Selasa, 03 Februari 2026

Kalau Buku Punya Kasta

 

Berawal dari sebuah postingan yang menganggap, pembaca buku- buku fiksi itu lebih "rendah" dibandingkan dengan pembaca buku-buku nonfiksi. Mereka memandang sebelah mata pada para pembaca novel, "Kalau baca tuh bagusnya buku-buku nonfiksi kayak buku self improvement " Intinya sih, buku-buku fiksi itu terlalu “ringan” dan yang dianggap buku real adalah buku-buku nonfiksi yang “berat”.

Postingan ini langsung mengundang banyak komentar para book lovers, mempertanyakan kriteria apa yang dipakai hingga bisa mengkotak-kotakkan buku ke dalam “berat” dan “ringan”. Kenapa harus ada anggapan kalau buku filsafat misalnya lebih tinggi ‘derajat”nya dibandingkan buku sastra. Buku jadi punya kasta hingga pembaca genre buku tertentu mendadak harus merasa minder ketika berhadapan pembaca genre buku lainnya.

Fiksi dan Nonfiksi

Saya suka membaca sejak kecil. Tak terbatas buku tapi juga majalah dan koran. Jujur saja, saya nggak pernah mengkotak-kotakkan bacaan karena saya merasa semuanya bisa memuaskan hobi dan keingintahuan saya. Tapi semakin dewasa, preferensi bacaan saya mulai terlihat. Saya cenderung lebih banyak membaca dan membeli buku-buku nonfiksi. Bukan karena merasa lebih keren tetapi mungkin karena ekspose bacaan saya lebih banyak majalah, tabloid atau koran yang dilanggani orang tua sejak saya kecil. Akses ke buku sangat terbatas, mungkin karena kami tinggal di kota kecil. Toko buku baru ada saat saya SMP, itu pun dengan harga yang bagi kami tidak affordable.

Ketika sudah kuliah dan bekerja, punya uang saku dan gaji yang lumayan ada lebihnya untuk memuaskan hobi baca saya, baru lah saya mampu membeli buku-buku. Tapi sangat jarang saya membeli dan membaca novel. Buku-buku fiksi saya hanya komik, Trio Detektif dan buku-buku karya Enid Blyton. Itu pun kebanyakan saya pinjam dari persewaan. Koleksi buku nonfiksi saya lebih menumpuk, kebanyakan seputar biografi, sejarah dan tema sosial budaya. Saya sempat anti dengan novel apalagi genre romantic atau metropop karena menurut saya, temanya kadang terlalu cheesy.

Tapi satu kali ketika saya bergabung dalam satu grup kepenulisan dan mendapat tugas membuat beberapa jenis tulisan, saya mentok saat diminta membuat cerita fiksi. Saya seperti kehilangan kata-kata, ide saya mampet dan kayak nggak punya cukup referensi di otak saya. Saya tahu jawabannya, karena saya minim membaca buku-buku fiksi. Sejak itu, kalau membeli buku, saya menargetkan membeli 1 buku fiksi dan 1 buku nonfiksi. Tujuan awalnya, menambah perbendaharaan kata dulu.

Tapi kemudian, saya menemukan banyak hal setelah membaca buku-buku fiksi. Novel karya penulis tertentu nggak bisa dibilang “ringan” karena mereka menulisnya dengan riset tak main-main. Bahkan seorang penulis pernah membongkar apa saja yang ia baca saat menulis salah satu novelnya. Saya hitung tak kurang dari 10 buku dan itu bukan buku “ecek-ecek”. Pantas lah saat membacanya kita jadi merasa ikut “kaya”.

Sumber: threads

Menabung Data

Kalaupun dulu saya lebih banyak membaca buku-buku nonfiksi, tak pernah sekalipun saya memandang pembaca novel atau buku-buku fiksi lain itu cheesy atau lebih nggak asyik dari saya. Membaca sebagaimana hobi lainnya adalah soal selera. Kita bisa larut dan tenggelam saat membaca satu buku genre tertentu tapi mungkin biasa saja saat membaca satu buku dengan genre berbeda padahal teman kita bisa begitu terlenanya. Sampai sekarang misalnya, saya nggak terlalu tune in membaca buku-buku self improvement yang best seller sekalipun. Mungkin karena yang saya baca versi terjemahan dan saya kurang sreg membacanya. Entahlah. Sebaliknya, saya suka membaca buku-buku sejarah, atau sekarang saya lagi suka baca novel berlatar sejarah juga.

Buku dan bacaan apapun menurut saya selalu bisa memberikan insight. Efek dan manfaatnya mungkin tak selalu bisa terlihat dan dirasakan langsung tapi merupakan akumulasi dari semua asupan pengetahuan yang diperoleh dari aktivitas membaca itu. Saya sendiri merasa, membaca punya andil dalam membentuk kemampuan saya berpikir sistematis, menuangkan ide-ide, menambah perbendaharaan kata, mengasah otak… Seperti “menabung” data dalam “chip” otak kita, kita tak tahu kapan data itu perlu kita keluarkan. Tapi satu kali ketika memerlukannya, kita bisa “memanggil” data tersimpan itu dan mengoneksikannya dengan data-data lain yang baru atau sedang muncul.

Di era digital ini, saya juga merasa membaca bisa melatih fokus. Jujur saya sempat kehilangan keasyikan membaca banyak buku karena terlalu larut dengan pekerjaan dan keriuhrendahan media sosial. Tapi saya merasa otak saya menumpul, hingga saya bertekad memaksa diri untuk meluangkan waktu membaca lebih banyak lagi.

Ada satu postingan di threads yang cukup nendang: “Baca apapun. Di era pembusukan otak karena medsos/content platform, kemampuan fokus membaca buku ada superpower already” . Atau kata J.S Khairen: “Bacalah minimal 2 buku setiap bulan. 1 buku fiksi untuk vitamin hati dan 1 buku nonfiksi untuk gizi otak.” Saya ikut mengiyakan tanpa harus melihat lagi “kasta” buku yang sedang saya baca saat ini.

Minggu, 01 Februari 2026

Idol I - Ketika Fangirl Membela Idolanya


Kisah seorang pengacara yang idolanya dituduh melakukan pembunuhan. Apakah ia berhasil membuktikan kalau bias-nya itu tak bersalah atau malah menjadi bumerang bagi karirnya sendiri?

imdb.com

          Idol I bercerita tentang Maeng Se Na (Choi Soo Young) seorang pengacara workaholic yang dalam keseharian dikenal kaku dan serius namun andal menangani dan memenangkan kasus-kasus besar. Ia dijuluki lawyer of villain karena mampu memenangkan kasus yang bahkan dihindari oleh banyak pengacara. Tak ada yang mengira kalau Se Na punya sisi lain. Diam-diam, ia mengidolakan sebuah grup musik Gold Boys terutama vokalis utamanya Do La-Ik (Kim Jae Young) sejak remaja. Sebagaimana seorang fangirl, Se Na mengikuti segala hal tentang idolanya itu: mengoleksi merchandise, mengikuti setiap konsernya, menjadi anggota fans club bahkan membeli semua produk yang dibintanginya. 

        Ketika Do La-Ik dituduh melakukan pembunuhan terhadap Kang Woo Soeng (Ahn Woo Yeon) teman satu grupnya, Se Na mengajukan diri sebagai pengacara. Selain karena ingin membela idolanya itu, Se Na punya alasan pribadi yang berhubungan dengan masa lalunya. Bukan pilihan mudah karena ia harus menghadapi tekanan publik termasuk jaksa Kwak Byung Gyun (Jung Jae Kwang)  teman SMA nya yang amat berambisi ingin memenangkan perkara itu. Kasus ini membuat hubungan Se Na dan sang idola menjadi dekat dan membuatnya mengenal lebih jauh sisi lain band idolanya itu.


Kehidupan Para Idol

        Idol I mungkin tak semenarik drama lain yang booming seperti Bon Appetit Your Majesty. Dinamika ceritanya kurang terasa, jadi membosankan kata sebagian netizen. Menurut saya, yang membuatnya menarik adalah perpaduan cerita thriller, kasus pembunuhan, dibumbui drama dengan sedikit romantisme. Saya bilang sedikit karena tak banyak adegan yang menunjukkan hubungan intimate antara kedua tokoh utama. Tapi ini membuat cerita terasa wajar dan alamiah. Kita menyaksikan bagaimana perkembangan hubungan mereka, dua individu yang ternyata sama-sama memiliki luka dan trauma masa lalu. Yang satu sebagai warga biasa, yang satu sebagai orang biasa plus perannya sebagai idol. 

        Kalau kita punya idola juga, cerita ini bisa jadi lebih relate sekaligus membuat tersadar. Betapa mungkin, kehidupan idola kita yang nampak tanpa cela di layar kaca atau di panggung itu bukanlah real apa adanya. Banyak hal yang sebenarnya sedang mereka alami. Tapi demi karir, fans dan bisnis agensi tempat mereka bernaung, mereka harus menyembunyikan sisi sesungguhnya mereka itu.

        Ada beberapa kata-kata La -Ik yang membuat tercenung. Misalnya ketika ia bilang: "Aku terbiasa memakai topeng di hadapan orang banyak. Lama-lama, aku takut menampilkan siapa diriku. Aku selalu merasa, mereka menyukaiku karena topengku ini." Atau ketika ia bertanya kepada mantan kekasihnya: " Apakah pernah kamu mencintaiku saat aku tak memakai topengku, tapi sebagai diriku sendiri?" . Dalam satu adegan saat menikmati malam bersama Se Na, La Ik mengatakan kalau sebelumnya ia nyaris tak pernah keluar rumah: "Karena aku ingin nampak sempurna. Aku takut orang melihatku  apa adanya."

        Ketika Se Na muncul dan menjadi pendukung sekaligus pembela satu-satunya, La Ik merasa menemukan kembali sisi humanisnya. Ia merasa dihargai dan disukai sebagai La Ik bukan sebagai La Ik Gold Boys. Ada sih yang berkomentar kalau kedekatan klien dan pengacara yang ditampilkan di drama ini sebetulnya melanggar etika profesi. Belum lagi hubungan antara fangirl dan idolanya kemudian berkembang menjadi hubungan pribadi. Katanya terlalu halu.. haha..  Tapi menurut saya, itu soal selera tontonan saja.  

      Lalu, siapakah pembunuh sebenarnya? Ini lah yang membuat saya betah menonton sampai akhir karena penasaran. Beberapa orang nampak mencurigakan dan potensial menjadi tersangka tapi benarkah salah satu dari mereka adalah pembunuh sebenarnya? Mendingan tonton sendiri aja ya hehe... Tayang di NetFlix dan Vidio.

Kamis, 08 Januari 2026

Cerita Seputar PPG

 

Tahun 2025 lalu, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). Sebelumnya, saya sudah pernah melihat dan mendengar cerita teman-teman kerja saya tentang kegiatan ini. Tapi mendengar cerita dari orang lain dan mengalami sendiri tentunya sangat berbeda. Ini saya share pengalaman selama PPG kemarin plus beberapa tips-nya. Semoga bermanfaat.. !

Persiapan Waktu dan Biaya

Ini mutlak perlu karena banyak hal yang harus disiapkan sebagai syarat mengikuti PPG. Misalnya, materai saja butuh beberapa, fotocopy, cetak foto termasuk ongkos atau uang bensin jika memakai kendaraan. Begitu pun waktu. Memang kita sudah lebih dimudahkan karena sekarang pengumpulan dokumentasi bisa melalui aplikasi. Tapi ada beberapa yang perlu kita siapkan dengan mendatangi langsung misalnya mengambil Surat Kelakuan Baik (SKCK), melakukan foto di studio foto dsb.

Persiapan Kuota

Ini bisa dimasukkan ke biaya sih, ya. Tapi saya buat spesifik karena memang kebutuhan kuota internet sangat diperlukan mengingat kegiatan-kegiatan selama PPG biasanya dilakukan secara daring termasuk untuk akses Ruang GTK dan pengumpulan tugas-tugas.  Pengarahan yang dilakukan LPTK yang ditunjuk juga dilakukan melalui zoom dan durasinya bisa berjam-jam. Bersyukur jika kita tinggal di tempat yang relatif tidak ada masalah dengan sinyal. Banyak teman saya di batch yang sama mengalami kendala sinyal karena tinggal di tempat terpencil hingga sinyal mudah hilang, belum lagi kendala mati lampu. Akhirnya, kabar-kabar dari LPTK atau pengawas ujian seringkali di-respons lambat. 

Persiapan Kesabaran

Kegiatan PPG saat ini berlangsung selama 2-3 bulan bahkan tahun kemarin ada yang sekitar sebulan lebih saja. Sementara, kegiatan kita tak hanya mengikuti PPG tapi mungkin harus jumpalitan antara aktivitas mengajar, kegiatan sekolah dan kegiatan pribadi kita sendiri. Ada kalanya, terjadi kendala dalam kegiatan-kegiatan itu termasuk dalam kegiatan PPG sendiri. Saya misalnya sempat tak bisa mengunggah tugas di Ruang GTK via handphone. Sempat tertunda beberapa hari, akhirnya setelah bertanya sana-sini, saya unggah via laptop. Alhamdulillah berhasil.

Kesabaran paling banyak mungkin harus disiapkan saat pembuatan video Uji Kinerja (Ukin). Selain harus menyiapkan waktu, kita pun harus bersabar saat proses editing agar video yang durasinya 70 menitan itu hanya tinggal 30 menitan saja. Itu pun masih harus disesuaikan dengan Rancangan Pembelajaran (RPP) yang kita buat.

Persiapan Do’a

Tak ada keberhasilan tanpa izin Allah. Selancar apapun tampaknya, jangan lupa untuk selalu menggantungkan hasilnya kepada yang Maha Kuasa. Tentunya setelah didahului usaha maksimal ya..

Selain hal-hal di atas, ada tips-tips lain yang ingin saya share berikut:

1.    Baca dengan teliti ketentuan foto yang harus diunggah sebagai syarat mengikuti PPG karena berbeda LPTK (Lembaga Kependidikan Tenaga Kependidikan) , berbeda juga syarat fotonya. Misalnya, di universitas yang menjadi tempat saya melaksanakan PPG, peserta harus mengenakan dasi tapi di LPTK lain tidak perlu mengenakan dasi.

2.    Lebihkan mencetak foto dari syarat yang ditentukan LPTK. Maksudnya agar kita nggak perlu bolak-balik cetak lagi karena kita akan membutuhkan lagi foto untuk kartu ujian misalnya.

3.    Banyak bertanya jika ada kesulitan. Saya termasuk orang yang tidak telaten mencari informasi di internet seperti TikTok -yang memang tidak saya punya akunnya-. Jadi saya sangat mengandalkan info dari teman atau dari media sosial lain. Ada kalanya, kita sudah bertanya pun, tak ada yang tahu solusinya. Kalau ini, saya pernah langsung menelepon pihak terkait yang paling memungkinkan tahu solusinya misalnya Diknas setempat.

4.    Jika memungkinkan, pengambilan video Ukin dilakukan jauh sebelum waktu deadline. Jadi jika ternyata kurang memuaskan, gagal tidak terekam atau kendala lainnya, kita masih punya waktu untuk mengambil video lagi. Selain itu, kita pun harus memperkirakan waktu editing yang juga tidak sebentar.

5.    Sebelum melakukan ujian UKPPG, usahakan mengikuti try out untuk mengetahui tipe soalnya. Berlatih menuliskan soal uji kasus juga sangat membantu.

6.    Pastikan video dan RPP Ukin kita bisa dibuka. Video yang tidak bisa dibuka adalah salah satu hal yang membuat peserta tidak lulus.

7.    Persiapkan kuota yang banyak untuk Ujian. Pengawas saya menyarankan minimal 10 GB. Setelah dijalani, ujian ini memang butuh waktu cukup lama karena terhitung sejak persiapan seperti pengecekan dokumen kita.

 


Minggu, 30 November 2025

When The Sky Is Blooming, Cerita Romansa Rasa Drama Korea

 

Setelah sukses dengan novel tetralogi 4 musim-nya, Ilana Tan kembali menerbitkan karya baru When The Sky Is Blooming. Menariknya, novel ini menampilkan tokoh, latar dan jalan cerita yang Korea banget namun tetap dengan romansa khas Ilana. 

Alkisah Min So-Ra, seorang artis yang tak terlalu terkenal dari agensi H-Entertainment tiba-tiba menjadi bahan perbincangan banyak orang setelah fotonya bersama seorang aktor yang tengah naik daun, Cha Wu-Hyeok, tersebar di internet. Namanya menempati peringkat atas di mesin pencari dan menjadi sasaran komentar para fans Cha Wu Hyeok yang tak suka So-Ra berpacaran dengan idolanya. Sebenarnya, So-Ra dan Wu-Hyeok hanya teman biasa. Namun kebetulan saja mereka kepergok pulang bersama setelah makan malam sehabis syuting.

Nama So-Ra yang mendadak trending itu menguntungkan seorang pria, Ryu Jun, yang telah lama mencari-cari So-Ra. Ryu Jun adalah orang yang dulu pernah mengenal So-Ra dan keluarganya. Jun dan So-Ra ternyata telah didaftarkan menikah oleh almarhum orangtua mereka saat keduanya masih berusia belasan. Jun ingin menyelesaikan urusan "pernikahan" nya dengan So-Ra dan berharap setelah itu mereka dapat kembali melanjutkan hidup tanpa sangkut paut masa lalu itu. Namun ternyata, semua berjalan tak sesuai dengan apa yang mereka perkirakan sebelumnya. Jun dan So-Ra harus mecoba tinggal bersama selama 3 bulan lamanya dan membiasakan diri sebagai pasangan suami istri sesungguhnya.



Drakor Vibes

Membaca novel ini sangat terasa vibes drakor-nya. Intrik, konflik dan romansa antar tokoh mengingatkan kita pada cerita khas negeri Ginseng itu. Ilana nampaknya ingin memanfaatkan atensi pembaca sekaligus penyuka drama Korea agar tertarik membaca novel barunya. Namun sebagai penonton drakor juga, saya merasa kalau cerita novel ini kurang greget.

Pertama, kurang ada suspense dalam cerita ini.  Suspense bisa berupa konflik, intrik atau apa lah yang membuat pembaca merasa greget, gemas, sedih, takut , gembira dan sebagainya. Jadi kita merasa ada tarikan yang membuat kita mau membaca sampai akhir. Suspense yang diselipkan di novel ini hanyalah kemunculan seorang misterius yang datang ke apartemen So-Ra dan membuat masalah, kiriman pesan-pesan intimidatif tanpa nama yang mengganggu So-Ra, atau kemunculan tokoh ketiga dalam hubungan Jun dan So-Ra, yang diam-diam menyukai Jun sejak lama. Ini juga terasa seperti tempelan saja karena masalahnya nampak begitu mudah diselesaikan ketika cerita sudah menjelang bab terakhir.

Kedua, chemistry antar tokoh utama juga terasa kurang. Tepatnya, Ilana kurang bisa secara kuat menjalin hubungan keduanya hingga pembaca percaya, mereka memang pantas disandingkan sebagai pasangan di akhir cerita. Momen-momen yang seharusnya dapat menciptakan romantisme menggemaskan ala drakor juga terasa datar saja. Misalnya, ketika Jun mengejutkan So-Ra dengan kedatangannya ke tempat syuting padahal ia seorang Wakil Direktur yang pastinya sangat sibuk. Setelah itu, keduanya menikmati makan bersama di sebuah café lokal. Saya berharap dialog antar keduanya bisa terasa lebih dalam dan intim. Tapi ternyata, harapan saya untuk mendapatkan sedikit percikan kejutan tidak kesampaian. Saya membayangkan, kalau adegan itu divisualisasikan dalam sebuah drama, apakah akan se-lempeng itu juga kah? Saya jadi merasa, karakter So-Ra dan Ryu Jun yang agak tak terlalu ekspresif itu karena penulisnya orang Indonesia yang masih menjaga etika dan tata krama. 

Ketiga, tokoh-tokoh yang dimunculkan di sekitar tokoh utama, sebenarnya bisa dibuat lebih “hidup” dan “menyumbang” penarik cerita, Saya berharap Cha Wu-Hyeok, aktor tampan yang sudah mengenal So-Ra sejak sebelum terkenal dan diam-diam menyukai So-Ra bisa menjadi “nyamuk” menyebalkan dalam hubungan Jun dan So-Ra haha.. atau membuat So-Ra bimbang misalnya memilih Jun atau sahabat gantengnya itu. Tapi So-Ra nampak terlalu lurus. Suka ke Wu-Hyeok tidak tapi ke Jun pun tidak terlalu nampak rasa suka-nya.  

Drakor-oriented

Memang jadinya sebagai pembaca sekaligus penonton drakor-walaupun bukan penonton setia, saya jadi memiliki pra-referensi yang membuat saya mau tak mau membandingkan novel ini dengan drakor-drakor yang pernah saya tonton. Ya karena Ilana menggunakan ramuan ala drakor jadi lah pembaca membuat bandingan dan punya harapan kalau cerita novel ini bisa mirip dengan cerita drakor pada umumnya.  Kalau pun ternyata tak sesuai bayangan, sebenarnya tak masalah. Ini lah novel Indonesia dengan vibes drama Korea ala Ilana Tan. Still worth to read anyway..

Kamis, 30 Oktober 2025

Romantics Anonymous : Drama Ringan dan Manis

 

www.cineparenting.com

      Mungkin bukan pertama kalinya Jepang dan Korea “mengawinkan” aktornya untuk main dalam satu produksi drama. Pada 2002, pernah ditayangkan sebuah serial TV, Friends, yang dibintangi Won Bin -dari Korea dan Kyoko Fukada – dari Jepang yang sukses besar.  Tahun ini, Netflix meluncurkan sebuah drama 8 episode, Romantics Anonymous, yang menampilkan 2 bintang utama dari 2 negara Asia ini. 

Romantics Anonymous sebenarnya merupakan adaptasi dari sebuah film komedi romantis Prancis tahun 2010 berjudul  Les Émotifs Anonymes yang dibintangi artis Prancis dan Belgia. Menariknya, jika dulu Friends menampilkan dialog pemain dengan bahasa masing-masing, di drama ini pemain utama wanita yang berasal dari Korea full menggunakan Bahasa Jepang!

www.theblossomreview.com

Dua Trauma

Setelah kematian ibunya, Han Hyo-Joo (Lee Hana) menghindari kontak sosial dengan siapa pun. Setiap kali ia menatap orang lain atau sebaliknya, ia merasa sangat tidak nyaman, bahkan sampai sesak nafas. Sebenarnya, Hana seorang ahli membuat coklat. Diam-diam, ia menyuplai coklat ke sebuah toko coklat eksklusif Le- Sauveur, milik Chef Kenji, satu-satunya orang yang tahu rahasianya dan menjadi temannya selama di Jepang. Oguri Shun (Sosuke Fujiwara) juga mengalami fobia sosial yang hampir serupa : ia tak dapat bersentuhan dengan siapa pun karena trauma di masa kecilnya. Ketika perusahaan coklat ayahnya meng-akuisisi toko Le-Sauveur, Sosuke menjadi manager di toko tersebut dan membawanya bertemu pertama kali dengan Lee Hana.

Dalam sebuah insiden, Sosuke tak sengaja menyentuh Hana dan Hana menatap Sosuke. Ajaibnya, mereka tak mengalami masalah apa pun. Dari kejadian itu, mereka berpikir, mungkin mereka bisa memiliki partner latihan menatap dan bersentuhan tanpa harus mengkhawatirkan apa pun seperti yang mereka alami jika dilakukan dengan orang lain.

Dua Cinta Dewasa

Kalau kamu penyuka drama sat-set tanpa banyak adegan cheesy, drama ini bisa jadi pilihan. Kisah 2 orang di usia matang yang sama-sama memiliki trauma, tanpa sadar saling menyembuhkan kemudian saling cinta, terasa real, mengalir dan apa adanya. Hyo-Joo sukses menghidupkan karakter Hana yang tak suka bertatapan, nampak canggung namun bisa sangat ekspresif saat bersama Sosuke. Oguri juga bisa mengimbangi menghidupkan karakter Sosuke yang antisosial, juga nampak canggung, selalu berganti baju walaupun hanya sedikit berkeringat- jika tak sengaja bersentuhan.  Menyaksikan dua aktor senior ini dalam satu frame, tetap terasa chemistry-nya. Padahal mereka hanya bertatapan dan berjabat tangan saja! 😊

Kehadiran second-lead characters yang berperan sebagai Hiro- musisi teman Sosuke dan Irene – psikolog yang menjadi konsultan Hana (dan ternyata terhubung juga ke Sosuke dan Hiro), cukup memberi bumbu pada cerita ini. Irene yang nampak tarik ulur dengan perasaannya terhadap Hiro, ternyata juga pernah mengalami trauma masa lalu. Rasanya seperti menyaksikan dua kisah dalam satu drama dengan cerita dan lika-likunya masing-masing. 

Adegan saat para artisan membuat coklat juga tak kalah menarik dan bikin ngiler. Jika diperhatikan, setiap episodenya membahas satu per satu coklat yang ada dalam Rainbow Pallete-coklat ekslusif aneka varian yang dijual dalam kotak di Le- Sauveur dan cerita di baliknya. Kejutan lain, drama ini mengambil lokasi di Indonesia juga lho dan menampilkan beberapa aktor lokal sebagai cameo. Cameo lain, mumcul di akhir episode, dan ini juga kejutan lainnya!

All in all, Romantics Anonymous is worth to watch. Sambil mengudap makanan ringan, mungkin coklat,  plus segelas minuman manis hangat, ok juga!. Karena drama ini memang seringan dan semanis itu…

 

Sabtu, 02 Agustus 2025

Antara Backstreet Boys, F4 dan Super Junior

 

Backstreet Boys (source:usatoday)


Belakangan,  jagat maya sedang diramaikan dengan comeback-nya para idol sepuh : Backstreet Boys (BB), F4 dan Super Junior (SuJu). Mayoritas generasi milenial pastilah mengenal ke-3 boyband yang berasal dari 3 negara berbeda ini. Di era 90 sampai 2000-an, mereka dikenal seantero jagat dan digilai banyak fans di seluruh dunia termasuk Indonesia. Bagi millennials, kembalinya mereka membawa vibes nostalgia, mengingatkan ke masa muda ketika hidup salah satunya disibukkan dengan mengejar berita tentang para idola, mencari download gratisan lagunya dan yang perempuan meng-halu jadi pasangan salah satu member kesayangan hehe...

Boleh dibilang, kumpulan boyband ini  sebenarnya tak sepenuhnya menghilang. F4 misalnya. Walaupun grupnya bubar pada 2009, namun grup yang terdiri dari Jerry Yan, Vaness Wu, Ken Zhu dan Vic Zhou masih aktif melakukan project pribadi bahkan mereka sempat melakukan reuni pada 2013. BB yang terdiri dari Nick Carter, Brian Littrell, AJ McLean, Kevin Richardson dan Howie Dorough masih suka tampil menyanyi di beragam acara. Terakhir mengeluarkan album pada 2022. SuJu juga masih mengeluarkan album tahun 2019 dan terakhir melakukan tur Super Show pada 2022. Namun tahun ini, secara hampir berbarengan ke-3 grup itu mengumumkan full come back yang diikuti dengan peluncuran album baru dan rencana menggelar konser kembali.

F4 (source: pinterest)




F4 mengawalinya dengan secara mengejutkan muncul bersama di atas panggung dalam konser perayaan 25 tahun band rock Taiwan, Mayday, yang digelar di Taipei Dome pada Sabtu, 12 Juli 2025. Sempat membuat fans sedih karena ingat Barbie Shu tak lagi bisa tampil bersama mereka, F4 dilaporkan sepakat menggelar tur konser di tahun 2026 untuk merayakan ulang tahun ke-25 debutnya. Belum ada kabar kalau mereka akan merilis album baru.

Sementara itu, laman Backstreet Boys.com melansir, untuk merayakan 25 tahun album legendaris "Millennium",  BB  merilis ulang album dalam versi "Millennium 2.0" pada 11 Juli 2025, tepat seperempat abad setelah album aslinya menduduki puncak Billboard 200 selama 10 minggu.  Edisi ulang tahun ini menampilkan versi remaster dari seluruh lagu dalam album asli, ditambah beberapa demo yang belum pernah dirilis serta rekaman live dari tur “Into the Millennium World Tour” tahun 1999-2000. Konser pada Juli lalu itu diberitakan sangat spektakuler dan menampilan visualisasi sempurna, menggandeng koreografer dan direktur kreatif lama mereka, Rich dan Tone Talauega. BB  masih memiliki jadwal konser pada Agustus 2025.

Sedangkan SuJu yang dijuluki The King of Hallyu Wave resmi comeback dengan full album ke-12, Super Junior25, pada 8 Juli 2025. Rilisan ini juga menandai perjalanan karier  group SM Entertainment itu selama 20 tahun di industri musik. Bukan hanya itu, Kim Heechul, salah satu member yang selama ini tidak ikut serta dalam tur Super Show  juga bakal berpartisipasi dalam tur dan aktivitas penuh grupnya, setelah sebelumnya banyak rehat karena cedera kaki. Untuk comeback kali ini, ke-9 member SuJu -Leeteuk, Heechul, Yesung, Shindong, Siwon, Donghae, Eunhyuk, Ryeowook, dan Kyuhyun- telah siap memanjakan ELF-sebutan untuk fans SuJu- dengan lagu baru mereka dan konser dunia, termasuk di Indonesia yang rencananya akan digelar di ICE BSD pada 13 September mendatang.

Super Junior (source:PR)


Fans Veteran

Tentunya, para idol yang dulunya masih boy itu kini telah berubah jadi para pria setengah baya, sebagaimana para fansnya yang kebanyakan sudah berkeluarga dan beranak pinak. Para personil SuJu malah berseloroh kalau grup mereka sepertinya tak lagi pantas menyandang nama Junior karena usia mereka lebih pantas disebut senior. Khusus untuk F4 dan SuJu, para fans bilang mereka seperti tak menua. Mungkin karena pengaruh perawatan dan duit yang banyak jadi wajah mereka malah semakin kinclong haha…

Tak kalah riuh rendah adalah komentar dan seseruan para fans veteran yang tak kalah seru dari para fans muda generasi Z dan Alpha. Menyimaknya seperti “ketemu” teman-teman sebaya yang satu frekuensi walaupun kami hanya bertukar cerita di dunia maya. Soal loyalitas, para fans ini tak perlu diragukan lagi. Untuk konser SuJu misalnya, para ELF yang kebanyakan emak-emak itu rela melakukan war tiket dan pastinya harus merogoh kocek cukup dalam untuk membelinya. Lagu-lagu mereka, sepertinya juga masih hafal di luar kepala hehe... 

Bagi saya, ketiganya juga punya cerita sendiri. BB saya “kenal” sejak album pertama dan klip musiknya diam-diam saya tonton di MTV pagi-pagi buta- karena yang saya tonton itu MTV Asia yang punya perbedaan waktu dengan Indonesia. Merasa paling “dekat” dengan Nick Carter karena seumuran (hihi ketahuan, deh umurnya..) Lagu yang paling disuka, I Want It That Way dan As Long As You Love Me yang koreo-nya ikonik banget, pakai properti kursi. Dulu pernah nyoba ngikutin dan sudah pasti gagal haha..

F4 paling melekat karena saya khatam nonton Meteor Garden 1 dan 2 yang sama-sama mendapuk mereka sebagai bintang utama. Saya dan adik mengikuti berita mereka di majalah dan tabloid, mengikuti lagu-lagunya di TV- dulu belum ada YouTube hehe.. dan membeli kasetnya. Yang belum sih, nonton konsernya waktu mereka tampil di Jakarta.

SuJu yang paling “asing” karena saya tak terlalu suka K-pop. Saya hanya pernah mencari tahu lagu-lagunya karena saya sedang mencari bahan untuk tebak-tebakan lagu dengan murid-murid les saya yang kebanyakan penyuka K-Pop. Di mata saya waktu itu, penampilan mereka terlalu aneh karena style pakaian dan rambutnya yang mirip-mirip Dragon Ball wkwkwk.. Saya surprise ketika tiba-tiba melihat mereka muncul di beranda YouTube dan ternyata masih aktif menyanyi.

Menua, Berkarya

Menyaksikan para idol itu, saya jadi merasa sedikit melankolis.Dulu, mereka masih muda belia, ganteng, tegap dan energik. Tapi usia tak dapat dibohongi. Perawatan dan make-up bisa saja menutupi kerutan dan tampilan fisik mereka yang tak lagi muda. Namun dalam tampilan-tampilan mereka di usia matang di atas panggung, tentunya koreografi yang dulu penuh tenaga, kini harus menyesuaikan dengan usia hehe… Belum lagi, banyak di antaranya yang sudah menikah dan memiliki anak, kecuali SuJu yang mayoritas masih betah melajang.

Waktu berlalu cepat. Banyak grup baru bermunculan yang bisa jadi jauh lebih menarik dan laku secara komersial. Jika kini mereka masih bertahan dan memiliki fans setia tentunya menjadi sebuah prestasi. Tentu karena mereka masih punya karya yang patut diapresiasi dan tak segan bekerja keras untuk menjaga apa yang sudah dicapai. Terbukti, yang suka mereka tak hanya fans veteran tapi juga para fans baru yang mungkin, usianya separuh usia mereka.

Satu lagi. Memori  bisa menjadi perekat abadi antara fans dan para idol band itu. Banyak yang merasa relate saat mereka membawakan lagu tertentu , entah mengingatkan dengan satu peristiwa atau orang istimewa dulu. Tentu saja, sambil mengenang betapa dulu kami pernah muda dan energik seperti mereka.  

 

Kamis, 27 Februari 2025

Belajar Bahasa Di Dunia Maya

Saat belajar apapun tak terbatasi ruang dan waktu, belajar melalui internet bisa menjadi alternatif pilihan, termasuk belajar bahasa asing.

www.theedgemalaysia.com

Jika kita dulu ingin belajar bahasa, step-nya mungkin ada beberapa. Mencari tempat belajar yang sesuai,  baik metode pembelajaran, tutor dan harganya, mendaftar, lalu menyiapkan atau menyesuaikan waktu dengan jadwal yang dimiliki tempat kursus tersebut. Kini, hanya dengan bermodal gadget dan kuota internet, belajar bahasa tetap bisa dilakoni. Lebih praktis dan terjangkau. Pilihannya pun beragam. Mau Jepang, Korea, Arab, Jerman, Prancis sampai Bahasa Italia dan Turki.

wannaspeak.korean misalnya. Akun Instagram ini cukup menarik karena menampilkan konten pembelajaran Bahasa Korea secara aplikatif dengan mengambil cuplikan-cuplikan penggunaan ekspresi tertentu dari drama atau film. Ditampilkan pula huruf Hangul-nya, cara pengucapannya dalam Bahasa Latin, lalu disertakan pula keterangan apakah itu bentuk casual (yang digunakan sehari-hari) atau polite (bentuk formal atau sopan). Akun sejenis adalah tomikorean. Hanya saja, tomi juga menyertakan konten lain seperti penjelasan mengenai perbedaan penggunaan kata tertentu plus menjual buku-buku untuk belajar Bahasa Korea. 

Konten yang juga menarik adalah pembelajaran bahasa Korea di akun koreanfriendhailey. Pemilik akun sekaligus gurunya adalah seorang wanita native Korea yang cantik dan mahir berbahasa Inggris. Penyampaian yang mudah dimengerti menjadi nilai plus untuk akun ini. Selain kosakata, diajarkan pula bagaimana membuat kalimat sederhana dalam Bahasa Korea. Hailey juga memiliki channel YouTube dengan subscriber ratusan ribu. Ia pun membuka kursus online Bahasa Korea melalui zoom. Konten lain yang cukup unik adalah milik Amelia Tantono. Wanita asli Indonesia yang kini tinggal di Seoul ini juga sesekali membahas Bahasa Korea di akun Instagram miliknya. Menariknya, Amel mengemasnya dalam bentuk percakapan atau interaksi langsung dengan penutur asli. Kita seperti melihat role play dengan kondisi real, misalnya mengenai percakapan di kantor atau di telepon. Satu kali, Amel juga pernah mengenalkan aplikasi percakapan dengan penutur asli Korea bernama hilokal. Tetapi, Amel yang juga punya saluran YouTube Amelicano ini memang tak mengkhususkan pada pembelajaran Bahasa Korea karena isi kontennya banyak pula mengenai kesehariannya di negara tersebut.


Tertarik dengan Bahasa Jepang? Akun dan saluran Youtube yang mengajarkan bahasa ini juga banyak bertebaran. Nihongodekita salah satunya. Selain kosakata dan ekspresi yang lazim digunakan,  wanita pemilik akun ini juga mengajarkan langsung bagaimana pengaplikasiannya melalui konten video.  Misalnya, bagaimana melakukan percakapan di bandara dan sebagainya. Menurut saya, di antara konten sejenis, akun dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris ini termasuk yang mudah dimengerti. Konten belajar Bahasa Jepang dengan touch komedi dapat ditemui di akun Instagram yang saya lupa namanya apa haha..  Gaya penyampaian yang teatrikal membuat akun ini disukai dan bisa bikin kita tertawa saat menyimak materinya. Kelebihannya,  akun ini tak hanya mengajarkan bahasa dan namun juga budaya, melalui dialog-dialog yang dimainkan si pemilik konten itu.  Kalau ingin belajar kosakata dari 3 bahasa sekaligus, Korea, Jepang dan Cina, ada akun dearasia_london. Akun ini menampilkan banyak kosakata misalnya nama negara, nama tempat, dan lainnya lain dalam 3 bahasa. Setiap kata diucapkan oleh penutur asli dari ke-3 negara tersebut.

Bagaimana dengan bahasa inggris? Wuah.. akun pembelajaran bahasa ini lebih seabreg sepertinya. Tak hanya dibuat oleh penutur asli namun juga oleh orang-orang lokal Indonesia atau pun lembaga-lembaga penyedia kursus Bahasa Inggris. Salah satu yang saya notice adalah akun sluggish_journey milik seorang wanita Indonesia bernama Ida. Menarik, karena ia banyak mengenalkan kosakata maupun ekpresi-ekspresi yang sering digunakan  dan bermanfaat untuk percakapan sehari-hari. Ida juga mengajarkan padanan kata dalam Bahasa Inggris untuk menerjemahkan suatu kata dalam Bahasa Indonesia. 

Bisakah efektif?

Belajar online memang praktis namun perlu kedisiplinan jika ingin menguasai bahasa tersebut dengan baik. Pertama, materi yang diajarkan di akun-akun Instagram dan sebagian channel biasanya mengenai kosakata dan ekspresi umum yang durasinya tidak terlalu lama. Memang lebih praktis tapi menguasai bahasa tak cukup dengan punya banyak kosakata. Belajar struktur untuk mengetahui penggunaan kosakata itu dalam kalimat juga perlu begitu pula hal-hal lain untuk menunjang penguasaan skill berbahasa. Jika ingin menambah lagi, harus mengikuti materi yang lebih lengkap misalnya di saluran YouTube. Banyak yang menyediakan pembelajaran lengkap seperti , latihan mendengarkan , memahami video dan sebagainya. Kedua, butuh kedisiplinan untuk mempelajari bahasa asing secara autodidak. Perlu waktu khusus untuk menyimak, memahami, dan mempraktekkan materi yang sudah didapat  Beberapa bahasa bahkan memiliki huruf-huruf khusus hingga perlu waktu juga untuk memahami dan mengetahui cara penulisannya. 

Banyak yang berhasil belajar bahasa secara online, banyak pula yang kesulitan dan tetap butuh guru yang mengajarkan secara tatap muka. Kita sendiri yang tahu, kita tipe pembelajar seperti apa. Jika memang hanya untuk mengetahui ilmu dasar bahasa tersebut, nampaknya belajar online bisa menjadi option yang cukup bisa diandalkan.

Senin, 24 Februari 2025

The Most Beautiful Girl In The World : Film Indonesia Rasa Drama Asia

 


Film Indonesia NetFlix terbaru ber-genre romantic comedy. Menampilkan 2 bintang utama dengan kemampuan akting tak diragukan , Reza Rahardian dan Sheila Dara. Apakah filmnya se-cemerlang bintangnya?

Cerita dibuka dengan adegan panggung sebuah reality show "The Most Beautiful Girl In the World" yang dipandu 2 host, Rigen Rakelna dan Indra Jegel. Disebutkan, kalau acara malam itu adalah malam puncak program tersebut, saat seorang pria  lajang akan memilih 1 dari 5 wanita cantik yang masuk ke final untuk menjadi pasangan kencannya. Nampak 3 orang petinggi stasiun televisi yang menayangkan program itu, Reuben Wiraatmadja (Reza Rahardian), Gunadi Wiraatmadja (Bucek Depp) dan Agung Santoso (Indra Birowo) duduk di baris terdepan menyaksikan acara. Tak dinyana, saat mereka diminta menyalami para finalis, sebuah insiden terjadi. Salah satu wanita finalis menampar Reuben. Belakangan, diketahui kalau si wanita adalah pacar Reuben yang tak terima diputuskan beberapa saat sebelumnya.

Cerita kemudian bergulir. Reuben yang katanya playboy punya hubungan tak harmonis dengan ayahnya, Gunadi. Salah satu perdebatan mereka adalah tentang program reality show The Most Beautiful Girl yang menurut Reuben enggak banget. Acaranya settingan dan dibuat hanya demi rating. Gunadi berdalih, walaupun settingan tapi penonton suka dan itu berarti untung besar untuk Win TV stasiun TV mereka. Walaupun sering berdebat, Gunadi tetap berharap putra tunggalnya yang sebenarnya brilian itu bisa menjadi penerusnya mengurusi WinTV. Reuben sendiri sebenarnya tipe idealis yang tidak suka komitmen termasuk untuk menikah karena ia merasa trauma ditinggalkan ibunya tiba-tiba sejak kecil.  Ada pula para karyawan WinTV dan kolega mereka. Salah satu karyawan WinTV, Kiara Clarissa (Sheila Dara) menarik perhatian Reuben karena berani mendebatnya. Kiara yang suka muntah-muntah kalau sedang stres itu sebenarnya bermimpi menjadi produser acara TV dan bisa membeli apartemen impiannya. Itu pula yang membuatnya berusaha bertahan walaupun tak suka dengan bos-nya Reuben.

Masalah muncul saat Gunadi tiba-tiba meninggal. Sahabat sekaligus pengacara keluarga Wiraatmadja mengumumkan isi surat wasiat yang dibuat Gunadi untuk putranya, Reuben. Disebutkan, Reuben akan mewarisi seluruh aset dan kekayaan sang ayah dengan syarat ia harus menikah dulu dengan wanita tercantik di dunia. Reuben yang antimenikah dan lebih suka bermain-main dengan wanita, jelas merasa tak suka. Tapi demi mendapatkan warisan itu, mau tak mau ia harus memutar otak agar bisa segera menemukan wanita tercantik dan menikahinya. Tercetuslah ide untuk mencari pasangan lewat program reality show TV mereka, The Most Beautiful Girl dan Kiara  ditunjuk sebagai produsernya. Dua orang yang sebenarnya suka berseteru ini dipaksa untuk berkomunikasi intens untuk membuat program itu berhasil. Sampai Reuben akhirnya menemukan pemenang yang ia pilih sendiri dan sesuai janjinya harus ia nikahi.

Sebuah peristiwa tak terduga membuat Reuben dan Kiara menjadi dekat. Hingga Reuben menyadari, makna cantik sesungguhnya tak selalu berarti cantik fisik. Apakah ia menemukan itu pada diri Kiara? Bagaimana nasib wanita yang telah telanjur dipilih Reuben dari reality show sebelumnya?

Nuansa Drama Asia

Jujur saja ketika menonton film ini, saya berharap banyak pada 2 bintang utamanya, Reza yang langganan masuk nominasi Piala Citra dan pernah meraih 2 piala, Sheila juga pernah meraih piala tersebut. Ternyata ekspetasi saya tak terpuaskan. Film ini terasa tak terlalu istimewa dan akting keduanya tidak terlalu tereksplore dengan baik.

Ada beberapa bagian cerita yang malah mengingatkan saya pada drama-drama Asia yang pernah saya tonton. Tampilan WinTV dengan semua vibes-nya, mengingatkan saya pada cerita-cerita drakor yang memang tak pernah setengah-setengah menampilkan background cerita hingga nampak sangat nyata. Ketika Reuben dan Kiara tiba-tiba terdampar di sebuah pulau terpencil dan beberapa adegan di dalamnya, membuat saya teringat pada adegan film Hana Yori Dango The Movie. Terdampar berdua dijadikan alasan logis kenapa akhirnya kedua orang ini saling jatuh cinta. Adegan Reuben menonton potongan rekaman video lama saat ibunya masih ada juga terasa familiar. Boleh jadi penulis skenario terinspirasi drama-drama itu atau memang sengaja dibuat begitu agar lebih menarik.

Hal lain, karakter Reuben yang katanya playboy tak terlalu tergambarkan dengan baik.  Hanya ada adegan dia ditampar seorang wanita yang diputuskannya dan kebersamaanya dengan seorang wanita di pub.  Selebihnya tidak ada.  Jadinya, cap playboy itu seperti hanya wacana saja. Tentang keduanya yang yang tiba-tiba terdampar di pulau juga agak membingungkan. Reuben yang biasa hidup nyaman dan berkecukupan mendadak begitu terampil mendirikan tempat berteduh darurat bahkan mencari ikan menggunakan tongkat bambu. 

Terlepas dari itu, film ini menjadi trending no 8 di NetFlix. Kembali ke soal selera ya.. Bisa jadi, orang-orang punya pendapat berbeda dengan saya dan malah menyukainya.

Minggu, 23 Februari 2025

Ramuan Cerita Ala Drama Korea


Drama Korea alias drakor jadi favorit banyak wanita di Indonesia dengan berbagai alasannya. Mulai dari ceritanya yang bisa mengaduk-aduk perasaan, pemainnya yang ganteng dan cantik, aktingnya yang bagus dan sebagainya. Kalau diperhatikan, cerita-cerita  drakor ini memiliki banyak persamaan yang boleh dibilang, klise dan terkesan cheesy. Tapi mungkin itu yang malah membuat drakor digandrungi. "Ramuan" cerita yang jadi resep drama-drama itu di antaranya: 

1. Cinta antara si kaya dan si miskin atau si biasa-biasa aja-- si kaya biasanya pemeran utama laki-lakinya. Profesi paling sering sebagai CEO. Pokoknya si cowok tergolong chaebol alias konglomerat alias sultan yang punya kekuasaan dan pastinya punya duit banyak tak terhingga. Karakter khasnya, si chaebol ini dingin, ngeselin, sombong lalu tetiba ketemu pemeran wanitanya yang punya sifat bertolak belakang dan biasanya berasal dari keluarga biasa saja bahkan jadi karyawannya. Tentu ini nggak selalu ya.. Ada juga yang pakai "ramuan"  lain, misalnya si perempuannya yang kaya  atau keduanya berasal dari kalangan biasa. 

2. Punya second lead-character yang juga kiyowo. Pemilihan second-lead ini kayaknya cukup berperan penting dalam sebuah drama Korea karena mereka juga punya porsi cerita sendiri bahkan bisa menjadi daya tarik drama tersebut. Kadang, justru si second-lead ini yang lebih mencuri hati penonton. Second-lead bisa berperan sebagai sahabat pemeran utama, sekretaris (ini paling sering), atau saudara kandung. Kadang, second-lead ini juga dipasangkan biar jadian, walaupun nggak selalu ya hehe..

3. Punya cerita masa lalu -- Ini juga hampir selalu ada di naskah cerita dan bisa menjadi alasan logis kenapa si pemeran utama punya karakter atau fobia tertentu. Bisa jadi, kisah masa lalu itu ada hubungannya dengan pemeran utama lain atau pemeran penting lainnya dalam cerita. Misalnya, dalam peristiwa lalu itu, si pemeran utama ditolong oleh seseorang yang punya hubungan dengan pemeran utama wanita yang kebetulan disukainya. Skenarionya sih nggak selalu persis begitu tapi kurang lebih sama idenya.

4. Family issues -- Persoalan keluarga hampir selalu menjadi bumbu cerita drama Korea, kadang ada hubungannya dengan cerita masa lalu pemeran utamanya. Sampai saya berpikir apakah memang mayoritas orang Korea mengalami masalah keluarga yang super serius itu, sampai berefek ke kepribadian si tokoh di kemudian hari. Yang umum diangkat misalnya pemeran utamanya dicampakkan orang tua atau mengalami kecelakaan hingga hidup sebatang kara, orang tuanya pemabuk atau suka melakukan kekerasan, tinggal dengan orang tua tunggal, tinggal hanya dengan nenek atau kakeknya dan sebagainya. Tidak seperti di Indonesia, kayaknya kalau di Korea begitu kita kehilangan orang tua, nggak ada yang mau peduli. Apalagi mereka biasanya hanya punya sedikit anak saja. 

5. Momen berdua -- biasanya untuk 2 pemeran utamanya. Yang paling khas, adegan main berdua ke taman bermain. Si cowok yang kaya, menyewa taman itu agar pujaan hatinya bisa puas menikmati seluruh wahana tanpa gangguan. Atau jalan-jalan sambil nyobain makan pinggir jalan, membeli barang-barang random dan semacamnya. Para penonton merasa terhibur melihat sweet moments ala-ala ini sambil menertawakan sikap si pemeran utama yang kaya tadi karena nggak pernah melakukan hal-hal yang nampaknya remeh itu seumur hidupnya. 

6. Surprise... surprise..  --- Pergi ke taman bermain bisa jadi salah satu bentuk kejutan manis yang bikin meleleh. Ramuan lain adalah kejutan sederhana yang tetep bikin meleot karena dilakukan dengan penuh effort apalagi kalau dilakukan chaebol yang biasanya tinggal main perintah. Bentuk surprise-nya, misalnya masangin lampu warna-warni, masak untuk berdua dan sebagainya. 

