Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Mei 2026

Pas Dengan Utas

 

Saya tergolong selalu terlambat punya akun media sosial. Sebabnya, saya tipe yang harus tahu dulu apa manfaatnya. Nggak mau sekedar FOMO. Makanya, akun Facebook baru saya punya tahun 2012- sekarang sudah nggak saya pakai lagi- dan Instagram tahun 2020-an. Itu pun karena saya ingin tahu info-info kajian yang banyak di-share di akun IG. Selain kedua jenis media sosial itu, saya tak punya yang lain.

Source: Logos-World.net

Sekitar beberapa bulan lalu, saya memutuskan untuk meng-install Threads alias utas yang kontennya sering nongol di IG. Saya penasaran ini platform macam apa karena di cuplikan Threads yang muncul di IG itu, ada potongan isi cerita dari akun tertentu yang bikin kepo. Ternyata saya cukup cocok dengan media sosial ini. Alasannya:

1.   Isi konten kadang random tapi banyak juga yang masih ada “isi” nya. Misalnya konten yang isinya berbagi pengalaman, pendapat, resume podcast yang bermanfaat dari Youtube, sharing buku favorit dsb.

2.  Ada “interaksi” dan “diskusi” . Di Threads, saya merasa kayak punya teman “ngobrol”. Ketika ada yang menyampaikan sesuatu, kita bisa mengomentari, menimpali komentar orang lain atau sebaliknya komentar kita direspons orang lain. Di platform lain mungkin ini juga bisa dilakukan tapi tipikal nya berbeda dan tidak bisa sebanyak dan se-intens di Threads.

3.  Sepengamatan saya, sepertinya banyak juga pengguna utas yang masuk gen milenial ke bawah. Jadi saya kayak relate karena satu zaman haha… Pengalaman yang dibagikan terasa lebih dekat dan nostalgic.

4.     Dapat banyak insight dan pengalaman karena yang di-share di utas bisa lebih panjang dan mendalam. Banyak yang curhat tentang pengalaman berumahtangga, bertetangga, atau berinteraksi dengan orang tua dan saudara. Cerita-cerita itu juga membuat saya banyak bersyukur karena ternyata orang lain pun punya masalah dalam hidupnya-nggak hanya saya 😊- bahkan jauh lebih berat.

5.     Hiburan karena kadang ada akun yang suka melempar jokes atau menyampaikan hal-hal random lainnya. Seperti beberapa hari belakangan, bermunculan akun brand centang biru yang cukup menghibur dengan ke-randoman mereka.

6.   Dapat rekomendasi berguna seperti tempat makan, produk, buku bahkan drama terbaru hehe... Ada beberapa produk yang brand-nya saya tahu dari share di utas dan akhirnya saya beli. Malah ada akun penjual tas, dompet dsb buatan sendiri yang sudah saya beli beberapa produknya.

7.     Threads bukan tempat orang share banyak foto. Kalaupun ada, hanya seperlunya. Saya nggak terlalu suka melihat banyak foto orang apalagi kalau yang di-share kehidupan pribadi.

 

Walaupun begitu, ada juga yang terasa mengganggu seperti munculnya akun-akun yang suka memancing keriuhan dengan melempar isu kontroversial dan sensitif. Awalnya saya berbaik sangka sih mungkin maksudnya nggak begitu tapi ketika diamati akun pelakunya itu-itu saja. Konon tujuannya untuk meningkatkan engangement atau menambah pengikut, entahlah... Setiap orang punya pilihan sendiri terkait pilihan platform media sosial ini. Dipersilahkan.. Balik lagi ke preferensi. Yang penting kita tetap bisa menyaring informasi yang didapat, diambil positifnya, dibuang negatifnya.

 

Selasa, 03 Februari 2026

Kalau Buku Punya Kasta

 

Berawal dari sebuah postingan yang menganggap, pembaca buku- buku fiksi itu lebih "rendah" dibandingkan dengan pembaca buku-buku nonfiksi. Mereka memandang sebelah mata pada para pembaca novel, "Kalau baca tuh bagusnya buku-buku nonfiksi kayak buku self improvement " Intinya sih, buku-buku fiksi itu terlalu “ringan” dan yang dianggap buku real adalah buku-buku nonfiksi yang “berat”.

Postingan ini langsung mengundang banyak komentar para book lovers, mempertanyakan kriteria apa yang dipakai hingga bisa mengkotak-kotakkan buku ke dalam “berat” dan “ringan”. Kenapa harus ada anggapan kalau buku filsafat misalnya lebih tinggi ‘derajat”nya dibandingkan buku sastra. Buku jadi punya kasta hingga pembaca genre buku tertentu mendadak harus merasa minder ketika berhadapan pembaca genre buku lainnya.

Fiksi dan Nonfiksi

Saya suka membaca sejak kecil. Tak terbatas buku tapi juga majalah dan koran. Jujur saja, saya nggak pernah mengkotak-kotakkan bacaan karena saya merasa semuanya bisa memuaskan hobi dan keingintahuan saya. Tapi semakin dewasa, preferensi bacaan saya mulai terlihat. Saya cenderung lebih banyak membaca dan membeli buku-buku nonfiksi. Bukan karena merasa lebih keren tetapi mungkin karena ekspose bacaan saya lebih banyak majalah, tabloid atau koran yang dilanggani orang tua sejak saya kecil. Akses ke buku sangat terbatas, mungkin karena kami tinggal di kota kecil. Toko buku baru ada saat saya SMP, itu pun dengan harga yang bagi kami tidak affordable.

Ketika sudah kuliah dan bekerja, punya uang saku dan gaji yang lumayan ada lebihnya untuk memuaskan hobi baca saya, baru lah saya mampu membeli buku-buku. Tapi sangat jarang saya membeli dan membaca novel. Buku-buku fiksi saya hanya komik, Trio Detektif dan buku-buku karya Enid Blyton. Itu pun kebanyakan saya pinjam dari persewaan. Koleksi buku nonfiksi saya lebih menumpuk, kebanyakan seputar biografi, sejarah dan tema sosial budaya. Saya sempat anti dengan novel apalagi genre romantic atau metropop karena menurut saya, temanya kadang terlalu cheesy.

Tapi satu kali ketika saya bergabung dalam satu grup kepenulisan dan mendapat tugas membuat beberapa jenis tulisan, saya mentok saat diminta membuat cerita fiksi. Saya seperti kehilangan kata-kata, ide saya mampet dan kayak nggak punya cukup referensi di otak saya. Saya tahu jawabannya, karena saya minim membaca buku-buku fiksi. Sejak itu, kalau membeli buku, saya menargetkan membeli 1 buku fiksi dan 1 buku nonfiksi. Tujuan awalnya, menambah perbendaharaan kata dulu.

Tapi kemudian, saya menemukan banyak hal setelah membaca buku-buku fiksi. Novel karya penulis tertentu nggak bisa dibilang “ringan” karena mereka menulisnya dengan riset tak main-main. Bahkan seorang penulis pernah membongkar apa saja yang ia baca saat menulis salah satu novelnya. Saya hitung tak kurang dari 10 buku dan itu bukan buku “ecek-ecek”. Pantas lah saat membacanya kita jadi merasa ikut “kaya”.

Sumber: threads

Menabung Data

Kalaupun dulu saya lebih banyak membaca buku-buku nonfiksi, tak pernah sekalipun saya memandang pembaca novel atau buku-buku fiksi lain itu cheesy atau lebih nggak asyik dari saya. Membaca sebagaimana hobi lainnya adalah soal selera. Kita bisa larut dan tenggelam saat membaca satu buku genre tertentu tapi mungkin biasa saja saat membaca satu buku dengan genre berbeda padahal teman kita bisa begitu terlenanya. Sampai sekarang misalnya, saya nggak terlalu tune in membaca buku-buku self improvement yang best seller sekalipun. Mungkin karena yang saya baca versi terjemahan dan saya kurang sreg membacanya. Entahlah. Sebaliknya, saya suka membaca buku-buku sejarah, atau sekarang saya lagi suka baca novel berlatar sejarah juga.

Buku dan bacaan apapun menurut saya selalu bisa memberikan insight. Efek dan manfaatnya mungkin tak selalu bisa terlihat dan dirasakan langsung tapi merupakan akumulasi dari semua asupan pengetahuan yang diperoleh dari aktivitas membaca itu. Saya sendiri merasa, membaca punya andil dalam membentuk kemampuan saya berpikir sistematis, menuangkan ide-ide, menambah perbendaharaan kata, mengasah otak… Seperti “menabung” data dalam “chip” otak kita, kita tak tahu kapan data itu perlu kita keluarkan. Tapi satu kali ketika memerlukannya, kita bisa “memanggil” data tersimpan itu dan mengoneksikannya dengan data-data lain yang baru atau sedang muncul.

Di era digital ini, saya juga merasa membaca bisa melatih fokus. Jujur saya sempat kehilangan keasyikan membaca banyak buku karena terlalu larut dengan pekerjaan dan keriuhrendahan media sosial. Tapi saya merasa otak saya menumpul, hingga saya bertekad memaksa diri untuk meluangkan waktu membaca lebih banyak lagi.

Ada satu postingan di threads yang cukup nendang: “Baca apapun. Di era pembusukan otak karena medsos/content platform, kemampuan fokus membaca buku ada superpower already” . Atau kata J.S Khairen: “Bacalah minimal 2 buku setiap bulan. 1 buku fiksi untuk vitamin hati dan 1 buku nonfiksi untuk gizi otak.” Saya ikut mengiyakan tanpa harus melihat lagi “kasta” buku yang sedang saya baca saat ini.

Minggu, 30 November 2025

When The Sky Is Blooming, Cerita Romansa Rasa Drama Korea

 

Setelah sukses dengan novel tetralogi 4 musim-nya, Ilana Tan kembali menerbitkan karya baru When The Sky Is Blooming. Menariknya, novel ini menampilkan tokoh, latar dan jalan cerita yang Korea banget namun tetap dengan romansa khas Ilana. 

Alkisah Min So-Ra, seorang artis yang tak terlalu terkenal dari agensi H-Entertainment tiba-tiba menjadi bahan perbincangan banyak orang setelah fotonya bersama seorang aktor yang tengah naik daun, Cha Wu-Hyeok, tersebar di internet. Namanya menempati peringkat atas di mesin pencari dan menjadi sasaran komentar para fans Cha Wu Hyeok yang tak suka So-Ra berpacaran dengan idolanya. Sebenarnya, So-Ra dan Wu-Hyeok hanya teman biasa. Namun kebetulan saja mereka kepergok pulang bersama setelah makan malam sehabis syuting.

Nama So-Ra yang mendadak trending itu menguntungkan seorang pria, Ryu Jun, yang telah lama mencari-cari So-Ra. Ryu Jun adalah orang yang dulu pernah mengenal So-Ra dan keluarganya. Jun dan So-Ra ternyata telah didaftarkan menikah oleh almarhum orangtua mereka saat keduanya masih berusia belasan. Jun ingin menyelesaikan urusan "pernikahan" nya dengan So-Ra dan berharap setelah itu mereka dapat kembali melanjutkan hidup tanpa sangkut paut masa lalu itu. Namun ternyata, semua berjalan tak sesuai dengan apa yang mereka perkirakan sebelumnya. Jun dan So-Ra harus mecoba tinggal bersama selama 3 bulan lamanya dan membiasakan diri sebagai pasangan suami istri sesungguhnya.



Drakor Vibes

Membaca novel ini sangat terasa vibes drakor-nya. Intrik, konflik dan romansa antar tokoh mengingatkan kita pada cerita khas negeri Ginseng itu. Ilana nampaknya ingin memanfaatkan atensi pembaca sekaligus penyuka drama Korea agar tertarik membaca novel barunya. Namun sebagai penonton drakor juga, saya merasa kalau cerita novel ini kurang greget.

Pertama, kurang ada suspense dalam cerita ini.  Suspense bisa berupa konflik, intrik atau apa lah yang membuat pembaca merasa greget, gemas, sedih, takut , gembira dan sebagainya. Jadi kita merasa ada tarikan yang membuat kita mau membaca sampai akhir. Suspense yang diselipkan di novel ini hanyalah kemunculan seorang misterius yang datang ke apartemen So-Ra dan membuat masalah, kiriman pesan-pesan intimidatif tanpa nama yang mengganggu So-Ra, atau kemunculan tokoh ketiga dalam hubungan Jun dan So-Ra, yang diam-diam menyukai Jun sejak lama. Ini juga terasa seperti tempelan saja karena masalahnya nampak begitu mudah diselesaikan ketika cerita sudah menjelang bab terakhir.

Kedua, chemistry antar tokoh utama juga terasa kurang. Tepatnya, Ilana kurang bisa secara kuat menjalin hubungan keduanya hingga pembaca percaya, mereka memang pantas disandingkan sebagai pasangan di akhir cerita. Momen-momen yang seharusnya dapat menciptakan romantisme menggemaskan ala drakor juga terasa datar saja. Misalnya, ketika Jun mengejutkan So-Ra dengan kedatangannya ke tempat syuting padahal ia seorang Wakil Direktur yang pastinya sangat sibuk. Setelah itu, keduanya menikmati makan bersama di sebuah café lokal. Saya berharap dialog antar keduanya bisa terasa lebih dalam dan intim. Tapi ternyata, harapan saya untuk mendapatkan sedikit percikan kejutan tidak kesampaian. Saya membayangkan, kalau adegan itu divisualisasikan dalam sebuah drama, apakah akan se-lempeng itu juga kah? Saya jadi merasa, karakter So-Ra dan Ryu Jun yang agak tak terlalu ekspresif itu karena penulisnya orang Indonesia yang masih menjaga etika dan tata krama. 

Ketiga, tokoh-tokoh yang dimunculkan di sekitar tokoh utama, sebenarnya bisa dibuat lebih “hidup” dan “menyumbang” penarik cerita, Saya berharap Cha Wu-Hyeok, aktor tampan yang sudah mengenal So-Ra sejak sebelum terkenal dan diam-diam menyukai So-Ra bisa menjadi “nyamuk” menyebalkan dalam hubungan Jun dan So-Ra haha.. atau membuat So-Ra bimbang misalnya memilih Jun atau sahabat gantengnya itu. Tapi So-Ra nampak terlalu lurus. Suka ke Wu-Hyeok tidak tapi ke Jun pun tidak terlalu nampak rasa suka-nya.  

Drakor-oriented

Memang jadinya sebagai pembaca sekaligus penonton drakor-walaupun bukan penonton setia, saya jadi memiliki pra-referensi yang membuat saya mau tak mau membandingkan novel ini dengan drakor-drakor yang pernah saya tonton. Ya karena Ilana menggunakan ramuan ala drakor jadi lah pembaca membuat bandingan dan punya harapan kalau cerita novel ini bisa mirip dengan cerita drakor pada umumnya.  Kalau pun ternyata tak sesuai bayangan, sebenarnya tak masalah. Ini lah novel Indonesia dengan vibes drama Korea ala Ilana Tan. Still worth to read anyway..

Kamis, 30 Oktober 2025

Romantics Anonymous : Drama Ringan dan Manis

 

www.cineparenting.com

      Mungkin bukan pertama kalinya Jepang dan Korea “mengawinkan” aktornya untuk main dalam satu produksi drama. Pada 2002, pernah ditayangkan sebuah serial TV, Friends, yang dibintangi Won Bin -dari Korea dan Kyoko Fukada – dari Jepang yang sukses besar.  Tahun ini, Netflix meluncurkan sebuah drama 8 episode, Romantics Anonymous, yang menampilkan 2 bintang utama dari 2 negara Asia ini. 

