Selasa, 03 Februari 2026

Kalau Buku Punya Kasta

 

Berawal dari sebuah postingan yang menganggap, pembaca buku- buku fiksi itu lebih "rendah" dibandingkan dengan pembaca buku-buku nonfiksi. Mereka memandang sebelah mata pada para pembaca novel, "Kalau baca tuh bagusnya buku-buku nonfiksi kayak buku self improvement " Intinya sih, buku-buku fiksi itu terlalu “ringan” dan yang dianggap buku real adalah buku-buku nonfiksi yang “berat”.

Postingan ini langsung mengundang banyak komentar para book lovers, mempertanyakan kriteria apa yang dipakai hingga bisa mengkotak-kotakkan buku ke dalam “berat” dan “ringan”. Kenapa harus ada anggapan kalau buku filsafat misalnya lebih tinggi ‘derajat”nya dibandingkan buku sastra. Buku jadi punya kasta hingga pembaca genre buku tertentu mendadak harus merasa minder ketika berhadapan pembaca genre buku lainnya.

Fiksi dan Nonfiksi

Saya suka membaca sejak kecil. Tak terbatas buku tapi juga majalah dan koran. Jujur saja, saya nggak pernah mengkotak-kotakkan bacaan karena saya merasa semuanya bisa memuaskan hobi dan keingintahuan saya. Tapi semakin dewasa, preferensi bacaan saya mulai terlihat. Saya cenderung lebih banyak membaca dan membeli buku-buku nonfiksi. Bukan karena merasa lebih keren tetapi mungkin karena ekspose bacaan saya lebih banyak majalah, tabloid atau koran yang dilanggani orang tua sejak saya kecil. Akses ke buku sangat terbatas, mungkin karena kami tinggal di kota kecil. Toko buku baru ada saat saya SMP, itu pun dengan harga yang bagi kami tidak affordable.

Ketika sudah kuliah dan bekerja, punya uang saku dan gaji yang lumayan ada lebihnya untuk memuaskan hobi baca saya, baru lah saya mampu membeli buku-buku. Tapi sangat jarang saya membeli dan membaca novel. Buku-buku fiksi saya hanya komik, Trio Detektif dan buku-buku karya Enid Blyton. Itu pun kebanyakan saya pinjam dari persewaan. Koleksi buku nonfiksi saya lebih menumpuk, kebanyakan seputar biografi, sejarah dan tema sosial budaya. Saya sempat anti dengan novel apalagi genre romantic atau metropop karena menurut saya, temanya kadang terlalu cheesy.

Tapi satu kali ketika saya bergabung dalam satu grup kepenulisan dan mendapat tugas membuat beberapa jenis tulisan, saya mentok saat diminta membuat cerita fiksi. Saya seperti kehilangan kata-kata, ide saya mampet dan kayak nggak punya cukup referensi di otak saya. Saya tahu jawabannya, karena saya minim membaca buku-buku fiksi. Sejak itu, kalau membeli buku, saya menargetkan membeli 1 buku fiksi dan 1 buku nonfiksi. Tujuan awalnya, menambah perbendaharaan kata dulu.

Tapi kemudian, saya menemukan banyak hal setelah membaca buku-buku fiksi. Novel karya penulis tertentu nggak bisa dibilang “ringan” karena mereka menulisnya dengan riset tak main-main. Bahkan seorang penulis pernah membongkar apa saja yang ia baca saat menulis salah satu novelnya. Saya hitung tak kurang dari 10 buku dan itu bukan buku “ecek-ecek”. Pantas lah saat membacanya kita jadi merasa ikut “kaya”.

Sumber: threads

Menabung Data

Kalaupun dulu saya lebih banyak membaca buku-buku nonfiksi, tak pernah sekalipun saya memandang pembaca novel atau buku-buku fiksi lain itu cheesy atau lebih nggak asyik dari saya. Membaca sebagaimana hobi lainnya adalah soal selera. Kita bisa larut dan tenggelam saat membaca satu buku genre tertentu tapi mungkin biasa saja saat membaca satu buku dengan genre berbeda padahal teman kita bisa begitu terlenanya. Sampai sekarang misalnya, saya nggak terlalu tune in membaca buku-buku self improvement yang best seller sekalipun. Mungkin karena yang saya baca versi terjemahan dan saya kurang sreg membacanya. Entahlah. Sebaliknya, saya suka membaca buku-buku sejarah, atau sekarang saya lagi suka baca novel berlatar sejarah juga.

Buku dan bacaan apapun menurut saya selalu bisa memberikan insight. Efek dan manfaatnya mungkin tak selalu bisa terlihat dan dirasakan langsung tapi merupakan akumulasi dari semua asupan pengetahuan yang diperoleh dari aktivitas membaca itu. Saya sendiri merasa, membaca punya andil dalam membentuk kemampuan saya berpikir sistematis, menuangkan ide-ide, menambah perbendaharaan kata, mengasah otak… Seperti “menabung” data dalam “chip” otak kita, kita tak tahu kapan data itu perlu kita keluarkan. Tapi satu kali ketika memerlukannya, kita bisa “memanggil” data tersimpan itu dan mengoneksikannya dengan data-data lain yang baru atau sedang muncul.

Di era digital ini, saya juga merasa membaca bisa melatih fokus. Jujur saya sempat kehilangan keasyikan membaca banyak buku karena terlalu larut dengan pekerjaan dan keriuhrendahan media sosial. Tapi saya merasa otak saya menumpul, hingga saya bertekad memaksa diri untuk meluangkan waktu membaca lebih banyak lagi.

Ada satu postingan di threads yang cukup nendang: “Baca apapun. Di era pembusukan otak karena medsos/content platform, kemampuan fokus membaca buku ada superpower already” . Atau kata J.S Khairen: “Bacalah minimal 2 buku setiap bulan. 1 buku fiksi untuk vitamin hati dan 1 buku nonfiksi untuk gizi otak.” Saya ikut mengiyakan tanpa harus melihat lagi “kasta” buku yang sedang saya baca saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar