Berawal dari sebuah
postingan yang menganggap, pembaca buku- buku fiksi itu lebih
"rendah" dibandingkan dengan pembaca buku-buku nonfiksi. Mereka
memandang sebelah mata pada para pembaca novel, "Kalau baca tuh
bagusnya buku-buku nonfiksi kayak buku self improvement " Intinya sih,
buku-buku fiksi itu terlalu “ringan” dan yang dianggap buku real adalah
buku-buku nonfiksi yang “berat”.
Postingan ini langsung mengundang banyak komentar para book lovers, mempertanyakan kriteria apa yang dipakai hingga bisa mengkotak-kotakkan buku ke dalam “berat” dan “ringan”. Kenapa harus ada anggapan kalau buku filsafat misalnya lebih tinggi ‘derajat”nya dibandingkan buku sastra. Buku jadi punya kasta hingga pembaca genre buku tertentu mendadak harus merasa minder ketika berhadapan pembaca genre buku lainnya.
Fiksi dan
Nonfiksi
Saya suka membaca
sejak kecil. Tak terbatas buku tapi juga majalah dan koran. Jujur saja, saya nggak
pernah mengkotak-kotakkan bacaan karena saya merasa semuanya bisa memuaskan
hobi dan keingintahuan saya. Tapi semakin dewasa, preferensi bacaan saya mulai
terlihat. Saya cenderung lebih banyak membaca dan membeli buku-buku nonfiksi. Bukan
karena merasa lebih keren tetapi mungkin karena ekspose bacaan saya lebih
banyak majalah, tabloid atau koran yang dilanggani orang tua sejak saya kecil.
Akses ke buku sangat terbatas, mungkin karena kami tinggal di kota kecil. Toko
buku baru ada saat saya SMP, itu pun dengan harga yang bagi kami tidak affordable.
Ketika sudah kuliah
dan bekerja, punya uang saku dan gaji yang lumayan ada lebihnya untuk memuaskan
hobi baca saya, baru lah saya mampu membeli buku-buku. Tapi sangat jarang saya
membeli dan membaca novel. Buku-buku fiksi saya hanya komik, Trio Detektif dan
buku-buku karya Enid Blyton. Itu pun kebanyakan saya pinjam dari persewaan. Koleksi
buku nonfiksi saya lebih menumpuk, kebanyakan seputar biografi, sejarah dan
tema sosial budaya. Saya sempat anti dengan novel apalagi genre romantic
atau metropop karena menurut saya, temanya kadang terlalu cheesy.
Tapi satu kali
ketika saya bergabung dalam satu grup kepenulisan dan mendapat tugas membuat
beberapa jenis tulisan, saya mentok saat diminta membuat cerita fiksi. Saya
seperti kehilangan kata-kata, ide saya mampet dan kayak nggak punya
cukup referensi di otak saya. Saya tahu jawabannya, karena saya minim membaca
buku-buku fiksi. Sejak itu, kalau membeli buku, saya menargetkan membeli 1 buku
fiksi dan 1 buku nonfiksi. Tujuan awalnya, menambah perbendaharaan kata dulu.
Tapi kemudian, saya
menemukan banyak hal setelah membaca buku-buku fiksi. Novel karya penulis
tertentu nggak bisa dibilang “ringan” karena mereka menulisnya dengan
riset tak main-main. Bahkan seorang penulis pernah membongkar apa saja yang ia
baca saat menulis salah satu novelnya. Saya hitung tak kurang dari 10 buku dan
itu bukan buku “ecek-ecek”. Pantas lah saat membacanya kita jadi merasa ikut “kaya”.
Menabung Data
Kalaupun dulu saya lebih
banyak membaca buku-buku nonfiksi, tak pernah sekalipun saya memandang pembaca
novel atau buku-buku fiksi lain itu cheesy atau lebih nggak asyik
dari saya. Membaca sebagaimana hobi lainnya adalah soal selera. Kita bisa larut
dan tenggelam saat membaca satu buku genre tertentu tapi mungkin biasa saja
saat membaca satu buku dengan genre berbeda padahal teman kita bisa begitu
terlenanya. Sampai sekarang misalnya, saya nggak terlalu tune in
membaca buku-buku self improvement yang best seller sekalipun.
Mungkin karena yang saya baca versi terjemahan dan saya kurang sreg membacanya.
Entahlah. Sebaliknya, saya suka membaca buku-buku sejarah, atau sekarang saya
lagi suka baca novel berlatar sejarah juga.
Buku dan bacaan
apapun menurut saya selalu bisa memberikan insight. Efek dan manfaatnya
mungkin tak selalu bisa terlihat dan dirasakan langsung tapi merupakan
akumulasi dari semua asupan pengetahuan yang diperoleh dari aktivitas membaca
itu. Saya sendiri merasa, membaca punya andil dalam membentuk kemampuan saya
berpikir sistematis, menuangkan ide-ide, menambah perbendaharaan kata, mengasah
otak… Seperti “menabung” data dalam “chip” otak kita, kita tak tahu
kapan data itu perlu kita keluarkan. Tapi satu kali ketika memerlukannya, kita
bisa “memanggil” data tersimpan itu dan mengoneksikannya dengan data-data lain
yang baru atau sedang muncul.
Di era digital ini,
saya juga merasa membaca bisa melatih fokus. Jujur saya sempat kehilangan
keasyikan membaca banyak buku karena terlalu larut dengan pekerjaan dan
keriuhrendahan media sosial. Tapi saya merasa otak saya menumpul, hingga saya
bertekad memaksa diri untuk meluangkan waktu membaca lebih banyak lagi.
Ada satu postingan
di threads yang cukup nendang: “Baca apapun. Di era pembusukan otak karena
medsos/content platform, kemampuan fokus membaca buku ada superpower already” .
Atau kata J.S Khairen: “Bacalah minimal 2 buku setiap bulan. 1 buku fiksi
untuk vitamin hati dan 1 buku nonfiksi untuk gizi otak.” Saya ikut mengiyakan tanpa harus melihat lagi “kasta”
buku yang sedang saya baca saat ini.