7. Act of Service  --- yang nampakna sederhana tapi bikin penonton melting. Nampaknya, penulis skenario drama Korea pinter banget mencari dan menciptakan momen dan act yang sederhana tapi manis ini. Misalnya yang udah umum banget, memperbaiki tali sepatu, memasangkan alas kaki, memayungi saat hujan, sampai masangin plester saat si cewek atau cowoknya terluka. Duh.. duh...

Nah..nah... penulis sendiri sampai sebegitu hafalnya adegan-adegan di drakor ya.. Bukan penggemar sih tapi suka menyimak aja hihi... Makanya, mungkin ada detail cerita khas yang terlewat di tulisan ini... Menurutmu?

Senin, 06 Maret 2023

Mari Belajar Di Akademi Pernikahan

 

pict: www.greenrabbitflowers.co.uk

Mungkin sejak setahun belakangan, mulai bermunculan Majelis Taklim yang menawarkan kajian mendalam berseri tentang persiapan pernikahan. Jika diamati, “akademi” penggonjlok para single ini biasanya membahas beberapa materi. Mulai dari tips dan trik memilih calon pasangan hidup, visi misi pernikahan, persiapan ilmu setelah menikah seperti ilmu menyiapkan diri sebagai suami atau istri, hingga ke persiapan finansial dan ilmu  mendidik anak. Pembicara materi-materi ini juga kompeten , beberapa di antaranya sudah banyak dikenal. Calon peserta biasanya diminta membayar sejumlah uang sebagai investasi. Ada yang diadakan online, ada pula yang offline. Beberapa kali saya pun dikirimi panitia kajian sejenis, mengajak untuk ikut serta sekaligus membantu menyebarkan informasi kajian mereka.

Terdorong Untuk Belajar

Kemunculan kajian-kajian pra-nikah ini jarang ada di zaman saya dulu. Kalaupun ada, gebyarnya mungkin tak sesemarak sekarang karena tempat-tempat penyelenggara kajian pun belum terlalu banyak. Obrolan tentang “menikah” saat kuliah atau setelah lulus sekalipun, nampaknya hanya menjadi obrolan diam-diam antar teman dekat saja 😊. Kadang ada rasa malu atau segan saat mengikuti kajian pranikah apalagi jika masih di awal-awal tahun kuliah. Seperti khawatir dicap “kebelet nikah” haha..

Ilmu pranikah biasanya didapat melalui majalah-majalah islam atau buku. Salah satu buku yang meledak di masa saya adalah buku Kupinang Engkau Dengan Hamdallah karya Ustadz Muhammad Faudhil Adzim. Saya ingat saat kuliah dulu ada pula sebuah majalah islam yang membahas tentang pernikahan kira-kira judulnya serupa dengan buku fenomenal itu. Wah… kayaknya hampir semua teman saya – di Rohis Fakultas -membicarakannya. Konon majalah itu laku keras dan majalah nomor itu mendadak sulit didapat di lapak-lapak koran.

Saat kini informasi sudah semakin mudah didapat, kesadaran tentang perlunya membekali diri sebelum menikah juga semakin besar. Kalau dulu generasi lama belajar soal pernikahan langsung dari hasil melihat rumah tangga orang tua dan saudara, kini kita seolah bisa “melongok” langsung pernikahan orang banyak dari media sosial. Baik buruknya pernikahan dari hasil menyimak, mendengar dan menonton ini jadi pembelajaran tidak langsung bagi generasi kini hingga terdorong untuk merasa perlu menyiapkan diri lebih baik lagi sebelum benar-benar menjalaninya sendiri.

 

Tak Melulu Dengan Teori

Adanya kajian-kajian pranikah ini tentunya perlu diapresiasi dan disambut baik. Dalam Islam, pernikahan tak sekedar menyatukan dua insan dalam sebuah lembaga halal. Lebih jauh lagi, menikah adalah ibadah. Menjalaninya tentunya tak cukup hanya bermodal niat, keseriusan apalagi sekedar cinta tapi juga butuh ilmu.

Tak ada salahnya para jomblowan jomblowati mengikuti kajian-kajian ini. Namun menurut saya pada akhirnya saat menjalani pernikahan sesungguhnya kita tak hanya bisa berpegang pada teori. Seperti halnya ilmu-ilmu lain, kadangkala teori menyatakan A namun saat menjalaninya kita harus melakukan B yang bisa jadi tidak pernah terbahas dalam teori yang kita pelajari. Kecuali panduan ilmu syar’I, kadangkala tidak ada teori pasti dalam menjalani sebuah pernikahan. Banyak faktor lain yang membuat kita mampu mengarungi pernikahan itu.

Ilmu yang diperoleh dalam kajian-kajian itu sesungguhnya adalah salah satu modal saja. Selanjutnya, barengi lagi dengan tambahan ilmu-ilmu lain. Banyak bertanya, berdiskusi dengan “senior” juga banyak membantu. Tidak kaku, tidak teoritis namun tidak juga apatis dengan tawaran belajar di kajian-kajian ini.

 

Rabu, 26 Oktober 2022

Bernostalgia Lewat YouTube

Kayaknya bukan rahasia lagi kalau  di YouTube orang bisa menemukan rupa-rupa video bahkan dari tahun jadul sekalipun. Sebagai generasi lama, saya memanfaatkan web ini untuk memuaskan kesukaan saya mendengarkan lagu-lagu lawas yang dulu bahkan tak saya tahu video klipnya. Ini beberapa lagu "temuan" saya..


Lagu lama yang cukup dikenal pada tahun 94-an kalau tidak salah ingat. Waktu itu, Cindy sedang naik daun dengan lagunya yang lain, Aku Sayang Kamu. Tiba-tiba saya mendengar request lagu di radio dari teman sekolah saya. Ya ini lagunya.. Saya langsung suka walaupun sebenarnya lagunya nggak terlalu istimewa sih.. hehe..





Ini lagu yang selalu saya ingat. Saya suka lagu-lagunya Air Supply lalu membaca lirik lagu ini di majalah. Saya coba terjemahkan, kebetulan saya sedang semangat belajar Bahasa Inggris. Liriknya ternyata amat puitis. Sampai-sampai saya tuliskan khusus di buku lagu saya.. So.. memorable..

Dulu hanya pernah mendengar lagu soundtrack film ini di radio. Lalu saat menonton filmnya, Catatan Si Emon, di televisi, saya mendengar lagu ini lagI. Nggak pernah tahu siapa penyanyinya. Eh ternyata yang nyanyi Kris Dayanti masa masih remaja :) dan masih meniti awal karir. Hanya saja, saya itu ia masih menggunakan nama panggung, Dayanthie.





Mohon maaf kalau saya banyak membahas lagu 90-an ya... karena saat itu saya lagi senang-senangnya denger lagu, apalagi kalau lagi galau haha.. Ini salah satu lagu yang saya suka dari Titi DJ dari albumnya yang juga memuat lagu terkenal kala itu, Bintang-Bintang





Ini terhitung lagu paling "baru" yang saya bahas di sini. Terkenal di tahun 2002-an kalau tidak salah ingat. Lagu ini yang melambungkan nama Numata, trio musisi kakak beradik yang ternyata putra-putri penyanyi terkenal zaman dulu, Tety Kadi. Eh.. nggak tahu kenapa kok saya sempat suka sama vokalisnya.. Kayaknya cool gitu haha..