Senin, 09 November 2020

Lagi- Lagi Video Tak Senonoh..

 

Untuk ke sekian kalinya, sebuah video yang memerlihatkan adegan intim beredar di media sosial. Yang menghebohkan, pelakunya adalah seorang wanita yang katanya mirip artis cantik GA dengan seorang pria bertubuh kekar entah siapa. Ada yang menduga, si pria dalam video berdurasi 19 detik itu adalah manager si artis, ada juga yang menyangka kalau pria tersebut salah satu pemain band pengiringnya. GA sendiri memberikan jawaban mengambang, tak mengiyakan atau menolak kalau wanita dalam video itu adalah dirinya. Sementara pria yang diduga ada dalam video sudah mengklarifikasi kalau itu bukan dirinya. Belum habis kehebohan publik, muncul lagi video sejenis yang juga menampilkan seorang wanita mirip artis.  Belum ada klarifikasi yang bersangkutan terkait video ini.

Dua peristiwa ini mengingatkan publik pada hal serupa yang terjadi belasan tahun ke belakang. Saat itu, video asusila seorang vokalis band besar dengan 2 wanita berbeda tersebar. Ada pihak yang mengaku walaupun ada pula yang sampai sekarang tak mengakui itu dirinya. Apapun, publik tetap menghujat dan mencaci maki terutama karena salah satu pelaku telah berkeluarga.

Harga yang harus dibayar amat lah mahal. Selain harus mendekam di balik jeruji besi dengan tuduhan telah lalai menyimpan video tak senonoh, mereka pun mendapat sangsi sosial. Banyak kontrak iklan dan pekerjaan dibatalkan dan diputus di tengah jalan, program TV yang memajang mereka memutus kontrak sepihak selain tentu saja menanggung malu. Perlu bertahun-tahun bagi mereka untuk kembali ke dunia hiburan dan tampil lagi di depan kamera dengan karir yang mungkin tak secemerlang sebelumnya.

Tersebarnya adegan intim yang dilakukan publik figur sebenarnya acapkali terjadi. Sebelum tahun  2000-an tersebar video singkat yang memerlihatkan seorang wanita mirip artis almarhumah Euis Sukma Ayu. Euis, putri artis senior Nani Wijaya, yang saat itu sedang naik daun, tak mengakui kalau itu dirinya. Euis terhitung “beruntung” karena masa itu belum ada media sosial begitupun handphone belum banyak dimiliki orang. Pemberitaan tentang Euis lebih banyak muncul di televisi dan koran-koran gosip. Namun tetap saja hal ini memengaruhi karir Euis di dunia hiburan.

Untuk Konsumsi Pribadi?

Sebenarnya sudah bukan rahasia lagi jika dunia selebriti lekat dengan pergaulan bebas. Saya yakin, yang biasa melakukan hubungan intim dengan pasangan walaupun belum menikah tak hanya dilakukan oleh para artis yang videonya tersebar itu. Boleh dibilang, mereka ini hanya sedang “sial” saja karena video pribadi mereka tersebar (atau disebarkan) ke publik. Ini terjadi bisa karena yang bersangkutan lalai hingga video itu bocor ke pihak lain atau bisa jadi gadget atau alat penyimpan video hilang dan jatuh ke tangan orang yang tak bertanggungjawab.

Saya sendiri tak paham mengapa adegan intim harus divideokan. Apakah sekedar untuk “dokumentasi” atau memang sengaja direkam untuk jadi konsumsi pribadi yang bisa ditonton berkali-kali? Semua memang hak dan jadi tanggungjawab masing-masing orang. Namun menjadi masalah jika video itu tersebar lalu ditonton publik termasuk anak-anak di bawah umur. Apalagi saat ini, dengan mudahnya foto atau video tersebar tanpa bisa kita cegah. yan

Kontrolnya ada di diri kita. Jika kita tanpa sengaja menerima kiriman video macam itu, stop sampai di kita saja tak perlu disebarkan. Tak perlu juga menghujat sampai sengaja ikut berkomentar di akun media sosial si artis. Kita jadi salah jika ikut mengumpat dan berkata kasar. Konsekuensi atas apa yang telah dilakukan, biarlah jadi tanggungan masing-masing individu. Dosa tidak berdosa itu urusannya dengan Tuhan. Jadilah penyimak atau jika bisa pengkritik yang baik saja.

 

 

 

 

 

 

 



                                                                                                                     

Minggu, 08 November 2020

Mengenang Awal Pandemi

 

source: katadata.com

Semua terjadi begitu cepat. Hari itu, Sabtu 14 Maret 2020, saya masih bepergian dengan kereta untuk mengawas ujian TOEFL. Anak saya masih ke sekolah untuk latihan persiapan lomba Pramuka esok harinya. Namun situasi memang sudah nampak tak biasa. Di stasiun, saya melihat sudah mulai banyak orang memakai masker. Saya pun begitu, memakai masker walaupun masih buka tutup.

Malamnya, televisi menyiarkan kabar tentang salah satu Menteri yang terkena covid 19. Grup WA para orang tua murid yang anak-anaknya hendak ikut lomba esok harinya mulai ramai dengan ungkapan kekhawatiran. Mempertanyakan bagaimana keamanan anak-anak selama lomba nantinya, siapa saja yang akan mendampingi dan seterusnya. Puncaknya, jelang malam ada beberapa orang tua yang menyatakan anaknya mengundurkan diri dari lomba karena mempertimbangkan resiko.

Akhirnya, jelang tengah malam sekolah memutuskan untuk mengundurkan diri. Keputusan ini disesali beberapa orang tua yang masih ingin lomba terus berlanjut. Orang tua lain, termasuk saya, kebingungan menyampaikan pada anak-anak  yang sudah tertidur pulas tentang pembatalan ini. Terbayang betapa kecewanya mereka saat di pagi hari bangun, lalu tak jadi pergi karena batal. Padahal, mereka semua sudah sangat bersemangat dan tak sabar sampai-sampai semua perlengkapan termasuk sepatu sudah disiapkan benar untuk besok hari. Saya ingat, anak saya belum tidur karena tak sabar ikut lomba esok harinya. Dia menangis saat tahu sekolah tak jadi ikut lomba yang sudah lama ia tunggu-tunggu.

Dilanda Bosan

Setelah itu, mulailah hari-hari panjang di dalam rumah. Minggu-minggu pertama, anak-anak sangat antusias setiap kali mengikuti meeting online, merasa kangennya sedikit terobati. Sekolah juga masih gagap menghadapi situasi mendadak ini. Belum ada variasi pembelajaran. Orang tua juga masih beradaptasi. Banyak yang gagap teknologi, tak familiar dengan aplikasi-aplikasi yang dipakai anak untuk belajar online. Grup ramai dengan curhat dan pertanyaan orang tua yang kesulitan menggunakan aplikasi-aplikasi itu.

Setelah 3 minggu, rasa bosan mulai melanda. Rasanya cukup tersiksa harus tinggal di rumah padahal biasanya bisa beraktivitas bebas di luar rumah. Waktu itu, belum ada kajian-kajian atau pelatihan online jadi memang betul-betul hanya sibuk dengan aktivitas rumah saja. Saya keluar rumah hanya seminggu sekali untuk belanja stok makanan. Tukang jualan yang biasanya lewat ke kompleks rumah juga dilarang. Benar-benar dibatasi. Anak saya lebih banyak disibukkan dengan tugas-tugas sekolah. Sebagai pengobat kangen, guru kelasnya sering mengadakan challenge yang akan di-upload di status WA nya. Misalnya tantangan mengulek sambal atau memarut kelapa.

Paling terasa sepinya saat bulan puasa. Kalau biasanya kami bisa taraweh dan ngabuburit , kini tidak lagi. Sedih rasanya melihat mesjid gelap dan sepi. Kami pun hanya beribadah di rumah. Tidak ada lagi acara buka bersama. Bahkan saya sama sekali tidak ke rumah mertua atau rumah adik selama awal pandemi walaupun kami masih tinggal di kota yang sama. Kami lebih banyak berkomunikasi lewat video call atau WA. Tapi saat itu sudah mulai banyak kajian via aplikasi meeting online atau di channel YouTube. Lumayan jadi aktivitas baru untuk saya yang tak lagi bisa bepergian untuk menuntut ilmu. 

Oh ya, selama bulan puasa, acara TV yang selalu saya tonton dengan anak adalah Tukang Ojek Pengkolan yang syutingnya tak lagi di luar ruangan tapi di studio. Walaupun bukan penggemar berat, tapi itu lah tontonan yang bisa kami tonton jelang magrib dan setelah magrib. Nggak ada lagi tontonan yang lumayan soalnya.

Hikmah Awal Pandemi

Pasti selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Walaupun merasa bosan, tapi saya merasa  jadi lebih dekat dengan keluarga terutama dengan anak. Kalau biasanya kami sibuk dengan aktivitas sendiri-sendiri, selama awal pandemi kami jadi banyak beraktivitas bersama. Saya jadi sering ngobrol banyak dengan anak termasuk soal nostalgia masa saya kecil dan sekolah. Malah kayaknya stok cerita saya sudah mulai habis saking seringnya saya bercerita haha..

Selama Ramadhan, saya pun merasa lebih khusyu. Biasanya ada hari- hari saat kami sibuk dengan acara buka bersama dan sebagainya. Rasanya waktu buka bersama malah tak banyak. Saat pandemi itu, setiap hari kami bisa buka bersama di rumah walaupun lebih sering saya berdua anak saja.Begitu pun amaliyah harian, bisa lebih ter-upgrade karena tak banyak keluar rumah.

Walaupun sedih tak bisa pulang kampung saat Lebaran, tapi kejadian ini membuat saya makin menyadari betapa  berharganya waktu bersama keluarga itu. Saat Allah mengambil keleluasaan bepergian untuk bertemu dan beraktivitas, baru lah terasa nampaknya saya kurang menghargai kebersamaan itu karena menganggap hal itu biasa saja.

Tak terasa, 8 bulan sudah kita mengalami pandemi. Aktivitas sudah mulai berangsur normal dan kita mulai terbiasa dengan aktivitas dalam rumah. Tentu saja, kami kangen sekali dengan aktivitas kami yang dulu. Anak saya malah sudah sering bilang ingin kembali ke sekolah. Entahlah.. Melihat kondisi saat ini, saya sampai berpikir jangan- jangan sekolah pun baru buka awal tahun ajaran baru tahun depan. Itu artinya, anak saya tak lagi bisa kembali ke sekolah karena sudah keburu lulus! Duh.. sedih juga membayangkannya. Semoga tidak terjadi..

 

Jumat, 06 November 2020

Yang KW Yang (Tak) Terkenal

 

Jagat maya sedang dihebohkan oleh seorang remaja 19 tahun, penjual bakso di Bekasi Timur Jawa Barat yang katanya mirip Raffi Ahmad muda. Seorang pembeli mengunggah video yang memerlihatkannya sedang berjualan. Menjadi viral, Dimas Ramadhan, pemuda yang mirip Raffi muda itu, kemudian dijemput tim Rans Entertainment untuk dipertemukan langsung dengan Raffi Ahmaad di rumah pribadinya. Bagai ketiban pulung, Dimas mengaku serasa bermimpi bisa bertemu dengan artis terkenal bahkan bisa masuk rumahnya. Dimas dihadiahi sepatu mahal Raffi dan dijanjikan untuk dibiayai kuliahnya. Yang membuatnya tak kalah senang, sejak video tentang dirinya viral, omset jualan bakso milik ayah Dimas ikut naik.

Selain Dimas, ada pula Affief yang katanya mirip artis muda Rizky Billiar.  Walaupun tak seheboh Dimas, Affief mengaku memang banyak yang bilang kalau dia mirip artis yang sedang naik daun itu. Secara khusus, Affief tak pernah diundang langsung oleh Rizky untuk bertemu, “Hanya pernah kolaborasi untuk TikTok saja.” aku Affief pada reporter sebuah acara TV.


Source: VOA Indonesia


Imitasi Publik Figur

Satu hal yang wajar ketika seorang fans mengimitasi tokoh idolanya. Umumnya fans mengimitasi gaya berbusana, gaya berbicara atau ekspresi khusus tokoh yang disukainya itu. Teman saya pernah bercerita, kakak laki-lakinya sangat suka pada Kaka Slank. Sampai-sampai ia sengaja membuat gigi depannya patah sedikit biar makin mirip Kaka! Saat itu, Kaka memang punya gigi seperti itu dan belum serapi sekarang. Untunglah kakak teman saya itu tak ikutan nge-drugs seperti Kaka!

Banyak orang di dunia yang mengikuti gaya dan busana King of Pop Michael Jackosn, Elvis Presley atau penyanyi Reggae Bob Marley. Di Indonesia, gaya dan busana Rhoma Irama nampaknya juga banyak ditiru. Tak masalah jika harus mengeluarkan uang demi memiripkan diri dengan sang idola. Soal beneran mirip atau tidak, itu nomor dua. Yang penting usaha!

Bertahun lalu bahkan pernah ada program TV yang khusus mencari dan menampilkan orang-orang yang mirip publik figur tertentu. Program bertajuk Asal alias Asli Tapi Palsu itu mengundang 3 orang yang dianggap paling mirip dan bertemu langsung dengan publik figur aslinya. Mereka akan diminta melakukan hal yang biasa dilakukan si publik figur misalnya menyanyi atau akting. Yang bikin geli,tak selalu yang diundang mirip banget ternyata. Palingan mirip kalau dilihat sekilas. Program TV dengan host almarhum Taufik Savalas ini sempat sangat disukai saat itu. Acara ini pernah di-remake tapi nampaknya tak sesukses sebelumnya.

Bagi yang memiliki paras wajah seperti orang terkenal, bisa jadi itu bagai sebuah anugerah. Tak perlu bersusah payah meniru, mereka sudah mirip dari sono-nya. Tinggal dipoles sedikit saja bisa lebih mirip lagi.  Komedian Jarwo Kuat misalnya mulai dikenal karena konon mirip mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Ia pun bisa meniru gaya berbicara beliau. Banyak pula yang mengaku atau diakui mirip komedian Sule. Ada juga Ilham Anas, pria berdarah Minang yang mirip Barack Obama.

Sama-sama Terkenal?

Banyaknya orang “biasa” yang mirip publik figur kini makin mudah dikenali karena bantuan teknologi. Jika ada yang mengunggah video atau foto lewat media sosial, seketika ia bisa menjadi viral. Namun apakah kemiripan itu membawa keberuntungan yang sama seperti publik figur yang dimiripinya, itu soal lain. Kembali ke niat dan mungkin juga keberuntungan. Ada yang memang memanfaatkan kemiripan dirinya itu untuk mendulang rupiah dan merintis karir di dunia hiburan, ada pula yang sekedar merasa senang saja tanpa berniat memanfaatkan situasi.

Salah satu yang memanfaatkan momen kesukaan orang pada kemiripannya  dengan publik figur misalnya Jarwo Kuat. Jika awalnya ia sering diminta jadi Pak Kalla gadungan, kini Jarwo lebih sering berperan sebagai komedian. Karirnya pun terhitung lumayan. Ada pula yang mengaku mirip Sule bahkan mengikuti gaya rambut komedian asal Jawa Barat itu. Sempat membintangi sinetron dan iklan tapi nampaknya karir Sule KW ini tak terlalu moncer.

Kisah cukup menarik terjadi pada Ilham yang mirip benar dengan Mantan Presiden Amerika Barack Obama. Sejak pelantikan Obama menjadi Presiden Amerika beberapa tahun ke belakang, Ilham mulai dikenal. Tak tanggung-tanggung, berkat kemiripannya itu ia ditawari main film hingga ke negeri Cina. Ilham bahkan bisa melanglangbuana ke berbagai negara sebagai Obama palsu dengan menjadi bintang iklan, menjalani proyek film, iklan dan menghadiri peluncuran berbagai produk.  Mengaku sebagai Obama KW Super, Ilham bahkan seringkali dikira Obama saat sedang berjalan-jalan. Tak heran, ia pun laris manis diajak berfoto. Setelah Obama lengser, tawaran untuk menjadi Obama KW tak lagi ramai walaupun kata Ilham ia tetap optimis karirnya tetap bisa berjalan baik.

Punya wajah dan perawakan mirip publik figur adalah pemberian yang Maha Kuasa. Jika mau memanfaatkan itu sebagai cara mengais rezeki, tentu syah-syah saja. Namun sebagaimana seharusnya, menjadi seorang (yang mirip) publik figur hendaknya tak lantas menghilangkan identitas pribadi apalagi jadi tinggi hati. Kalau ternyata bisa seterkenal dan rezekinya selancar tokoh yang dimiripi, syukurilah. Jadi ketika orang tak lagi mengenal sebagai si KW, kita tak perlu merasa terlalu kecewa.

 

 

Selasa, 03 November 2020

Parade Kemewahan Di Layar Kita

 

Source; 99.co

“Welcome to my family room!” tukas wanita itu sambil merentangkan tangannya. Di layar nampak kolam renang nan asri dan luas. Host muda yang hari itu berkunjung ke rumahnya terbelalak, “Oh man! This is a resort!” serunya setengah berteriak. Sejak awal ia memang sudah nampak takjub melihat rumah luas dan mewah wanita itu: kamar pribadi yang super luas bak hotel juga ruangan bertaburan benda-benda pajangan mewah dan artistik. Obrolan lalu berlanjut santai di kolam renang si wanita. Sambil merendam kaki dan menghirup shissa-rokok ala Timur Tengah-, mereka ngobrol hal-hal ringan sambil sesekali tertawa bersama.

****

Selain nge-prank, salah satu konten channel YouTube yang juga marak adalah berkunjung ke rumah selebriti. Biasanya pemilik channel, umumnya selebriti juga, akan bertamu sambil melakukan “house tour´ dari bagian depan sampai dapur. Tak lupa, host akan melongok garasi sang bintang yang umumnya berisi kendaraan roda dua dan roda empat mahal milik mereka. Jumlahnya seringkali tak hanya satu bahkan ada yang berjejer tak ubahnya di showroom saja.

Program macam ini awalnya muncul di MTV pada tahun 2000-an. MTV Cribs, demikian nama program acara itu, menampilkan tur ke rumah pribadi para selebriti. Acara TV ini mencapai ratusan episode dan telah menampilkan banyak selebritis mulai dari aktor sampai atlet terkenal. MTV Indonesia kemudian mengadaptasinya menjadi MTV Rumah Gue yang tayang tahun 2000an. Kini, acara sejenis yang secara khusus membahas rumah selebritis nampaknya sudah tidak ada. Hanya kadang, ada acara TV yang menyelipkan house tour rumah selebriti sekedar sebagai bahan berita saja.

Entah terinspirasi oleh acara MTV itu atau bukan, banyak konten YouTube yang menampilkan hal serupa. Dan nampaknya, para penonton menyukainya. Kita pun pasti kepo ya ingin tahu rumah para selebritis apalagi jika yang dikunjungi adalah seleb favorit. Tentu kita penasaran bagaimana isi rumahnya, apa yang biasa ia lakukan di kamar pribadinya, bagaimana kesehariannya dan menyimak soal hal-hal pribadi lain yang belum kita tahu.

Namun sebagaimana halnya sebuah tontonan, konten seperti ini tentu ada plus minusnya. Menonton rumah mewah dan luas selebiritis bisa saja hanya sebagai hiburan. Berita apapun tentang orang terkenal memang selalu menarik untuk disimak apalagi tentang hal-hal privat mereka. Melalui rumah itu, kita bisa menilai sekilas karakter si empunya rumah. Ada yang rumahnya mentereng penuh sesak barang, ada yang berumah luas tapi bertipe minimalis elegan, ada yang meluaskan kamar pribadi karena suka ngendon di kamar, ada yang suka masak hingga dapur dibuat bikin betah.

Minusnya tentu saja jika konten ditonton kaum menengah ke bawah yang melihat itu tak hanya tontonan tapi juga sumber khayalan. Lalu sebagai penonton kita ikutan membayangkan andaikan punya rumah seluas dan sebagus mereka. Saat melihat kenyataan, kita sedih dan menyesali kenapa tak bisa punya rumah seperti itu. Banyak yang lantas terobsesi ingin jadi selebriti walaupun harus melakukan berbagai cara. Apalagi jika host sekedar menampilkan kemewahan namun tak mengorek bagaimana perjuangan sang bintang sampai punya rumah semewah itu.

Menarik ketika saya menonton house tour rumah Inul Daratsista yang dipandu dua host kondang, Irfan Hakim dan Indra Herlambang. Dalam program itu, ada obrolan tentang perjuangan Inul yang rela hidup prihatin 3 tahun lamanya demi membayar cicilan rumah yang jumlahnya ratusan juta sebulan. Selipan obrolan seperti ini mungkin bisa membuat konten terasa lebih membumi. Nyatanya para selebriti ini memang tak selalu memeroleh rumah idaman dengan mudah. Perlu kerja keras dan perjalanan panjang untuk mendapatkan rumah impian.

Perlu usaha dari pembuat konten agar tontonan tak sekedar jadi tontonan namun ada selipan hikmahnya. Begitupun kita sebagai penonton hendaknya bisa lebih bijak. Menonton ya menonton saja sekedar hiburan di waktu senggang. Tapi jangan lupa, tetaplah berpijak ke bumi. Apapun pasti ada pengorbanan besar hingga para selebriti itu bisa memiliki rumah mewah macam itu. Belum tentu kita sanggup bekerja sekeras mereka. Dengan begitu, kita tetap terhibur namun juga tetap bersyukur.

  



Sabtu, 31 Oktober 2020

Mandul Yang Sebenarnya

Memiliki banyak anak nampaknya menjadi simbol prestise bagi sebagian orang. Ada kebanggaan tersendiri ketika mampu memiliki anak berderet apalagi jika semua sukses. Selain itu, memiliki banyak anak juga dipercaya menjadi sumber rezeki.  Makin banyak anak, makin banyak pintu rezeki yang Allah bukakan untuk orang tuanya. 

Terdapat pula hadist yang berbunyi: “Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasuallah SAW bersabda:  “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak(subur) karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan umat-umat yang lain”(HR.Abu Dawud). Hadist ini kemudian menjadi “pedoman” bagi sebagian kita untuk memiliki anak sebanyak-banyaknya.

Tak ada yang salah dengan keinginan untuk memiliki anak banyak. Apalagi jika diniatkan kalau anak-anak itu menjadi penerus estafet dakwah untuk menegakkan dinul islam di masa depan. Namun hendaknya, keinginan itu tak hanya untuk memiliki anak banyak secara kuantitas namun melupakan kualitasnya.

Anak lahir diikuti kewajiban atas kita orang tuanya. Ia wajib kita didik, asuh dan berikan kehidupan yang layak. Ia bukan makhluk yang bisa kita lepas begitu saja, membiarkan mereka tumbuh sendiri mengikuti nasib. Jika mereka jadi anak-anak baik kita bersyukur, tapi jika tidak kita hanya bersedih. Kita tak punya andil sama sekali pada baik buruknya akhlak mereka.

Betapa banyak orang tua yang punya banyak anak namun anak-anak itu tak mampu menjadi quratta a’yun atau penyejuk hati. Saat ingin menikmati masa senja, bukan kedamaian yang diperoleh orang tua tapi justru beban pikiran karena ulah buruk anak-anak mereka. Ada orang tua yang sudah sakit-sakitan dan memiliki anak banyak namun tak satu pun anak yang mau telaten mengurusi. Ironisnya, ada orang tua yang Allah takdirkan tak punya anak namun memiliki “anak-anak” –entah keponakan atau anak angkat- yang begitu sayang dan peduli melebihi cinta seorang anak kandung.

Janganlah berkecil hati jika Allah takdirkan kita “hanya” memiliki sedikit anak. Satu, dua, sepuluh anak tidaklah menjadi penentu baik buruknya kita di mata Allah. Selama kita telah menunaikan tanggungjawab sebagai orang tua, tentu Alllah tak mengabaikan itu semua. Bersedihlah ketika kita memiliki anak (-anak) yang tak mampu kita didik menjadi anak-anak sholeh dan sholehah, yang saat kita meninggal tidak bisa mendoakan karena kebodohan mereka akan agama, yang malah sibuk memerebutkan harta warisan ketimbang memikirkan bagaimana berbakti kepada orang tuanya. Punya anak tapi bagai tak punya anak. Itulah mandul yang sebenarnya.

 

Jumat, 23 Oktober 2020

Atlet Menoreh Sejarah (1) Pelari Kulit Hitam Yang Permalukan Hitler

 

 Jesse Owens 
(source:blackhistorymonth.org.uk)

Pada 1931, International Olympic Committee (IOC) menyerahkan penyelenggaraan Olimpiade Musim Panas 1936 ke Berlin- Jerman sebagai simbol kembalinya negara itu untuk masyarakat dunia paska kekalahan di Perang Dunia I . Namun, tak lama setelah mengambil alih kekuasaan sebagai Kanselir Jerman, Adolf Hitler menjadikan Olimpiade Musim Panas dan Musim Dingin tahun 1936 sebagai propaganda superioritas ras Arya dan legitimasi partai Nazi. Olimpiade ini juga pertama kali diliput televisi hingga dapat disaksikan di seluruh dunia. Untuk itu, Hitler tak segan menyediakan dana yang besar agar Olimpiade Berlin menjadi Olimpiade modern terbesar.

Alih-alih menjadi kompetisi yang menyatukan banyak ras dan budaya, pada April 1934 Hitler malah melarang orang Yahudi dan kulit hitam mengikuti ajang olahraga internasional itu, termasuk melarang atlet Olimpiade lompat tinggi Jerman, Gretel Bergmann, yang berkulit gelap turut serta.  Saat Olimpiade resmi dibuka pada 1 Agustus 1936, ada 18 atlet Afrika-Amerika yang berkompetisi saat itu termasuk Jesse Owens, yang berdarah Afrika-Amerika.

Tak disangka, Owens sukses besar dengan menyabet 4 medali emas. Pada nomor bergengsi lari 100 meter yang juga disaksikan langsung oleh Hitler, Owens menyabet gelar juara dengan catatan waktu 10,3 detik. Pada nomor 200 meter, ia memecahkan rekor dunia dengan 20,7 detik.  Di nomor estafet 400 meter, Owens dan kawan-kawannya pun sukses meraih emas. Pada nomor lompat jauh, Owens bahkan mengalahkan atlet Jerman, Luz Long. Rekor tersebut tak terpecahkan selama 25 tahun.

Prestasi Owens tentu saja merupakan tamparan keras bagi Hitler sekaligus mematahkan supremasi atlet-atlet kulit putih Jerman. Setelah Owens memenangkan medali pertamanya, Hitler tidak memberikan selamat kepadanya dan hanya berjabat tangan dengan atlet peraih emas dari Jerman.  Owens dan para atlet Olimpiade Afrika-Amerika lainnya diremehkan oleh sebuah surat kabar Nazi yang melabeli mereka sebagai "pembantu hitam" dari tim Amerika.

