Selasa, 31 Juli 2018

Apalah Arti Sebuah Angka



 
www.productpackagingsupplies.com
Setiap kali ada yang hendak ke rumah entah teman atau pesanan ojek online, mereka nyaris selalu kebingungan atau tersasar ke rumah sebelah dan bukan ke rumah saya. Maklum rumah kami masih belum bernomor. Rumah di samping saya bernomor 3. Pastilah orang mengira nomor rumah saya adalah 4 dan rumah setelahnya baru lah nomor 5. Padahal, rumah saya lah yang bernomor 5. Lalu, kemana nomor 4 nya?.
Iseng saya tanyakan hal ini pada Pak RT di lingkungan rumah. Katanya, “Tidak ada nomor 4 atau yang berhubungan dengan nomor itu di sini. Entahlah.. Mungkin berhubungan dengan mitos soal angka tertentu yang dipercayai developer.” Saya pun lalu teringat saat menginap di sebuah hotel dan menaiki lift. Saya baru sadar kalau tidak ada lantai 4 atau kamar bernomor 4 di hotel itu.
Bagi sebagian orang dari etnis atau negara tertentu, angka bukan hanya sekedar angka tak bermakna. Mereka percaya, angka tertentu akan membawa kesialan atau nasib buruk maupun sebaliknya. Seperti halnya angka 13 bagi orang barat yang dianggap sebagai bad luck, ada beberapa angka lain yang dianggap tidak baik dan karenanya selalu dihindari. 
www.attractchina.com


1.      4 (Empat) - Cina
Dalam kepercayaan masyarakat Cina, 4 dianggap sama sekali tidak menguntungkan. Dalam bahasa Cina, kata “empat” dilafalkan dengan nada yang nyaris sama dengan kata “kematian”. Tak heran jika angka ini menjadi satu angka yang paling dihindari di masyarakat Cina. Tak hanya rumah bernomor 4 seperti kasus saya di atas yang dihindari, namun semua angka berelemen 4 pun dipastikan tak akan ada jika bangunan itu berada di Cina atau milik orang Cina. Misalnya, jika terdapat 50 lantai di suatu gedung, maka dipastikan tidak akan ada lantai 40 hingga 49 namun langsung ke lantai 50. Lucunya, angka 54 yang juga ber-elemen angka 4 pun biasanya tidak ada. Padahal, angka 5  nadanya sama dengan kata yang berarti “tidak” yang jika digabung dengan pelafalan angka 4, artinya bisa menjadi “tidak ada kematian”.  Malah berarti "baik" ,kan?

2.      9 (Sembilan)- Jepang
Takhayul lain yang disebabkan oleh homophone – satu kata dengan pelafalan sama atau nyaris sama namun berbeda arti- adalah nomor 9 di Jepang. Angka ini pengucapannya sama dengan kata bermakna “penyiksaan” dalam bahasa Jepang. Akibatnya, rumah sakit dan bandar udara menghilangkan angka 9 untuk penomorannya agar tidak mengundang kesialan.

3.      17 (Tujuh belas) – Italia
Sebagian orang Itali percaya mitos “Jumat tanggal 17” seperti halnya “Jumat tanggal 13” bagi orang barat. Sebabnya, angka romawi dari 17 adalah XVII yang jika dibolak-balik dapat tersusun menjadi VIXI. Angka itu dapat membentuk kata yang berarti “hidupku berakhir” dalam bahasa Latin.

4.      26 (Dua enam)- India
Kombinasi dari numerologi dan kejadian tragis membuat nomor ini dianggap dapat membawa ketidakberuntungan di India. Nomor 8 dianggap sebagai pertanda kerusakan dan jika dijumlah, 2 plus 6 adalah 8. Agak maksa ya... haha... Alasan lain adalah fakta bahwa peristiwa gempa bumi, tsunami dan beberapa serangan teroris terjadi pada tanggal 26 di bulan yang berbeda pada kurun waktu 15 tahun. Akhirnya, orang India percaya kalau 26 memang merupakan angka sial.

