindo yang bernaung di bawah MNC Grup menutup kantornya di Yogyakarta. Media lain yang juga memutuskan untuk berhenti terbit atau beralih ke media online selama kurun waktu 5 tahun terakhir ini di antaranya adalah Sinar Harapan, Tabloid Bola, Reader’s Digest, Tabloid Cek & Ricek, The Rolling Stone Indonesia, Jakarta Globe, majalah Kawanku dan majalah HAI.  

Agen Koran Hidup Makmur
Menarik cerita ke belakang, media cetak sempat mengalami masa jaya terutama di tahun 80-90an. Saat itu, agen koran sangat makmur. Satu koran harian bisa beroplah sampai ratusan ribu eksemplar begitu pun majalah berita atau hiburan. Agen koran dan majalah bisa hidup berkecukupan begitu pun para pedagang dan loper bisa mencari nafkah dari berjualan koran dan majalah saja.
Kini, jika kita mampir ke agen koran, situasinya tak seramai dulu. Para agen mengakui oplah koran- media cetak yang paling banyak diakses selama ini- menurun drastis dan tentunya berpengaruh pada penghasilan mereka. Begitupun para loper atau pedagang koran dan majalah. Coba saja iseng menghitung, ada berapa penjual koran yang masih bertahan di sekitar rumah kita. Bisa jadi, keberadaannya kini semakin sulit ditemukan.
Para ahli teori komunikasi sesungguhnya sudah memprediksi ini akan terjadi meskipun tak menyangka akan terjadi secepat ini. Namun menurut para pengamat, kecenderungan masyarakat yang berubah untuk mengakses informasi adalah konsekuensi logis dari kemajuan teknologi. Kini, orang tak lagi mau bersusah payah mencari penjual koran  atau menunggu koran datang, lalu membacanya di atas kursi sambil membolak baliknya. Generasi kini lebih suka sesuatu yang cepat dan mudah. Cukup membuka gadget, lalu mengakses informasi sambil rebahan di atas kasur atau bermalasan di sofa.
Bagi sebagian orang, media cetak mungkin masih menjadi andalan untuk memperoleh informasi. Namun jika ingin tetap bertahan, media memang mau tak mau harus menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Mereka yang bertahan adalah yang mampu dengan tanggap melakukan adaptasi itu selain media-media yang berafiliasi pada perusahaan besar dan memiliki modal mapan.
Sayonara media cetak? Mungkin saja. Namun sejatinya, informasi akan selalu dibutuhkan oleh masyarakat. Apapun bentuknya, hendaknya para pelaku media dapat belajar dan bergerak cepat untuk menyediakannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar