Kisah seorang pengacara yang idolanya dituduh melakukan pembunuhan. Apakah ia berhasil membuktikan kalau bias-nya itu tak bersalah atau malah menjadi bumerang bagi karirnya sendiri?
Idol I bercerita tentang Maeng Se Na (Choi Soo Young) seorang pengacara workaholic yang dalam keseharian dikenal kaku dan serius namun andal menangani dan memenangkan kasus-kasus besar. Ia dijuluki lawyer of villain karena mampu memenangkan kasus yang bahkan dihindari oleh banyak pengacara. Tak ada yang mengira kalau Se Na punya sisi lain. Diam-diam, ia mengidolakan sebuah grup musik Gold Boys terutama vokalis utamanya Do La-Ik (Kim Jae Young) sejak remaja. Sebagaimana seorang fangirl, Se Na mengikuti segala hal tentang idolanya itu: mengoleksi merchandise, mengikuti setiap konsernya, menjadi anggota fans club bahkan membeli semua produk yang dibintanginya.
Ketika Do La-Ik dituduh melakukan pembunuhan terhadap Kang Woo Soeng (Ahn Woo Yeon) teman satu grupnya, Se Na mengajukan diri sebagai pengacara. Selain karena ingin membela idolanya itu, Se Na punya alasan pribadi yang berhubungan dengan masa lalunya. Bukan pilihan mudah karena ia harus menghadapi tekanan publik termasuk jaksa Kwak Byung Gyun (Jung Jae Kwang) teman SMA nya yang amat berambisi ingin memenangkan perkara itu. Kasus ini membuat hubungan Se Na dan sang idola menjadi dekat dan membuatnya mengenal lebih jauh sisi lain band idolanya itu.
Kehidupan Para Idol
Idol I mungkin tak semenarik drama lain yang booming seperti Bon Appetit Your Majesty. Dinamika ceritanya kurang terasa, jadi membosankan kata sebagian netizen. Menurut saya, yang membuatnya menarik adalah perpaduan cerita thriller, kasus pembunuhan, dibumbui drama dengan sedikit romantisme. Saya bilang sedikit karena tak banyak adegan yang menunjukkan hubungan intimate antara kedua tokoh utama. Tapi ini membuat cerita terasa wajar dan alamiah. Kita menyaksikan bagaimana perkembangan hubungan mereka, dua individu yang ternyata sama-sama memiliki luka dan trauma masa lalu. Yang satu sebagai warga biasa, yang satu sebagai orang biasa plus perannya sebagai idol.
Kalau kita punya idola juga, cerita ini bisa jadi lebih relate sekaligus membuat tersadar. Betapa mungkin, kehidupan idola kita yang nampak tanpa cela di layar kaca atau di panggung itu bukanlah real apa adanya. Banyak hal yang sebenarnya sedang mereka alami. Tapi demi karir, fans dan bisnis agensi tempat mereka bernaung, mereka harus menyembunyikan sisi sesungguhnya mereka itu.
Ada beberapa kata-kata La -Ik yang membuat tercenung. Misalnya ketika ia bilang: "Aku terbiasa memakai topeng di hadapan orang banyak. Lama-lama, aku takut menampilkan siapa diriku. Aku selalu merasa, mereka menyukaiku karena topengku ini." Atau ketika ia bertanya kepada mantan kekasihnya: " Apakah pernah kamu mencintaiku saat aku tak memakai topengku, tapi sebagai diriku sendiri?" . Dalam satu adegan saat menikmati malam bersama Se Na, La Ik mengatakan kalau sebelumnya ia nyaris tak pernah keluar rumah: "Karena aku ingin nampak sempurna. Aku takut orang melihatku apa adanya."
Ketika Se Na muncul dan menjadi pendukung sekaligus pembela satu-satunya, La Ik merasa menemukan kembali sisi humanisnya. Ia merasa dihargai dan disukai sebagai La Ik bukan sebagai La Ik Gold Boys. Ada sih yang berkomentar kalau kedekatan klien dan pengacara yang ditampilkan di drama ini sebetulnya melanggar etika profesi. Belum lagi hubungan antara fangirl dan idolanya kemudian berkembang menjadi hubungan pribadi. Katanya terlalu halu.. haha.. Tapi menurut saya, itu soal selera tontonan saja.
Lalu, siapakah pembunuh sebenarnya? Ini lah yang membuat saya betah menonton sampai akhir karena penasaran. Beberapa orang nampak mencurigakan dan potensial menjadi tersangka tapi benarkah salah satu dari mereka adalah pembunuh sebenarnya? Mendingan tonton sendiri aja ya hehe... Tayang di NetFlix dan Vidio.