Romantics Anonymous sebenarnya merupakan adaptasi dari sebuah film komedi romantis Prancis tahun 2010 berjudul  Les Émotifs Anonymes yang dibintangi artis Prancis dan Belgia. Menariknya, jika dulu Friends menampilkan dialog pemain dengan bahasa masing-masing, di drama ini pemain utama wanita yang berasal dari Korea full menggunakan Bahasa Jepang!

www.theblossomreview.com

Dua Trauma

Setelah kematian ibunya, Han Hyo-Joo (Lee Hana) menghindari kontak sosial dengan siapa pun. Setiap kali ia menatap orang lain atau sebaliknya, ia merasa sangat tidak nyaman, bahkan sampai sesak nafas. Sebenarnya, Hana seorang ahli membuat coklat. Diam-diam, ia menyuplai coklat ke sebuah toko coklat eksklusif Le- Sauveur, milik Chef Kenji, satu-satunya orang yang tahu rahasianya dan menjadi temannya selama di Jepang. Oguri Shun (Sosuke Fujiwara) juga mengalami fobia sosial yang hampir serupa : ia tak dapat bersentuhan dengan siapa pun karena trauma di masa kecilnya. Ketika perusahaan coklat ayahnya meng-akuisisi toko Le-Sauveur, Sosuke menjadi manager di toko tersebut dan membawanya bertemu pertama kali dengan Lee Hana.

Dalam sebuah insiden, Sosuke tak sengaja menyentuh Hana dan Hana menatap Sosuke. Ajaibnya, mereka tak mengalami masalah apa pun. Dari kejadian itu, mereka berpikir, mungkin mereka bisa memiliki partner latihan menatap dan bersentuhan tanpa harus mengkhawatirkan apa pun seperti yang mereka alami jika dilakukan dengan orang lain.

Dua Cinta Dewasa

Kalau kamu penyuka drama sat-set tanpa banyak adegan cheesy, drama ini bisa jadi pilihan. Kisah 2 orang di usia matang yang sama-sama memiliki trauma, tanpa sadar saling menyembuhkan kemudian saling cinta, terasa real, mengalir dan apa adanya. Hyo-Joo sukses menghidupkan karakter Hana yang tak suka bertatapan, nampak canggung namun bisa sangat ekspresif saat bersama Sosuke. Oguri juga bisa mengimbangi menghidupkan karakter Sosuke yang antisosial, juga nampak canggung, selalu berganti baju walaupun hanya sedikit berkeringat- jika tak sengaja bersentuhan.  Menyaksikan dua aktor senior ini dalam satu frame, tetap terasa chemistry-nya. Padahal mereka hanya bertatapan dan berjabat tangan saja! 😊

Kehadiran second-lead characters yang berperan sebagai Hiro- musisi teman Sosuke dan Irene – psikolog yang menjadi konsultan Hana (dan ternyata terhubung juga ke Sosuke dan Hiro), cukup memberi bumbu pada cerita ini. Irene yang nampak tarik ulur dengan perasaannya terhadap Hiro, ternyata juga pernah mengalami trauma masa lalu. Rasanya seperti menyaksikan dua kisah dalam satu drama dengan cerita dan lika-likunya masing-masing. 

Adegan saat para artisan membuat coklat juga tak kalah menarik dan bikin ngiler. Jika diperhatikan, setiap episodenya membahas satu per satu coklat yang ada dalam Rainbow Pallete-coklat ekslusif aneka varian yang dijual dalam kotak di Le- Sauveur dan cerita di baliknya. Kejutan lain, drama ini mengambil lokasi di Indonesia juga lho dan menampilkan beberapa aktor lokal sebagai cameo. Cameo lain, mumcul di akhir episode, dan ini juga kejutan lainnya!

All in all, Romantics Anonymous is worth to watch. Sambil mengudap makanan ringan, mungkin coklat,  plus segelas minuman manis hangat, ok juga!. Karena drama ini memang seringan dan semanis itu…

 

Kamis, 27 Februari 2025

Belajar Bahasa Di Dunia Maya

Saat belajar apapun tak terbatasi ruang dan waktu, belajar melalui internet bisa menjadi alternatif pilihan, termasuk belajar bahasa asing.

www.theedgemalaysia.com

Jika kita dulu ingin belajar bahasa, step-nya mungkin ada beberapa. Mencari tempat belajar yang sesuai,  baik metode pembelajaran, tutor dan harganya, mendaftar, lalu menyiapkan atau menyesuaikan waktu dengan jadwal yang dimiliki tempat kursus tersebut. Kini, hanya dengan bermodal gadget dan kuota internet, belajar bahasa tetap bisa dilakoni. Lebih praktis dan terjangkau. Pilihannya pun beragam. Mau Jepang, Korea, Arab, Jerman, Prancis sampai Bahasa Italia dan Turki.

wannaspeak.korean misalnya. Akun Instagram ini cukup menarik karena menampilkan konten pembelajaran Bahasa Korea secara aplikatif dengan mengambil cuplikan-cuplikan penggunaan ekspresi tertentu dari drama atau film. Ditampilkan pula huruf Hangul-nya, cara pengucapannya dalam Bahasa Latin, lalu disertakan pula keterangan apakah itu bentuk casual (yang digunakan sehari-hari) atau polite (bentuk formal atau sopan). Akun sejenis adalah tomikorean. Hanya saja, tomi juga menyertakan konten lain seperti penjelasan mengenai perbedaan penggunaan kata tertentu plus menjual buku-buku untuk belajar Bahasa Korea. 

Konten yang juga menarik adalah pembelajaran bahasa Korea di akun koreanfriendhailey. Pemilik akun sekaligus gurunya adalah seorang wanita native Korea yang cantik dan mahir berbahasa Inggris. Penyampaian yang mudah dimengerti menjadi nilai plus untuk akun ini. Selain kosakata, diajarkan pula bagaimana membuat kalimat sederhana dalam Bahasa Korea. Hailey juga memiliki channel YouTube dengan subscriber ratusan ribu. Ia pun membuka kursus online Bahasa Korea melalui zoom. Konten lain yang cukup unik adalah milik Amelia Tantono. Wanita asli Indonesia yang kini tinggal di Seoul ini juga sesekali membahas Bahasa Korea di akun Instagram miliknya. Menariknya, Amel mengemasnya dalam bentuk percakapan atau interaksi langsung dengan penutur asli. Kita seperti melihat role play dengan kondisi real, misalnya mengenai percakapan di kantor atau di telepon. Satu kali, Amel juga pernah mengenalkan aplikasi percakapan dengan penutur asli Korea bernama hilokal. Tetapi, Amel yang juga punya saluran YouTube Amelicano ini memang tak mengkhususkan pada pembelajaran Bahasa Korea karena isi kontennya banyak pula mengenai kesehariannya di negara tersebut.


Tertarik dengan Bahasa Jepang? Akun dan saluran Youtube yang mengajarkan bahasa ini juga banyak bertebaran. Nihongodekita salah satunya. Selain kosakata dan ekspresi yang lazim digunakan,  wanita pemilik akun ini juga mengajarkan langsung bagaimana pengaplikasiannya melalui konten video.  Misalnya, bagaimana melakukan percakapan di bandara dan sebagainya. Menurut saya, di antara konten sejenis, akun dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris ini termasuk yang mudah dimengerti. Konten belajar Bahasa Jepang dengan touch komedi dapat ditemui di akun Instagram yang saya lupa namanya apa haha..  Gaya penyampaian yang teatrikal membuat akun ini disukai dan bisa bikin kita tertawa saat menyimak materinya. Kelebihannya,  akun ini tak hanya mengajarkan bahasa dan namun juga budaya, melalui dialog-dialog yang dimainkan si pemilik konten itu.  Kalau ingin belajar kosakata dari 3 bahasa sekaligus, Korea, Jepang dan Cina, ada akun dearasia_london. Akun ini menampilkan banyak kosakata misalnya nama negara, nama tempat, dan lainnya lain dalam 3 bahasa. Setiap kata diucapkan oleh penutur asli dari ke-3 negara tersebut.

Bagaimana dengan bahasa inggris? Wuah.. akun pembelajaran bahasa ini lebih seabreg sepertinya. Tak hanya dibuat oleh penutur asli namun juga oleh orang-orang lokal Indonesia atau pun lembaga-lembaga penyedia kursus Bahasa Inggris. Salah satu yang saya notice adalah akun sluggish_journey milik seorang wanita Indonesia bernama Ida. Menarik, karena ia banyak mengenalkan kosakata maupun ekpresi-ekspresi yang sering digunakan  dan bermanfaat untuk percakapan sehari-hari. Ida juga mengajarkan padanan kata dalam Bahasa Inggris untuk menerjemahkan suatu kata dalam Bahasa Indonesia. 

Bisakah efektif?

Belajar online memang praktis namun perlu kedisiplinan jika ingin menguasai bahasa tersebut dengan baik. Pertama, materi yang diajarkan di akun-akun Instagram dan sebagian channel biasanya mengenai kosakata dan ekspresi umum yang durasinya tidak terlalu lama. Memang lebih praktis tapi menguasai bahasa tak cukup dengan punya banyak kosakata. Belajar struktur untuk mengetahui penggunaan kosakata itu dalam kalimat juga perlu begitu pula hal-hal lain untuk menunjang penguasaan skill berbahasa. Jika ingin menambah lagi, harus mengikuti materi yang lebih lengkap misalnya di saluran YouTube. Banyak yang menyediakan pembelajaran lengkap seperti , latihan mendengarkan , memahami video dan sebagainya. Kedua, butuh kedisiplinan untuk mempelajari bahasa asing secara autodidak. Perlu waktu khusus untuk menyimak, memahami, dan mempraktekkan materi yang sudah didapat  Beberapa bahasa bahkan memiliki huruf-huruf khusus hingga perlu waktu juga untuk memahami dan mengetahui cara penulisannya. 

Banyak yang berhasil belajar bahasa secara online, banyak pula yang kesulitan dan tetap butuh guru yang mengajarkan secara tatap muka. Kita sendiri yang tahu, kita tipe pembelajar seperti apa. Jika memang hanya untuk mengetahui ilmu dasar bahasa tersebut, nampaknya belajar online bisa menjadi option yang cukup bisa diandalkan.

Minggu, 23 Februari 2025

Ramuan Cerita Ala Drama Korea


Drama Korea alias drakor jadi favorit banyak wanita di Indonesia dengan berbagai alasannya. Mulai dari ceritanya yang bisa mengaduk-aduk perasaan, pemainnya yang ganteng dan cantik, aktingnya yang bagus dan sebagainya. Kalau diperhatikan, cerita-cerita  drakor ini memiliki banyak persamaan yang boleh dibilang, klise dan terkesan cheesy. Tapi mungkin itu yang malah membuat drakor digandrungi. "Ramuan" cerita yang jadi resep drama-drama itu di antaranya: 

1. Cinta antara si kaya dan si miskin atau si biasa-biasa aja-- si kaya biasanya pemeran utama laki-lakinya. Profesi paling sering sebagai CEO. Pokoknya si cowok tergolong chaebol alias konglomerat alias sultan yang punya kekuasaan dan pastinya punya duit banyak tak terhingga. Karakter khasnya, si chaebol ini dingin, ngeselin, sombong lalu tetiba ketemu pemeran wanitanya yang punya sifat bertolak belakang dan biasanya berasal dari keluarga biasa saja bahkan jadi karyawannya. Tentu ini nggak selalu ya.. Ada juga yang pakai "ramuan"  lain, misalnya si perempuannya yang kaya  atau keduanya berasal dari kalangan biasa. 

2. Punya second lead-character yang juga kiyowo. Pemilihan second-lead ini kayaknya cukup berperan penting dalam sebuah drama Korea karena mereka juga punya porsi cerita sendiri bahkan bisa menjadi daya tarik drama tersebut. Kadang, justru si second-lead ini yang lebih mencuri hati penonton. Second-lead bisa berperan sebagai sahabat pemeran utama, sekretaris (ini paling sering), atau saudara kandung. Kadang, second-lead ini juga dipasangkan biar jadian, walaupun nggak selalu ya hehe..

3. Punya cerita masa lalu -- Ini juga hampir selalu ada di naskah cerita dan bisa menjadi alasan logis kenapa si pemeran utama punya karakter atau fobia tertentu. Bisa jadi, kisah masa lalu itu ada hubungannya dengan pemeran utama lain atau pemeran penting lainnya dalam cerita. Misalnya, dalam peristiwa lalu itu, si pemeran utama ditolong oleh seseorang yang punya hubungan dengan pemeran utama wanita yang kebetulan disukainya. Skenarionya sih nggak selalu persis begitu tapi kurang lebih sama idenya.

4. Family issues -- Persoalan keluarga hampir selalu menjadi bumbu cerita drama Korea, kadang ada hubungannya dengan cerita masa lalu pemeran utamanya. Sampai saya berpikir apakah memang mayoritas orang Korea mengalami masalah keluarga yang super serius itu, sampai berefek ke kepribadian si tokoh di kemudian hari. Yang umum diangkat misalnya pemeran utamanya dicampakkan orang tua atau mengalami kecelakaan hingga hidup sebatang kara, orang tuanya pemabuk atau suka melakukan kekerasan, tinggal dengan orang tua tunggal, tinggal hanya dengan nenek atau kakeknya dan sebagainya. Tidak seperti di Indonesia, kayaknya kalau di Korea begitu kita kehilangan orang tua, nggak ada yang mau peduli. Apalagi mereka biasanya hanya punya sedikit anak saja. 

5. Momen berdua -- biasanya untuk 2 pemeran utamanya. Yang paling khas, adegan main berdua ke taman bermain. Si cowok yang kaya, menyewa taman itu agar pujaan hatinya bisa puas menikmati seluruh wahana tanpa gangguan. Atau jalan-jalan sambil nyobain makan pinggir jalan, membeli barang-barang random dan semacamnya. Para penonton merasa terhibur melihat sweet moments ala-ala ini sambil menertawakan sikap si pemeran utama yang kaya tadi karena nggak pernah melakukan hal-hal yang nampaknya remeh itu seumur hidupnya. 

6. Surprise... surprise..  --- Pergi ke taman bermain bisa jadi salah satu bentuk kejutan manis yang bikin meleleh. Ramuan lain adalah kejutan sederhana yang tetep bikin meleot karena dilakukan dengan penuh effort apalagi kalau dilakukan chaebol yang biasanya tinggal main perintah. Bentuk surprise-nya, misalnya masangin lampu warna-warni, masak untuk berdua dan sebagainya. 

7. Act of Service  --- yang nampakna sederhana tapi bikin penonton melting. Nampaknya, penulis skenario drama Korea pinter banget mencari dan menciptakan momen dan act yang sederhana tapi manis ini. Misalnya yang udah umum banget, memperbaiki tali sepatu, memasangkan alas kaki, memayungi saat hujan, sampai masangin plester saat si cewek atau cowoknya terluka. Duh.. duh...

Nah..nah... penulis sendiri sampai sebegitu hafalnya adegan-adegan di drakor ya.. Bukan penggemar sih tapi suka menyimak aja hihi... Makanya, mungkin ada detail cerita khas yang terlewat di tulisan ini... Menurutmu?

Senin, 06 Maret 2023

Mari Belajar Di Akademi Pernikahan

 

pict: www.greenrabbitflowers.co.uk

Mungkin sejak setahun belakangan, mulai bermunculan Majelis Taklim yang menawarkan kajian mendalam berseri tentang persiapan pernikahan. Jika diamati, “akademi” penggonjlok para single ini biasanya membahas beberapa materi. Mulai dari tips dan trik memilih calon pasangan hidup, visi misi pernikahan, persiapan ilmu setelah menikah seperti ilmu menyiapkan diri sebagai suami atau istri, hingga ke persiapan finansial dan ilmu  mendidik anak. Pembicara materi-materi ini juga kompeten , beberapa di antaranya sudah banyak dikenal. Calon peserta biasanya diminta membayar sejumlah uang sebagai investasi. Ada yang diadakan online, ada pula yang offline. Beberapa kali saya pun dikirimi panitia kajian sejenis, mengajak untuk ikut serta sekaligus membantu menyebarkan informasi kajian mereka.

Terdorong Untuk Belajar

Kemunculan kajian-kajian pra-nikah ini jarang ada di zaman saya dulu. Kalaupun ada, gebyarnya mungkin tak sesemarak sekarang karena tempat-tempat penyelenggara kajian pun belum terlalu banyak. Obrolan tentang “menikah” saat kuliah atau setelah lulus sekalipun, nampaknya hanya menjadi obrolan diam-diam antar teman dekat saja 😊. Kadang ada rasa malu atau segan saat mengikuti kajian pranikah apalagi jika masih di awal-awal tahun kuliah. Seperti khawatir dicap “kebelet nikah” haha..

Ilmu pranikah biasanya didapat melalui majalah-majalah islam atau buku. Salah satu buku yang meledak di masa saya adalah buku Kupinang Engkau Dengan Hamdallah karya Ustadz Muhammad Faudhil Adzim. Saya ingat saat kuliah dulu ada pula sebuah majalah islam yang membahas tentang pernikahan kira-kira judulnya serupa dengan buku fenomenal itu. Wah… kayaknya hampir semua teman saya – di Rohis Fakultas -membicarakannya. Konon majalah itu laku keras dan majalah nomor itu mendadak sulit didapat di lapak-lapak koran.

Saat kini informasi sudah semakin mudah didapat, kesadaran tentang perlunya membekali diri sebelum menikah juga semakin besar. Kalau dulu generasi lama belajar soal pernikahan langsung dari hasil melihat rumah tangga orang tua dan saudara, kini kita seolah bisa “melongok” langsung pernikahan orang banyak dari media sosial. Baik buruknya pernikahan dari hasil menyimak, mendengar dan menonton ini jadi pembelajaran tidak langsung bagi generasi kini hingga terdorong untuk merasa perlu menyiapkan diri lebih baik lagi sebelum benar-benar menjalaninya sendiri.

 

Tak Melulu Dengan Teori

Adanya kajian-kajian pranikah ini tentunya perlu diapresiasi dan disambut baik. Dalam Islam, pernikahan tak sekedar menyatukan dua insan dalam sebuah lembaga halal. Lebih jauh lagi, menikah adalah ibadah. Menjalaninya tentunya tak cukup hanya bermodal niat, keseriusan apalagi sekedar cinta tapi juga butuh ilmu.

Tak ada salahnya para jomblowan jomblowati mengikuti kajian-kajian ini. Namun menurut saya pada akhirnya saat menjalani pernikahan sesungguhnya kita tak hanya bisa berpegang pada teori. Seperti halnya ilmu-ilmu lain, kadangkala teori menyatakan A namun saat menjalaninya kita harus melakukan B yang bisa jadi tidak pernah terbahas dalam teori yang kita pelajari. Kecuali panduan ilmu syar’I, kadangkala tidak ada teori pasti dalam menjalani sebuah pernikahan. Banyak faktor lain yang membuat kita mampu mengarungi pernikahan itu.

Ilmu yang diperoleh dalam kajian-kajian itu sesungguhnya adalah salah satu modal saja. Selanjutnya, barengi lagi dengan tambahan ilmu-ilmu lain. Banyak bertanya, berdiskusi dengan “senior” juga banyak membantu. Tidak kaku, tidak teoritis namun tidak juga apatis dengan tawaran belajar di kajian-kajian ini.

 

Selasa, 17 November 2020

Song-Song Couple : Cinta Yang Berubah

 

Song Joong Ki dan Song He Kyo nampak begitu ideal sebagai pasangan. Tak ada yang meragukan cinta Joong Ki yang mengakui telah lama mengagumi Hye Kyo. Lalu, mengapa cinta itu seolah hilang dengan cepat dan mereka tak mampu bertahan?

source: youtube


Tak bisa dipungkiri, sukses besar drama Korea Descendants Of The Sun pada 2016 tak lepas dari kecemerlangan akting para pemainnya. Chemistry yang terjalin di antara mereka mampu membuat drama ini nampak lebih real selain tentu saja membikin baper.  

Song Joong Ki dan Song He Kyo yang berperan sebagai sepasang kekasih dalam drama ini sukses membuat penonton termehek-mehek. Sebutan Song-Song couple muncul sebagai bukti betapa orang memuja keduanya. Akting mereka dalam drama itu dinilai jempolan sampai-sampai saat itu banyak fans yang mendoakan keduanya beneran berjodoh di dunia nyata. Banyak pula fans yang sengaja membuat video tentang mereka. Intinya sih mencocok-cocokkan keduanya agar beneran bisa bersatu. Apalagi katanya, Jong Ki nampak benar-benar suka dengan lawan mainnya yang cantik itu. Terang-terangan ia menunjukkan kekagumannya pada Hye Kyo walaupun saat itu Kyo nampak tak terlalu menanggapi.

Maka ketika Song-Song betul-betul menikah, yang paling girang adalah para fans mereka. Pernikahan keduanya bak dongeng yang jadi nyata. Yang satu ganteng yang satu cantik. Si pria nampak begitu memuja wanitanya. Si wanita juga nampak bahagia di hari pernikahannya. Setelah itu, para fans fanatik ini lalu berharap keduanya segera diberi momongan. Malah ada yang mereka-reka akan seperti apa bayi pasangan ini kelak. Sudah pasti akan serupawan ibu bapaknya, begitu kata para netizen yang sok tahu.

Tak dinyana, pernikahan mereka hanya seumur jagung. Dua puluh bulan setelah pernikahan menghebohkan itu, Joong Ki dan Hye Kyo mengumumkan perpisahan setelah publik sebelumnya sempat menerka-nerka hubungan mereka telah merenggang. Sampai kini, para fans tetap dibuat penasaran apa yang membuat pasangan yang nampak ideal ini memutuskan bercerai. Apakah karena kesibukan yang membuat mereka jarang bertemu, apakah Hye Kyo terlalu mandiri hingga merasa pernikahan itu membuatnya terkekang, apakah cinta tak cukup untuk mengikat keduanya?

Soal sebab pasti mengapa Song-Song berpisah, tentu hanya mereka yang tahu. Saya pun tak terlalu kepo mencari tahu karena apa urusan saya hehe.. Hanya saja, sebagai orang yang telah menikah, saya terpikir untuk membuat tulisan tentang pernikahan yang terinspirasi dari kisah keduanya berdasarkan pengalaman saya selama ini.

Cinta Yang Berubah

Saat masih muda, kita mengira bahwa cinta satu-satunya alasan tepat untuk bersama selamanya dengan seseorang. Siapa pula yang tak mau selalu dekat dengan yang dicinta? Rasanya, sesulit apapun, hidup akan terasa ringan jika dijalani dengan yang tercinta. Gula jawa aja bisa terasa kayak coklat, begitu perumpamaan perasaan orang yang sedang cinta-cintanya. Bahkan sifat atau karakter buruk pasangan pun termaafkan dengan mudah karena cinta kita yang besar kepadanya.