Meski tak mendapat ucapan selamat langsung dari Hitler, selama di Jerman Owens mendapat perlakuan yang sama dengan tim atau atlet berkulit putih. Ironisnya, saat kembali ke Amerika, Owens sama sekali tidak mendapat penghormatan layaknya pemenang Olimpiade, tidak diundang ke Gedung Putih dan tidak diberikan penghargaan sebagaimana atlet kulit putih lainnya oleh Presiden Franklin D. Roosevelt. Padahal, dari total 11 emas yang diperoleh Amerika saat itu, 6 di antaranya disumbangkan oleh para atlet kulit hitam.

Setelah keikutsertaannya dalam Olimpiade Berlin, Owens penisun dari profesi atletnya dan memilih untuk memanfaatkan kemampuan fisiknya untuk mencari uang. Ia “berlomba” dengan mobil dan kuda untuk memperlihatkan kecepatan larinya. Owens lalu menemukan passion-nya dalam bidang public relations dan marketing. Ia menekuni bisnisnya di Chicago Illinois dan acapkali menjadi pembicara dalam beragam pertemuan bisnis di berbagai belahan dunia.

Owens meninggal pada 31 Maret 1980 karena kanker paru-paru. Film tentangnya dibuat pada 2016 berdasarkan hasil konsultasi dengan ke-tiga putri Owens. Film berjudul Race itu dibintangi Stephan James yang berperan sebagai Jesse Owens.

Sumber: kumparan.com, biography.com

 

Selasa, 30 Juni 2020

Seteru Tak Berujung, Cebong Versus Kampret


“Hayooo.. udah di-unfollow belum?” isi status seorang teman di akun sosial medianya. Saya bertanya-tanya, meng-unfollow siapakah? Belakangan saya baru ngeh kalau yang dimaksud adalah berhenti mengikuti akun sosial media seorang publik figur yang selama ini dikenal dengan aktivitas sosialnya. Beberapa hari lalu, si public figur mengunggah fotonya dengan Pak Presiden dengan caption puja-puji, “Aku kecewa.... ternyata dia cebong.” komentar orang-orang di status teman saya itu. Ternyata, itu maksudnya. Meng-unfollow karena sang idola ternyata pengagum tokoh yang bukan tokoh dukungannya.

Masih Berlanjut?
Tadinya, saya berpikir kalau perseteruan kecebong- sebutan untuk pendukung nomor 01 Jokowi dan kampret- sebutan untuk pendukung nomor 02 Prabowo di Pilpres lalu akan berakhir setelah pesta demokrasi itu usai. Ternyata tidak. Media sosial tetap ramai dengan para pendukung masing-masing (calon) presiden yang seperti tak lelah saling hujat, saling jelek menjelekkan.
Setiap kali pemerintah membuat sebuah kebijakan atau ada kejadian apapun yang berhubungan dengan pemerintahan saat ini, netizen nonpendukung 01 akan ramai mengomentari. Jika sudah begitu, pendukung Pak Pres akan balik membalas dengan tak kalah nyinyirnya.  Belum lagi jika buzzer, konon dibayar untuk menaikkan dan menjaga citra tokoh dukungannya, juga ikut menjelekkan tokoh yang dianggap bersebrangan dengan dukungannya itu.  Rasanya dunia maya makin hiruk pikuk saja.

Pilihan Pribadi
Tentu saya pun punya pilihan saat Pilpres lalu. Ketika jagoan saya tidak menang, rasa kecewa pasti ada. Satu hal, saya tidak lantas menjadi orang yang selalu menganggap apa yang dilakukan pemerintah itu buruk atau sebaliknya.  Saya mencoba untuk tetap subjektif: mengkritik di media sosial jika memang saya merasa perlu diperbaiki dan dikritisi, jika baik ya saya apresiasi. Setidaknya saya tidak berkomentar yang tak perlu. Apalagi jika saya tak terlalu paham duduk perkaranya.
Teman-teman saya di media sosial juga bermacam-macam dan sudah pasti tak selalu satu dukungan dengan saya. Buat saya, itu tak masalah. Selama mereka tidak menjelekkan siapapun, tidak menyerang fisik seseorang atau sesama pendukung dan tidak mengungkit isu SARA, buat saya syah-syah saja jika mereka memuja-muji orang yang didukungnya. Walaupun mungkin bagi saya terkesan berlebihan dan sangat subjektif, tapi memang begitu kan sikap kita pada idola pada umumnya? Saya pun pasti akan cenderung mengunggah sisi-sisi positif saja dari tokoh atau idola saya itu.

Soal Pribadi
Kembali ke soal artis sekaligus YouTuber yang mendadak di-unfollow banyak orang karena unggahannya itu, kenapa harus begitu? Jika memang ia pendukung salah satu, lalu menulis caption penuh pujian, apa salahnya? Pujiannya terkesan berlebihan dan nggak sesuai kenyataan? Ya sudah.. Wajar rasanya seseorang memuji orang yang ia idolakan.
Secara pribadi, saya melihat dia bukan artis bermasalah. Setidaknya, isi kontennya positif, bahkan menginspirasi banyak orang untuk banyak beramal seperti dirinya. “Kesalahan” nya hanya satu: menjadi pendukung dan memuji seseorang yang kebetulan bukan orang yang banyak netizen idolakan-setidaknya netizen yang selama ini sudah kadung mem-follow dan menyukainya.
Mau meng-unfollow dia? Ya silahkan saja. Kebetulan saya memang tak punya akun instagram jadi memang tak bisa meng-unfollow siapapun haha..  Hanya saja, saya lebih suka menempatkan semua pada tempatnya. Jika teman saya pendukung seseorang yang berbeda dengan saya, namun secara pribadi dia baik, saya memilih tetap berteman dengannya no matter what. Kecuali, seperti saya bilang tadi, dia sudah menyinggung dengan menjelekkan fisik dan SARA, tanpa diminta pun saya akan memilih untuk meng-unfriend atau mejaga jarak saja dengannya dalam kehidupan nyata.



Jumat, 26 Juni 2020

Yang Datang Dan Yang (Nyaris) Hilang


Kemajuan teknologi mau tak mau akan membawa pengaruh dalam berbagai sisi kehidupan kita baik dalam kehidupan sosial, ekonomi dan budaya. Makin banyaknya orang menggunakan handphone (android) misalnya tanpa disadari membawa perubahan tidak sedikit dalam hidup kita sehari-hari. Hilangnya beberapa jenis pekerjaan merupakan salah satu konsekuensi logis dari kemajuan teknologi itu. Berikut beberapa hal  yang tak lagi ada atau sulit ditemukan lagi keberadaannya karena adanya handphone (android) menurut penulis:

1.  Kartu lebaran
Foto: kompasiana.com
Dulu      : Setiap jelang hari raya toko-toko maupun supermarket biasanya menjual kartu-kartu lebaran beraneka rupa. Pembelinya membludak. Kartu-kartu ini biasanya dikirimkan kepada teman, sahabat, kerabat bahkan idola. Saya ingat, saat magang di kantor pos jelang lebaran, saya banyak menemukan kartu lebaran yang dikirimkan untuk penyanyi ibukota.
Kini       :Keberadaan handphone memungkinkan orang untuk mengirim pesan atau ucapan selamat melalui pesan singkat (SMS). Setelah ada aplikasi Whatssup (WA), kita bahkan bisa mengirim ucapan selamat dengan gambar-gambar menarik. Kartu lebaran tak lagi laku. Kalaupun masih ada yang membeli, biasanya hanya instansi-instansi tertentu saja. Kadang mereka malah membuat kartu sendiri untuk dikirimkan kepada para kolega.

2.  Telepon Umum Tunggu (TUT)
Dulu      :Sebelum handphone ada atau hanya segelintir orang yang bisa memilikinya, telepon menjadi alat komunikasi yang banyak digunakan jika ingin bercakap-cakap dengan teman atau kerabat jauh. Keberadaan TUT sangat bermanfaat. TUT biasanya berupa bilik-bilik atau kotak kaca yang banyak jumlahnya dan diberi nomor. Jika ingin menelepon, kita tinggal masuk ke salah satu bilik dan menelepon selama kita memerlukan. Setelah selesai, penjaga TUT akan menyebutkan nominal yang harus dibayar sesuai lama kita menelepon. Dibandingkan dengan telepon umum satuan, TUT lebih nyaman dan praktis karena kita tak perlu menyiapkan koin untuk menelepon atau khawatir akan kehabisan koin hingga percakapan terputus. Tempat bertelepon dalam bilik di TUT menjadi tempat ngobrol atau nge-date via telepon paling nyaman hingga sering jadi tempat nongkrong para abg di masanya. Soal diomeli karena bikin orang mengantri sih tak masalah asalkan bisa ngobrol puas di telepon tanpa khawatir bakal terdengar orang lain.
Kini       : Setelah harga handphone makin terjangkau, keberadaan TUT lama-lama tak lagi dibutuhkan. Orang tak perlu menggunakan telepon umum untuk berkomunikasi. Handphone dirasa lebih praktis dan mudah.

3.  Warung Internet (Warnet)
Foto: kaskus.co.id
Dulu      : Sebelum handphone android banyak dipakai, orang biasa mengakses internet melalui komputer di warung internet. Warnet menjadi bisnis yang sangat menguntungkan terutama jika berlokasi di sekitar kampus atau perkantoran. Biaya akses internet per jamnya pun cukup terjangkau, hanya 3000-5000 rupiah per jam. Sampai sekitar 5 tahun lalu, saya masih bisa menemukan warnet di seputaran rumah.
Kini       :Internet mudah diakses melalui hape android. Tidak perlu capek-capek pergi ke warnet. Lama kelamaan, warnet tak lagi banyak ditemukan. Kalaupun ada, biasanya menyatu dengan usaha pengetikan dan print.

4.  Koran dan Majalah
Dulu      : Koran dan majalah menjadi media yang banyak dibeli orang untuk memperoleh informasi. Jumlahnya juga banyak. Agen selalu ramai dan mereka bisa hidup makmur dari berjualan koran dan majalah saja.
Sekarang : Informasi bisa diakses sekali klik melalui handphone android. Tidak perlu capek-capek mencari penjual koran. Cukup sambil rebahan di rumah kita bisa mengakses informasi apapun di handphone kita. Koran dan majalah tak lagi jadi primadona. Banyak media cetak yang gulung tikar atau beralih ke format online walaupun tak seeksis saat dalam bentuk media cetak. Media yang masih terbit umumnya dimiliki perusahaan besar yang sudah mapan.

5.  Tukang Foto Keliling
Foto: tribunnews.com
Dulu      : Ingatkah dulu, setiap kali berkunjung ke tempat wisata hampir selalu ada para tukang foto keliling sekali jadi yang menawarkan jasanya. Kita pun dengan senang hati minta difotokan lalu membayarnya. Ada pula tukang foto yang menjepret setiap pengunjung lalu fotonya dipajang dan dijual. Jika mau, kita bisa membelinya sebagai kenang-kenangan.
Sekarang : Keberadaan tukang foto terpinggirkan setelah handphone makin terjangkau. Memfoto dengan hape lebih mudah, tidak perlu membayar lagi, bahkan kualitasnya bisa jadi lebih baik. Jika pergi ke tempat wisata, tukang foto keliling masih ada satu dua, namun tak lagi banyak dicari orang.


Rabu, 24 Juni 2020

Putri Untuk Pangeran, (Bukan) Sinetron Jiplakan


Sejak pandemi corona, saya jadi lebih sering mengakses tv. Setelah magrib, tv biasanya menyala sekedar buat menemani saya cuci-cuci piring dan beberes dapur sebelum tidur. Beberapa waktu lalu, saya melihat trailer sebuah sinetron di tv berjudul Putri Untuk Pangeran. Tak terlalu tertarik menontonnya karena saya memang bukan penggemar sinetron. Apalagi itu sinetron remaja. Tapi ketika episode pertama ditayangkan, kebetulan saya pun sedang menyetel channel tv itu. Saya tertarik karena ceritanya mengingatkan saya pada sebuah drama Taiwan yang dulu sekali sempat saya tonton, Meteor Garden (MG) dan drama adaptasi manga Jepang, Hana Yori Dango (HYD) lainnya.

Serupa Tak Sama
Di episode pertama diceritakan, Putri (Ranty Maria) sampai di sebuah kampus mewah nan megah bernama Universitas Bangsa. Gadis sederhana ini bisa berkuliah di universitas mahal itu setelah mendapat beasiswa. Kalau tidak, mana mungkin ia bisa berkuliah di sana karena Putri hanya seorang anak tukang jahit. Ke kampus pun, Putri selalu membawa barang dagangan, usus goreng. Ia mendapat cibiran dari teman-temannya yang rata-rata anak orang kaya, termasuk dari  3 cewek yang tak henti mem-bully dan mengejeknya sejak pertama ia masuk kampus.
Sial baginya, di hari pertama itu ia sudah harus berurusan dengan seorang cowok ganteng tapi nyebelin bernama Pangeran (Varrel Bramasta), yang kaca mobilnya tak sengaja dia rusak.  Putri tak tahu, Pangeran dan gengnya terkenal suka berbuat onar karena cowok itu putra salah satu penyandang dana universitas tersebut.
Selanjutnya, banyak isi cerita yang mengingatkan saya pada drama lain yang pernah saya tonton di masa muda. Selain MG, ada pula adegan yang mirip dengan drama Korea Boys Before Flowers (BFF)- masih adaptasi dari cerita manga HYD yang juga diadaptasi MG. Nampaknya, penulis skenario sinetron ini mencoba untuk membuat cerita yang tak terlalu persis agar tak nampak menjiplak. Tapi tetap saja ruh ceritanya hampir sama jika ditonton seksama.  Berikut beberapa yang saya ingat:
1.     Tokoh-tokoh dalam sinetron ini di antaranya: Putri- gadis sederhana yang pemberani, Pangeran- cowok tampan yang super kaya dan 2 temannya Gio dan Atta, Rizky- cowok cool yang menjadi seteru Pangeran dan penolong Putri, Citra-satu-satunya teman Putri yang baik di kampus- dan 3 cewek seteru putri salah satunya bernama Tasya.
Yang mirip      : Karakter Putri sama persis dengan tokoh utama wanita di MG dan drama adaptasi HYD lainnya. Yang agak berbeda adalah karakter cowoknya. Jika di drama-drama itu tokoh wanita berseteru dengan geng cowok tajir dan tampan, F4, namun selalu ditolong oleh salah satu di antara mereka, di sinetron ini Putri  hanya berseteru dengan geng yang terdiri dari 3 cowok. Rizky, diceritakan, dulu adalah anggota geng sahabat itu tapi karena sesuatu hal mereka berselisih. Namun tetap Rizky ini lah yang akhirnya menjadi penolong Putri dari kejahilan geng Pangeran.

2.    Putri dengan gagah berani menghadapi Pangeran yang dengan sewenang-wenang menyuruhnya mencuci mobil, sebagai “bayaran” untuk mengganti kaca mobil yang dirusak gadis itu. Padahal selama ini, tak ada yang berani melawan geng Pangeran.
Yang mirip           : Benang merah cerita tentang cewek miskin yang berani melawan cowok ganteng dan kaya. Yang beda hanyalah penyebab cewek itu melawan.

3.    Keberanian Putri membuat Pangeran sebal dan makin marah. Berkali-kali ia mengerjai Putri dengan tujuan membuatnya tak lagi betah di kampus. Puncaknya saat Pangeran menyuruh Putri memakai “gelang” dari tali sebagai penanda bagi siapapun orang yang berani melawan dirinya. Dengan gelang itu, tak ada seorang pun yang akan berani menolong Putri, kecuali Rizky, saat ia sedang dalam kesulitan sekalipun.
Yang mirip      : Siapapun yang berani berurusan dengan geng F4 akan mendapat kartu merah. Setiap orang yang mendapat kartu itu akan jadi musuh semua orang di kampus itu. Tak akan ada yang berani menolong bahkan sekedar menyapa.

4.    Pangeran, Putri dan Tasya terjebak dalam lift yang mendadak mati. Pangeran yang ternyata memiliki fobia ruangan tertutup sangat ketakutan namun berhasil ditenangkan Putri. Karena kejadian ini, sikap Pangeran agak berubah karena merasa berutang budi pada Putri.
Yang mirip      : Adegan terjebak dalam lift- atau kereta gantung dalam BFF- adalah salah satu adegan penting dan terkenal dalam drama-drama adaptasi HYD. Bedanya, dalam drama-drama itu, hanya 2 tokoh utama yang terjebak di dalamnya. Setelah itu lah mereka jadi dekat.

5.    Putri tersenggol orang saat ia dan Pangeran sedang berselisih di depan rumah sakit. Ia jatuh ke arah Pangeran dan ditangkap cowok itu. Adegan saling pandang saat jatuh itu tertangkap kamera handphone seseorang, disebarkan di media sosial dan menjadi bahan gosip orang sekampus. Saat Putri datang ke kampusnya itu, ia keheranan karena semua orang mendadak memerhatikannya.
Yang mirip      : Adegan saat mereka beradegan “mesra tak sengaja” yang tertangkap kamera lalu disebarkan di media. Tokoh wanita jadi mendadak terkenal. Bedanya, di drama-drama adaptasi HYD kedua tokoh jadi digosipkan punya hubungan asmara.

6.    Putri dicegat dan dikerjai banyak cowok sampai ia jatuh dan barang dagangannya berantakan. Pangeran datang tiba-tiba menghajar mereka dan menggendong Putri. Saat itu lah polisi datang dan menggelandang keduanya ke kantor polisi, menganggap mereka adalah biang keonaran.
Yang mirip      : Di MG dan BFF, tokoh cowok datang menolong dan dibawa pulang ke rumahnya.

7.    Putri mengompres luka Pangeran yang baru bertengkar dengan Rizky. Namun saat melakukannya, Putri mendadak sebal hingga menyuruh Pangeran mengompres lukanya sendiri.
Yang mirip      : Di BFF, tokoh perempuan yang dikompres lalu mereka berselisih hingga tokoh cowok menyuruhnya mengompres luka sendiri.

Yang Beda
Walaupun begitu, ada pula beberapa hal yang sama sekali berbeda dari sinetron ini. Misalnya, ayah Pangeran dan ibunya Putri yang pernah punya hubungan istimewa di masa lalu, Putri yang memiliki kemampuan mendengar suara hati, karakter Tasya yang suka mengunggah apapun yang ia alami ke sosial media dan seterusnya.
Sebagai hiburan, sinetron ini bisa saja menjadi pilihan tontonan bagi remaja, yang jelas bukan saya J . Namun cerita yang mirip dengan drama-drama tadi di sana sini membuat siapapun yang tahu kemiripannya jadi merasa terganggu. Kreativitas kita sepertinya harus lebih banyak digali. Terinspirasi boleh saja tapi jika banyak miripnya, terkesan seperti menjiplak jadinya. Kita tunggu saja apakah episode-episode selanjutnya akan berbeda atau malah banyak lagi persamaannya.






Senin, 22 Juni 2020

Kamu Kena Prank!

Sumber:sukabumiupdate.com

Wanita itu marah besar dan menangis, melihat anak laki-lakinya mendadak bertato!. Sang ayah yang seorang selebriti itu pun ikut marah dan tak kalah terkejutnya. Dengan mimik tak berdosa, sang anak berkilah “Ini hanya ekpresi seni, Ma.” katanya. Puncaknya, sang Mama mengusir si anak karena perbuatannya itu. Melihat itu, sang anak akhirnya mengaku kalau tato itu hanya tempelan dan bisa hilang. Sang Mama kena prank!
Adegan di atas menjadi salah satu konten channel YouTube anak seorang selebriti terkenal, telah ditonton jutaan kali dan banyak yang memberi jempol tanda suka. Jika diperhatikan, tak hanya dia yang pernah mengunggah konten serupa. Prank nampaknya menjadi salah satu ide konten andalan. Mudah menarik penonton, kemungkinan besar akan disukai banyak orang dan akhirnya menggiring mereka untuk meng-subscribe. Inilah yang dicari, popularitas dan follower yang banyak. Tak peduli isinya hanya mengekor atau berakibat fatal, siapa peduli?
Masih ingat kasus sembako sampah yang dilakukan Ferdian Paleka? Youtuber muda ini membagikan “bingkisan” kepada para waria di sebuah jalan di Bandung. Setelah dibuka, isinya ternyata sampah, yang salah satu pelapor sebutkan berisi tauge busuk dan batu-batu. Ironisnya, Ferdian mengaku itu hanya prank yang diunggah untuk konten YouTube-nya. Walaupun sempat ditangkap dan ditahan, Ferdian dan teman-temannya itu akhirnya dibebaskan.