5.      39 (Tiga sembilan)- Afganistan
Nomor 39 bermakna buruk bagi masyarakat Afganistan. Nomor tersebut jika diterjemahkan berarti “morda-gow” yang secara bahasa artinya “sapi mati”. Kata itu juga dalam bahasa slang lazim digunakan untuk menyebut “germo” yang berhubungan dengan prostitusi. Jadi, jika orang Afganistan melihat mobil berplat nomor 39, mereka memilih menghindarinya dan mencari jalan lain.

6.   191 (Seratus sembilan satu) - Amerika
Angka ini dianggap bad luck dalam dunia penerbangan Amerika. Lima penerbangan yang berbeda dengan angka 191, seluruhnya  mengalami kecelakaan. Kecelakaan terbesar terjadi di tahun 1979, saat American Airlines dengan penerbangan bernomor 191 mengalami kecelakaan di  Chicago’s O’Hare Airport, menewaskan seluruh penumpang yang berjumlah 258 orang dan 13 orang kru nya. Penerbangan bernomor sama dari Delta Airlines juga mengalami kecelakaan di Dallas/Fort Worth International dan menewaskan 136 penumpang dari 152 orang, 11 kru nya. 
 
 Sebagai seorang muslim, tentunya kita tidak boleh memercayai takhayul macam ini. Bukan angka yang menentukan peristiwa yang kita alami, namun Allah lah yang maha menentukan semuanya dan apa yang telah Allah tetapkan pastilah itu yang terbaik untuk kita. Ini sekedar menambah pengetahuan saja ya.... (sumber; diolah dan diterjemahkan dari www.smosh.com & www.nationalgeographic.com)