Di awal pernikahan, cinta mungkin masih mendominasi hari-hari kita. Memasuki hitungan bulan, kita akan dihadapkan pada realita sesungguhnya. Bahwa kebiasan buruk pasangan yang dulu kita maklumi jadi terasa menyebalkan, bahwa pasangan yang dulu romantis setelah menikah kita anggap tak lagi seromantis dulu, bahwa banyak hal yang mungkin dapat melunturkan cinta yang dulu menggebu, bahwa rutinitas bisa menciptakan kebosanan, bahwa kebiasaan keluarga besar kita dan pasangan yang berbeda bisa menyulut masalah baru, bahwa kesibukan masing-masing membuat kita dan pasangan merasa jauh.. Kehadiran anak (-anak) juga membuat hidup kita berubah. Waktu untuk berduaan jadi minim, prioritas hidup yang tak lagi sama, penampilan istri yang mungkin tak se-kinclong dulu dan seterusnya.

Mungkin cinta memang tak pergi kemana-mana. Ia masih ada namun telah bersalin rupa. Tak lagi berupa cinta yang menggebu yang membuat kita begitu bahagia saat sekedar bisa memegang tangan pasangan kita. Cinta, kata yang telah menjalani pernikahan lama, akan bertransformasi menjadi rasa respek. Kita mungkin tak lagi merasakan cinta bak remaja kasmaran tapi telah mewujud jadi cinta yang lebih dewasa.

Masalahnya, tak semudah itu pula mempertahankan cinta. Cinta yang ada jika tak dirawat akan pergi juga. Syukur jika hanya berubah wujudnya tapi jika hilang, perekat itu sudah tak lagi ada. Penyebabnya bisa beragam. Ingat, ketika menikah banyak faktor intern dan ekstern yang berpotensi menimbulkan konflik. Jika tak terselesaikan dengan baik, konflik akan terus terjadi. Kekecewaan, rasa marah dan semacamnya akan menumpuk dan menjelma jadi bom waktu yang siap meledak kapan saja dan perlahan melunturkan cinta. Semakin lama dibiarkan akan semakin banyak tumpukan “sampah” emosi itu.

Menghadapi ini, cinta jadi punya porsi yang tak terlalu besar lagi dalam kehidupan pernikahan. Kedewasaan, kelapangan hati, komunikasi punya peran yang jauh lebih penting. Belum lagi soal visi. Ini berhubungan dengan tujuan pernikahan. Mau dibawa kemana pernikahan kita dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan pernikahan itu. Bisa jadi, di awal pernikahan kita punya visi yang sama dengan pasangan. Namun seiring waktu, bisa saja visi itu berbeda karena beragam sebab. Jika tak segera disamakan kembali, kapal rumah tangga bisa oleng dan karam.

Begitulah. Jika sebelum menikah Joong Ki sangat memuja wanitanya, amat berbinar ketika berada di sampingnya, setelah menikah semuanya bisa berubah. Mungkin cinta memang tak hilang. Namun jika tak dijaga, cinta jadi kalah oleh realita, tak mampu menyelamatkan kapal rumah tangga. Hye Kyo mungkin sama cintanya. Tapi banyak hal yang dialami setelah menikah juga bisa melunturkan cinta. Kalaupun cinta itu masih ada, terkadang jadi pertimbangan ke sekian jika merasa ada pelanggaran hal prinsip yang tak bisa lagi ditoleransi. Eh.. saya bukan sedang menganalisa penyebab retaknya mereka ya.. Hanya saja, hal-hal seperti di atas mungkin terjadi pada rumah tangga bintang atau rumah tangga siapapun dan dimanapun.

Saya percaya, pernikahan yang langgeng memerlukan perjuangan seumur hidup. Tak hanya bisa didapat dengan modal cinta dan niat ingin menikah saja. Beradaptasi terus menerus, penyamaan visi pernikahan terus menerus, mencari ilmu bersama terus menerus, adalah ikhtiar pernikahan awet. Tentu saja sembari terus berdo’a agar Allah melanggengkan pernikahan kita, berharap pernikahan itu tak hanya seumur jagung bagai Song-Song couple.

 

 

 

 


Senin, 09 November 2020

Lagi- Lagi Video Tak Senonoh..

 

Untuk ke sekian kalinya, sebuah video yang memerlihatkan adegan intim beredar di media sosial. Yang menghebohkan, pelakunya adalah seorang wanita yang katanya mirip artis cantik GA dengan seorang pria bertubuh kekar entah siapa. Ada yang menduga, si pria dalam video berdurasi 19 detik itu adalah manager si artis, ada juga yang menyangka kalau pria tersebut salah satu pemain band pengiringnya. GA sendiri memberikan jawaban mengambang, tak mengiyakan atau menolak kalau wanita dalam video itu adalah dirinya. Sementara pria yang diduga ada dalam video sudah mengklarifikasi kalau itu bukan dirinya. Belum habis kehebohan publik, muncul lagi video sejenis yang juga menampilkan seorang wanita mirip artis.  Belum ada klarifikasi yang bersangkutan terkait video ini.

Dua peristiwa ini mengingatkan publik pada hal serupa yang terjadi belasan tahun ke belakang. Saat itu, video asusila seorang vokalis band besar dengan 2 wanita berbeda tersebar. Ada pihak yang mengaku walaupun ada pula yang sampai sekarang tak mengakui itu dirinya. Apapun, publik tetap menghujat dan mencaci maki terutama karena salah satu pelaku telah berkeluarga.

Harga yang harus dibayar amat lah mahal. Selain harus mendekam di balik jeruji besi dengan tuduhan telah lalai menyimpan video tak senonoh, mereka pun mendapat sangsi sosial. Banyak kontrak iklan dan pekerjaan dibatalkan dan diputus di tengah jalan, program TV yang memajang mereka memutus kontrak sepihak selain tentu saja menanggung malu. Perlu bertahun-tahun bagi mereka untuk kembali ke dunia hiburan dan tampil lagi di depan kamera dengan karir yang mungkin tak secemerlang sebelumnya.

Tersebarnya adegan intim yang dilakukan publik figur sebenarnya acapkali terjadi. Sebelum tahun  2000-an tersebar video singkat yang memerlihatkan seorang wanita mirip artis almarhumah Euis Sukma Ayu. Euis, putri artis senior Nani Wijaya, yang saat itu sedang naik daun, tak mengakui kalau itu dirinya. Euis terhitung “beruntung” karena masa itu belum ada media sosial begitupun handphone belum banyak dimiliki orang. Pemberitaan tentang Euis lebih banyak muncul di televisi dan koran-koran gosip. Namun tetap saja hal ini memengaruhi karir Euis di dunia hiburan.

Untuk Konsumsi Pribadi?

Sebenarnya sudah bukan rahasia lagi jika dunia selebriti lekat dengan pergaulan bebas. Saya yakin, yang biasa melakukan hubungan intim dengan pasangan walaupun belum menikah tak hanya dilakukan oleh para artis yang videonya tersebar itu. Boleh dibilang, mereka ini hanya sedang “sial” saja karena video pribadi mereka tersebar (atau disebarkan) ke publik. Ini terjadi bisa karena yang bersangkutan lalai hingga video itu bocor ke pihak lain atau bisa jadi gadget atau alat penyimpan video hilang dan jatuh ke tangan orang yang tak bertanggungjawab.

Saya sendiri tak paham mengapa adegan intim harus divideokan. Apakah sekedar untuk “dokumentasi” atau memang sengaja direkam untuk jadi konsumsi pribadi yang bisa ditonton berkali-kali? Semua memang hak dan jadi tanggungjawab masing-masing orang. Namun menjadi masalah jika video itu tersebar lalu ditonton publik termasuk anak-anak di bawah umur. Apalagi saat ini, dengan mudahnya foto atau video tersebar tanpa bisa kita cegah. yan

Kontrolnya ada di diri kita. Jika kita tanpa sengaja menerima kiriman video macam itu, stop sampai di kita saja tak perlu disebarkan. Tak perlu juga menghujat sampai sengaja ikut berkomentar di akun media sosial si artis. Kita jadi salah jika ikut mengumpat dan berkata kasar. Konsekuensi atas apa yang telah dilakukan, biarlah jadi tanggungan masing-masing individu. Dosa tidak berdosa itu urusannya dengan Tuhan. Jadilah penyimak atau jika bisa pengkritik yang baik saja.

 

 

 

 

 

 

 



                                                                                                                     

Selasa, 03 November 2020

Parade Kemewahan Di Layar Kita

 

Source; 99.co

“Welcome to my family room!” tukas wanita itu sambil merentangkan tangannya. Di layar nampak kolam renang nan asri dan luas. Host muda yang hari itu berkunjung ke rumahnya terbelalak, “Oh man! This is a resort!” serunya setengah berteriak. Sejak awal ia memang sudah nampak takjub melihat rumah luas dan mewah wanita itu: kamar pribadi yang super luas bak hotel juga ruangan bertaburan benda-benda pajangan mewah dan artistik. Obrolan lalu berlanjut santai di kolam renang si wanita. Sambil merendam kaki dan menghirup shissa-rokok ala Timur Tengah-, mereka ngobrol hal-hal ringan sambil sesekali tertawa bersama.

****

Selain nge-prank, salah satu konten channel YouTube yang juga marak adalah berkunjung ke rumah selebriti. Biasanya pemilik channel, umumnya selebriti juga, akan bertamu sambil melakukan “house tour´ dari bagian depan sampai dapur. Tak lupa, host akan melongok garasi sang bintang yang umumnya berisi kendaraan roda dua dan roda empat mahal milik mereka. Jumlahnya seringkali tak hanya satu bahkan ada yang berjejer tak ubahnya di showroom saja.

Program macam ini awalnya muncul di MTV pada tahun 2000-an. MTV Cribs, demikian nama program acara itu, menampilkan tur ke rumah pribadi para selebriti. Acara TV ini mencapai ratusan episode dan telah menampilkan banyak selebritis mulai dari aktor sampai atlet terkenal. MTV Indonesia kemudian mengadaptasinya menjadi MTV Rumah Gue yang tayang tahun 2000an. Kini, acara sejenis yang secara khusus membahas rumah selebritis nampaknya sudah tidak ada. Hanya kadang, ada acara TV yang menyelipkan house tour rumah selebriti sekedar sebagai bahan berita saja.

Entah terinspirasi oleh acara MTV itu atau bukan, banyak konten YouTube yang menampilkan hal serupa. Dan nampaknya, para penonton menyukainya. Kita pun pasti kepo ya ingin tahu rumah para selebritis apalagi jika yang dikunjungi adalah seleb favorit. Tentu kita penasaran bagaimana isi rumahnya, apa yang biasa ia lakukan di kamar pribadinya, bagaimana kesehariannya dan menyimak soal hal-hal pribadi lain yang belum kita tahu.

Namun sebagaimana halnya sebuah tontonan, konten seperti ini tentu ada plus minusnya. Menonton rumah mewah dan luas selebiritis bisa saja hanya sebagai hiburan. Berita apapun tentang orang terkenal memang selalu menarik untuk disimak apalagi tentang hal-hal privat mereka. Melalui rumah itu, kita bisa menilai sekilas karakter si empunya rumah. Ada yang rumahnya mentereng penuh sesak barang, ada yang berumah luas tapi bertipe minimalis elegan, ada yang meluaskan kamar pribadi karena suka ngendon di kamar, ada yang suka masak hingga dapur dibuat bikin betah.

Minusnya tentu saja jika konten ditonton kaum menengah ke bawah yang melihat itu tak hanya tontonan tapi juga sumber khayalan. Lalu sebagai penonton kita ikutan membayangkan andaikan punya rumah seluas dan sebagus mereka. Saat melihat kenyataan, kita sedih dan menyesali kenapa tak bisa punya rumah seperti itu. Banyak yang lantas terobsesi ingin jadi selebriti walaupun harus melakukan berbagai cara. Apalagi jika host sekedar menampilkan kemewahan namun tak mengorek bagaimana perjuangan sang bintang sampai punya rumah semewah itu.

Menarik ketika saya menonton house tour rumah Inul Daratsista yang dipandu dua host kondang, Irfan Hakim dan Indra Herlambang. Dalam program itu, ada obrolan tentang perjuangan Inul yang rela hidup prihatin 3 tahun lamanya demi membayar cicilan rumah yang jumlahnya ratusan juta sebulan. Selipan obrolan seperti ini mungkin bisa membuat konten terasa lebih membumi. Nyatanya para selebriti ini memang tak selalu memeroleh rumah idaman dengan mudah. Perlu kerja keras dan perjalanan panjang untuk mendapatkan rumah impian.

Perlu usaha dari pembuat konten agar tontonan tak sekedar jadi tontonan namun ada selipan hikmahnya. Begitupun kita sebagai penonton hendaknya bisa lebih bijak. Menonton ya menonton saja sekedar hiburan di waktu senggang. Tapi jangan lupa, tetaplah berpijak ke bumi. Apapun pasti ada pengorbanan besar hingga para selebriti itu bisa memiliki rumah mewah macam itu. Belum tentu kita sanggup bekerja sekeras mereka. Dengan begitu, kita tetap terhibur namun juga tetap bersyukur.

  



Sabtu, 31 Oktober 2020

Mandul Yang Sebenarnya

Memiliki banyak anak nampaknya menjadi simbol prestise bagi sebagian orang. Ada kebanggaan tersendiri ketika mampu memiliki anak berderet apalagi jika semua sukses. Selain itu, memiliki banyak anak juga dipercaya menjadi sumber rezeki.  Makin banyak anak, makin banyak pintu rezeki yang Allah bukakan untuk orang tuanya. 

Terdapat pula hadist yang berbunyi: “Dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasuallah SAW bersabda:  “Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak(subur) karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan umat-umat yang lain”(HR.Abu Dawud). Hadist ini kemudian menjadi “pedoman” bagi sebagian kita untuk memiliki anak sebanyak-banyaknya.

Tak ada yang salah dengan keinginan untuk memiliki anak banyak. Apalagi jika diniatkan kalau anak-anak itu menjadi penerus estafet dakwah untuk menegakkan dinul islam di masa depan. Namun hendaknya, keinginan itu tak hanya untuk memiliki anak banyak secara kuantitas namun melupakan kualitasnya.

Anak lahir diikuti kewajiban atas kita orang tuanya. Ia wajib kita didik, asuh dan berikan kehidupan yang layak. Ia bukan makhluk yang bisa kita lepas begitu saja, membiarkan mereka tumbuh sendiri mengikuti nasib. Jika mereka jadi anak-anak baik kita bersyukur, tapi jika tidak kita hanya bersedih. Kita tak punya andil sama sekali pada baik buruknya akhlak mereka.

Betapa banyak orang tua yang punya banyak anak namun anak-anak itu tak mampu menjadi quratta a’yun atau penyejuk hati. Saat ingin menikmati masa senja, bukan kedamaian yang diperoleh orang tua tapi justru beban pikiran karena ulah buruk anak-anak mereka. Ada orang tua yang sudah sakit-sakitan dan memiliki anak banyak namun tak satu pun anak yang mau telaten mengurusi. Ironisnya, ada orang tua yang Allah takdirkan tak punya anak namun memiliki “anak-anak” –entah keponakan atau anak angkat- yang begitu sayang dan peduli melebihi cinta seorang anak kandung.

Janganlah berkecil hati jika Allah takdirkan kita “hanya” memiliki sedikit anak. Satu, dua, sepuluh anak tidaklah menjadi penentu baik buruknya kita di mata Allah. Selama kita telah menunaikan tanggungjawab sebagai orang tua, tentu Alllah tak mengabaikan itu semua. Bersedihlah ketika kita memiliki anak (-anak) yang tak mampu kita didik menjadi anak-anak sholeh dan sholehah, yang saat kita meninggal tidak bisa mendoakan karena kebodohan mereka akan agama, yang malah sibuk memerebutkan harta warisan ketimbang memikirkan bagaimana berbakti kepada orang tuanya. Punya anak tapi bagai tak punya anak. Itulah mandul yang sebenarnya.

 

Rabu, 24 Juni 2020

Putri Untuk Pangeran, (Bukan) Sinetron Jiplakan


Sejak pandemi corona, saya jadi lebih sering mengakses tv. Setelah magrib, tv biasanya menyala sekedar buat menemani saya cuci-cuci piring dan beberes dapur sebelum tidur. Beberapa waktu lalu, saya melihat trailer sebuah sinetron di tv berjudul Putri Untuk Pangeran. Tak terlalu tertarik menontonnya karena saya memang bukan penggemar sinetron. Apalagi itu sinetron remaja. Tapi ketika episode pertama ditayangkan, kebetulan saya pun sedang menyetel channel tv itu. Saya tertarik karena ceritanya mengingatkan saya pada sebuah drama Taiwan yang dulu sekali sempat saya tonton, Meteor Garden (MG) dan drama adaptasi manga Jepang, Hana Yori Dango (HYD) lainnya.

Serupa Tak Sama
Di episode pertama diceritakan, Putri (Ranty Maria) sampai di sebuah kampus mewah nan megah bernama Universitas Bangsa. Gadis sederhana ini bisa berkuliah di universitas mahal itu setelah mendapat beasiswa. Kalau tidak, mana mungkin ia bisa berkuliah di sana karena Putri hanya seorang anak tukang jahit. Ke kampus pun, Putri selalu membawa barang dagangan, usus goreng. Ia mendapat cibiran dari teman-temannya yang rata-rata anak orang kaya, termasuk dari  3 cewek yang tak henti mem-bully dan mengejeknya sejak pertama ia masuk kampus.
Sial baginya, di hari pertama itu ia sudah harus berurusan dengan seorang cowok ganteng tapi nyebelin bernama Pangeran (Varrel Bramasta), yang kaca mobilnya tak sengaja dia rusak.  Putri tak tahu, Pangeran dan gengnya terkenal suka berbuat onar karena cowok itu putra salah satu penyandang dana universitas tersebut.
Selanjutnya, banyak isi cerita yang mengingatkan saya pada drama lain yang pernah saya tonton di masa muda. Selain MG, ada pula adegan yang mirip dengan drama Korea Boys Before Flowers (BFF)- masih adaptasi dari cerita manga HYD yang juga diadaptasi MG. Nampaknya, penulis skenario sinetron ini mencoba untuk membuat cerita yang tak terlalu persis agar tak nampak menjiplak. Tapi tetap saja ruh ceritanya hampir sama jika ditonton seksama.  Berikut beberapa yang saya ingat:
1.     Tokoh-tokoh dalam sinetron ini di antaranya: Putri- gadis sederhana yang pemberani, Pangeran- cowok tampan yang super kaya dan 2 temannya Gio dan Atta, Rizky- cowok cool yang menjadi seteru Pangeran dan penolong Putri, Citra-satu-satunya teman Putri yang baik di kampus- dan 3 cewek seteru putri salah satunya bernama Tasya.
Yang mirip      : Karakter Putri sama persis dengan tokoh utama wanita di MG dan drama adaptasi HYD lainnya. Yang agak berbeda adalah karakter cowoknya. Jika di drama-drama itu tokoh wanita berseteru dengan geng cowok tajir dan tampan, F4, namun selalu ditolong oleh salah satu di antara mereka, di sinetron ini Putri  hanya berseteru dengan geng yang terdiri dari 3 cowok. Rizky, diceritakan, dulu adalah anggota geng sahabat itu tapi karena sesuatu hal mereka berselisih. Namun tetap Rizky ini lah yang akhirnya menjadi penolong Putri dari kejahilan geng Pangeran.

2.    Putri dengan gagah berani menghadapi Pangeran yang dengan sewenang-wenang menyuruhnya mencuci mobil, sebagai “bayaran” untuk mengganti kaca mobil yang dirusak gadis itu. Padahal selama ini, tak ada yang berani melawan geng Pangeran.
Yang mirip           : Benang merah cerita tentang cewek miskin yang berani melawan cowok ganteng dan kaya. Yang beda hanyalah penyebab cewek itu melawan.

3.    Keberanian Putri membuat Pangeran sebal dan makin marah. Berkali-kali ia mengerjai Putri dengan tujuan membuatnya tak lagi betah di kampus. Puncaknya saat Pangeran menyuruh Putri memakai “gelang” dari tali sebagai penanda bagi siapapun orang yang berani melawan dirinya. Dengan gelang itu, tak ada seorang pun yang akan berani menolong Putri, kecuali Rizky, saat ia sedang dalam kesulitan sekalipun.
Yang mirip      : Siapapun yang berani berurusan dengan geng F4 akan mendapat kartu merah. Setiap orang yang mendapat kartu itu akan jadi musuh semua orang di kampus itu. Tak akan ada yang berani menolong bahkan sekedar menyapa.

4.    Pangeran, Putri dan Tasya terjebak dalam lift yang mendadak mati. Pangeran yang ternyata memiliki fobia ruangan tertutup sangat ketakutan namun berhasil ditenangkan Putri. Karena kejadian ini, sikap Pangeran agak berubah karena merasa berutang budi pada Putri.
Yang mirip      : Adegan terjebak dalam lift- atau kereta gantung dalam BFF- adalah salah satu adegan penting dan terkenal dalam drama-drama adaptasi HYD. Bedanya, dalam drama-drama itu, hanya 2 tokoh utama yang terjebak di dalamnya. Setelah itu lah mereka jadi dekat.

5.    Putri tersenggol orang saat ia dan Pangeran sedang berselisih di depan rumah sakit. Ia jatuh ke arah Pangeran dan ditangkap cowok itu. Adegan saling pandang saat jatuh itu tertangkap kamera handphone seseorang, disebarkan di media sosial dan menjadi bahan gosip orang sekampus. Saat Putri datang ke kampusnya itu, ia keheranan karena semua orang mendadak memerhatikannya.
Yang mirip      : Adegan saat mereka beradegan “mesra tak sengaja” yang tertangkap kamera lalu disebarkan di media. Tokoh wanita jadi mendadak terkenal. Bedanya, di drama-drama adaptasi HYD kedua tokoh jadi digosipkan punya hubungan asmara.

6.    Putri dicegat dan dikerjai banyak cowok sampai ia jatuh dan barang dagangannya berantakan. Pangeran datang tiba-tiba menghajar mereka dan menggendong Putri. Saat itu lah polisi datang dan menggelandang keduanya ke kantor polisi, menganggap mereka adalah biang keonaran.
Yang mirip      : Di MG dan BFF, tokoh cowok datang menolong dan dibawa pulang ke rumahnya.

7.    Putri mengompres luka Pangeran yang baru bertengkar dengan Rizky. Namun saat melakukannya, Putri mendadak sebal hingga menyuruh Pangeran mengompres lukanya sendiri.
Yang mirip      : Di BFF, tokoh perempuan yang dikompres lalu mereka berselisih hingga tokoh cowok menyuruhnya mengompres luka sendiri.

Yang Beda
Walaupun begitu, ada pula beberapa hal yang sama sekali berbeda dari sinetron ini. Misalnya, ayah Pangeran dan ibunya Putri yang pernah punya hubungan istimewa di masa lalu, Putri yang memiliki kemampuan mendengar suara hati, karakter Tasya yang suka mengunggah apapun yang ia alami ke sosial media dan seterusnya.
Sebagai hiburan, sinetron ini bisa saja menjadi pilihan tontonan bagi remaja, yang jelas bukan saya J . Namun cerita yang mirip dengan drama-drama tadi di sana sini membuat siapapun yang tahu kemiripannya jadi merasa terganggu. Kreativitas kita sepertinya harus lebih banyak digali. Terinspirasi boleh saja tapi jika banyak miripnya, terkesan seperti menjiplak jadinya. Kita tunggu saja apakah episode-episode selanjutnya akan berbeda atau malah banyak lagi persamaannya.