Awal Mula Prank
Jika ditelusuri, prank mulai ada di barat sana sejak tahun 70-an dalam bentuk prank call atau crank call, dilakukan dengan menelepon seseorang dengan maksud mengerjai. Yang ditelepon bisa publik figur baik selebriti dan tokoh-tokoh penting  atau nonselebriti. Di Indonesia, konsep ini diadopsi oleh sebuah radio swasta kemudian dibuat program TV-nya dengan konsep serupa bernama Ups Salah. Bertahan cukup lama, program ini berhasil mengerjai banyak orang juga selebriti hingga tak jarang mereka menangis dan marah. Saat itulah para kru akan keluar dari tempat persembunyian mereka dan menghampiri korban sambil berseru “Ups, salah!”
Sementara di televisi, program TV berkonsep prank yang cukup digemari dibuat oleh MTV dan Aston Kutcher sebagai host. Program bernama Punk’d itu awalnya hanya menyasar orang umum. Namun candaan mereka membuat salah satu korban tak terima hingga mereka dituntut ke pengadilan. Konsep program kemudian berubah, mengerjai selebriti sementara host akan mengawasi melalui layar di satu tempat tersembunyi. Saat target mulai marah, kesal dan bingung, host akan muncul menghampiri sambil berseru, “You got punked!”
Entah siapa yang memulai, prank kemudian mulai mengisi konten-konten YouTube para selebriti atau YouTuber dengan banyak pengikut. Bentuk prank bisa bermacam-macam dengan “korban” beragam.  Umumnya mengerjai orang-orang terdekat seperti anak, asisten, manager, bahkan orang tua. Ada pula yang mengerjai namun dengan maksud memberi kejutan misalnya memesan makanan melalui aplikasi, pura-pura tak memesan dan menolak membayar hingga pengantar bingung dan kesal. Saat itulah pelaku prank memberitahu ia hanya berpura-pura, membayar dan memberi uang lebih, bahkan memberikan makanan yang dipesan kepada pengantar.
Aksi kejahilan ini juga merambah televisi kita. Setelah prank call ala program Ups Salah tak lagi tayang, Tim Kreatif program-program Tv mulai melakukan aksi prank yang “dikemas” lebih serius. Ada yang bahkan  bekerja sama dengan pihak kepolisian, berpura-pura menginspeksi tas para pemain dan menuduh salah satu dari mereka sebagai pemakai narkoba!. Padahal sebelumnya, bubuk yang sebenarnya garam itu memang telah dimasukkan ke tas yang bersangkutan. Aksi ini bahkan dilakukan saat program tayang secara live.

Cuma Bercanda?
Walaupun dimaksudkan sebagai bentuk candaan, mengerjai  dan sekedar lucu-lucuan, menurut saya prank jadi condong pada sebuah kebohongan bahkan banyak yang lepas kontrol tanpa memikirkan akibatnya. Yang penting menghibur, tak peduli walaupun korban yang dikerjai sedih, kaget, marah atau sampai pucat pasi.
Tapi, pernahkah terpikir akibat aksi itu pada korban? Maksudnya hanya bergurau kalau “kamu bukan anak mama papa”. Namun saat si anak sudah merasa terpukul dan sedih, sejurus kemudian orang tuanya bilang, “cuma prank”. Pernahkah terpikir bagaimana perasaan si anak dikerjai seperti itu? Belum lagi anak akan berpikir kalau membohongi dengan maksud bercanda adalah syah-syah saja.
Saya pernah menonton konten YouTube seorang selebriti yang bermaksud menge-prank anaknya, mengabarkan kalau anaknya itu hanya anak pungut. Lucunya si anak tak percaya bahkan berkata, “Papa mama kan selama ini dikenal suka nge-prank. Aku nggak percaya, Jangan-jangan ini juga cuma prank.”  Saya membayangkan, betapa tak berwibawanya orang tua jika sudah dicap anak seperti itu. Bahkan ketika kita nampak serius dan berbicara hal yang juga serius, anak sendiri tak percaya karena menganggap itu hanya prank atau candaan!
Ketika aksi kejahilan ini diunggah ke sosial media atau televisi dan ditonton banyak orang, siapa menjamin kalau tak ada anak-anak dan remaja yang menontonnya? Ini malah menjadi inspirasi keburukan bagi mereka, menganggap kalau mengerjai atau membohongi siapapun tidak masalah. Tercatat aksi-aksi prank yang dilakukan masyarakat umum, tentunya karena terinspirasi oleh apa yang mereka lihat di media.  Seorang wanita di Bone Makasar misalnya berpura-pura sesak nafas dan kejang-kejang, mengaku terkena covid 19. Karuan saja para tenaga medis di rumah sakit panik. Belakangan, wanita itu mengaku kalau itu hanya prank!. Malang, akibat perbuatannya mengerjai orang itu, ia harus berurusan dengan polisi. Kalau sudah begini, apakah masih bisa disebut bercanda dan menghibur?

Tidak Kebablasan
Walaupun hanya bermaksud untuk bercanda, hendaknya konten prank tidak kebablasan. Hindari ide prank yang terkesan menghina, melecehkan, merendahkan atau menakuti. Bahkan jika bisa, lebih baik cari saja ide konten yang lebih kreatif dan bermanfaat. Jangan sekedar mencari jempol dan pengikut karena apapun yang kita lakukan tentu harus bisa kita pertanggungjawabkan kepada yang Maha Kuasa.
Lebih jauh lagi, pelaku dan media yang melakukan aksi ini sebenarnya tengah membangun budaya gemar dibohongi dalam masyarakat lalu menganggapnya sebagai hiburan semata. Tahu bahwa itu bohong, tapi kita malah menikmati bahkan memberi like dan subscribe.
Saya yakin, prank bukan satu-satunya ide konten yang bisa menarik penonton dan disukai. Banyak YouTuber yang digemari karena konten positif mereka bukan semata karena sensasi apalagi aksi jahil semata. Jika pun hendak memberi kejutan positif, apakah harus selalu didahului aksi prank?