Kamis, 26 Juli 2018

Meteor Garden 2018: Versi Milenial Yang Lebih Unyu-Unyu




www.medium.com

Kesuksesan Meteor Garden (MG) versi Taiwan tahun 2002 lalu membuat banyak fans ingin agar drama yang diadaptasi dari animasi manga Jepang Hana Yori Dango ini di-remake dan ditayangkan kembali. Setelah sempat  beredar rumor soal mungkin tidaknya keinginan para fans itu terwujud, akhirnya pada awal 2018 lalu secara resmi diumumkan kalau MG akan diproduksi kembali dengan Angie Chai -yang juga produser MG versi 2001- sebagai produser MG versi baru.
Dimulailah proses penyeleksian pemain untuk mengisi peran-peran yang ada dalam drama ini. Terpilihlah Shen Yue sebagai Dong San Chai, Dylan Wang aka Wang He Di  sebagai Dao Ming Shi, Darren Chen sebagai Hua Ze Lei, Connor Leong sebagai Feng Mei Zuo dan Wu Xi Ze sebagai Xi Men Yan. Banyak yang bersorak namun tak sedikit yang mengkritik saat drama ini ditayangkan kembali. Para fans MG yang dulu sempat kesengsem dengan para cowok F4 atau suka pada San Chai yang imut dan pemberani, bisa jadi memang telah punya ekspetasi tersendiri tentang aktor seperti apa yang akan memainkan tokoh-tokoh kesayangan mereka. Namun tentu saja, produser punya alasan tersendiri soal pemilihan para pemain ini termasuk jalan cerita yang tak persis sama dengan versi lamanya meskipun benang merah ceritanya tetap sama.
Yang Berbeda
Episode awal dibuka saat San Chai si gadis miskin berkuliah di sebuah universitas. Di kampus, San Chai yang kuliah di jurusan Ilmu Gizi, hanya memiliki 2 teman, Qing He dan Liu Zhen. Suatu hari, saat sedang berjalan sambil memegang hape, ia tersenggol seseorang hingga hapenya meluncur jatuh. Tepat saat itu, serombongan orang melintas diikuti keriuhan para cewek teman-teman San Chai yang nampak histeris saat melihat rombongan itu. San Chai yang tak tahu siapa mereka, sibuk berusaha menyelamatkan hapenya di antara langkah-langkah kaki orang yang melintas. Tak dinyana, saat ia hampir berhasil meraih hapenya, seseorang bersepatu kulit buaya berwarna hijau malah menginjak hapenya hingga retak.
Merasa tak terima, San Chai berusaha menerobos keramaian dan mengikuti rombongan tersebut untuk meminta pertanggungjawaban seseorang bersepatu kulit buaya yang telah menginjak hape nya. Ternyata, rombongan itu  adalah sekumpulan cowok idola di sekolah, F4,  yang dijaga beberapa bodyguard berbadan kekar. Karuan saja, saat gadis itu berusaha mendekat, ia langsung dihalau dan dipelintir tangannya karena ia dianggap akan berbuat tidak baik pada bos mereka.
Sampai sini saja, penonton versi lama MG akan merasakan perbedaannya. Soal hape yang secara tak langsung membawa San Chai untuk berurusan dengan F4 dan Dao Ming Shi seolah menjadi “penanda” bahwa drama ini memang ditujukan untuk para fans baru era milenial saat gadget telah menjadi hal tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari.  Ini tak ditemukan dalam pembuka MG versi lama meskipun hape terbaru tahun itu telah ikut nampang sebagai bagian dari sponsor.
Kurang Greget
Tentu saja, produser dan penulis skenario boleh memiliki pertimbangan sendiri mengenai akan seperti apa cerita MG versi baru ini. Namun sebagai penonton lama, ada beberapa hal yang menurut saya membuat drama ini terasa kurang greget meskipun tak sampai kehilangan ruh ceritanya. Soal akting misalnya. Setahu saya, beberapa pemeran dalam MG versi baru ini pernah bermain dalam drama-drama lain sebelumnya, namun hal ini nampaknya tidak banyak menolong kemampuan akting mereka. MG versi jadul pun memang tak menampilkan akting yang brilian, tapi mungkin karena faktor skenario, para pemain memiliki karakter yang terasa lebih kuat hingga cerita tetap dapat terasa menarik dan tidak datar.
Jika dilihat, para pemeran F4 pun nampak lebih “manis” baik dari segi penampilan maupun sikapnya. F4 yang dalam versi manga maupun versi drama diceritakan amat kejam namun disukai, tak terlalu kentara kekejamannya dalam MG versi baru ini. Bahkan, para cowok itu digambarkan sebagai cowok yang disegani karena tampan, kaya namun santun. Jangan kaget jika Xi Men yang berkarakter don juan dan suka memacari banyak wanita,  dalam MG versi baru ini digambarkan sebagai cowok yang tak terlalu suka tebar pesona. Kesan galak Dao Ming Shi juga lebih banyak ditampilkan lewat ekspresi wajah namun minim adegan fisik. Konon, produser memang ingin agar versi baru ini mengurangi adegan kekerasan yang ada dalam versi terdahulu termasuk mungkin memangkas beberapa adegan romantis yang kelewat berlebihan.
Qing He sahabat San Chai yang lugu dan kadang konyol juga nampak terlalu “kalem”. Ibu dan bapak San Chai yang kocak dan sangat terobsesi menjodohkan anaknya dengan A Shi juga nampak kurang mendalam memainkan perannya. Adegan romantis San Chai dan Dao Ming Shi yang dulu menjadi salah satu daya tarik drama ini  juga nampak tak terlalu kena. Entah kenapa, chemistry keduanya nampak kurang natural bahkan nampak canggung :) . Begitupun beberapa peran lain yang mau tak mau membuat saya membandingkannya dengan para pemain MG versi lama karena menurut saya bermain terlalu “datar” dan kurang ekspresif.
Mungkin memang masih terlalu dini mencap drama ini bagus atau tidak mengingat baru ditayangkan belum separuhnya. Bisa jadi, pendapat saya ini dipengaruhi faktor perbedaan zaman haha.. Pemain-pemain yang menurut saya terlalu unyu itu mungkin memang akan lebih menarik bagi para penonton saat ini. Soal akting atau cerita bisa saja menjadi pertimbangan nomor sekian. Yang pasti, drama ini  masih menampilkan beberapa bagian fenomenal seperti adegan Dao Ming Shi yang berlari mengejar bis untuk menyusul San Chai, atau saat mereka tersesat dalam badai salju.Masih ok lah sekedar sebagai hiburan.