Selasa, 30 Juni 2020
Seteru Tak Berujung, Cebong Versus Kampret
Jumat, 26 Juni 2020
Yang Datang Dan Yang (Nyaris) Hilang
![]() |
Foto: kompasiana.com |
![]() |
Foto: kaskus.co.id |
![]() |
Foto: tribunnews.com |
Rabu, 24 Juni 2020
Putri Untuk Pangeran, (Bukan) Sinetron Jiplakan
Eh.. Eh.. Jangan Latah!
Senin, 22 Juni 2020
Kamu Kena Prank!
![]() |
Sumber:sukabumiupdate.com |
Minggu, 21 Juni 2020
Majalah Annida, Kenangan Pada Sebuah Majalah Islami
![]() |
Sumber: bukalapak.com |
Agar
dapat tampil menarik bagi kaum muda, Annida
mengganti beberapa rubriknya agar tampil lebih “remaja”dengan menampilkan
cerita atau kisah sebagai andalan. Motto Annida
berubah menjadi “Seri Kisah-Kisah Islami”. Melalui cerita, Annida meniyisipkan nilai-nilai dan pesan keislaman tanpa harus
terkesan menggurui. Berdakwah lewat tulisan, begitu Annida mengistilahkan.
Pada tahun 2000, rubrikasi Annida semakin beragam dan tak hanya
berfokus pada cerita atau kisah. Rubrik-rubrik baru bermunculan seperti :
konsultasi remaja, profil remaja berprestasi, komik, opini lelaki dalam 1269
male, dan sebagainya. Motto Annida pun berubah menjadi ‘’Sahabat
Remaja Berbagai Cerita’’. Annida
berusaha menjadi teman remaja islam yang aktif, kreatif, gaul namun tetap
menomorsatukan syari’at islam. Kompetisi rutin yang sempat diadakan majalah ini
adalah Lomba Menulis Cerpen Pendek Islami
(LMCPI) yang melahirkan para penulis
handal di kemudian hari seperti Asma Nadia serta Lomba Remaja Berpestasi. Belakangan, Annida menjadi majalah remaja yang
lebih nyastra.
Majalah
ini sempat mengalami masa jaya pada akhir 90 sampai 2000-an dengan oplah hingga
100.000 eksemplar per bulan. Saat itu,
Helvy Tiana Rosa menjadi pemimpin redaksinya, dan Annida terbit sebulan 2 kali. Jika awalnya hanya beredar dan
dikenal di kalangan anak-anak rohis, majalah ini mulai beredar luas dan nangkring di lapak penjual koran dan
majalah. Ikon majalah Annida, seorang
remaja aktif dengan jilbab lebar dan melengkung di ujung, si Nida, amat dikenal
dan cerita khusus tentangnya sempat dibukukan.
Namun
sekitar tahun 2004, Annida memutuskan
untuk berhenti mengedarkan edisi cetak dan beralih ke online. Salah satu pertimbangan redaksi, ingin menghemat penggunaan
kertas sebagai salah satu bentuk kepedulian pada lingkungan. Namun di media
online, mereka mengakui kalau hal itu merupakan salah satu cara bagi mereka
untuk bertahan menghadapi persaingan dengan media cetak lainnya. Beralamat di www.annida-online.com , rubrik-rubrik
di edisi online ini hampir mirip
dengan edisi cetak.
Annida
sempat kembali muncul edisi cetaknya namun terbit 3 bulan sekali. Annida cetak versi baru ini muncul
dengan tampilan mewah dengan kertas lux dan berwarna, bercover seleb terkenal. Mungkin
agar bisa bersaing dengan majalah remaja lain. Konsekuensinya, harga Annida menjadi lebih mahal. Sayangnya, Annida versi ini hanya bertahan hingga 4
edisi. Annida edisi online pun tak selalu se-up to date saat awal muncul. Rubrik cerpen dan cerbung yang jadi andalan
seringkali tidak berganti padahal sudah berbulan-bulan. Kini,Annida edisi online ini pun sudah tak tayang lagi.
Kebanjiran Naskah
Sebagai
satu-satunya majalah remaja islam yang banyak memuat cerita-cerita fiksi islami,
Annida memiliki peran penting dalam
perkembangan kepenulisan cerita islami di Indonesia. Jika sebelumnya, remaja
muslim hanya mendapat pengalaman membaca cerita dari majalah-majalah umum,
melalui Annida mereka mulai
memperoleh wawasan baru. Banyak nilai yang mungkin secara tak sadar mereka
serap dari membaca cerita-cerita di majalah Annida.
Animo
yang besar itu tak hanya nampak dari tiras majalah yang tinggi namun juga dari
banyaknya naskah cerita yang masuk setiap bulannya. Saya ingat, membaca tulisan
redaksi yang kebanjiran naskah termasuk untuk LMCPI yang diadakan setiap tahun.
Annida sampai merasa perlu untuk
membuka rubrik baru seperti Bengkel Nida
yang membahas tentang tips menulis cerita atau kolom khusus yang diasuh penulis
senior untuk membedah salah satu cerita yang dimuat di Annida edisi yang sama.
Melalui
Annida, banyak para penulis yang
memulai karier menulisnya di majalah ini sebelum dikenal dan naskahnya beredar
di banyak media atau buku. Ada pula yang sebelumnya sudah menjadi penulis namun
merasa menemukan wadah yang tepat ketika menulis di majalah tersebut. Cerpen fenomenal Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rosa misalnya dimuat pertama
kali di majalah Annida pada 1993.
Sebelum akhirnya diangkat ke layar lebar, cerpen ini dan cerpen Helvy lainnya
dibukukan oleh Annida, berhasil naik
cetak puluhan kali dan dicetak dalam jumlah sangat banyak. Cerpen Asma Nadia di
awal karir menulisnya Jodoh Untuk Ajeng,
Koran Gondrong dan Imut juga “ditemukan”
majalah Annida dan menjadi juara
dalam Lomba Menulis Cerita Pendek yang diselenggarakan majalah itu. Nama-nama lain yang juga awalnya dikenal
melalui majalah ini adalah Afifah Afra, Sinta Yudisia, Maya Lestari GF dan
sebagainya.
Jangan
lupa, Annida juga menjadi salah satu wadah
bagi para penulis yang tergabung dalam organisasi kepenulisan terbesar di Indonesia,
Forum Lingkar Pena (FLP), untuk memuat karya-karyanya. Organisasi yang
diinisiasi oleh Helvy Tiana Rosa, Muthmainnah dan Asma Nadia pada 1997 ini
menjadi tempat berkumpulnya penulis muda dan lama, yang kemudian seolah tak
terpisahkan namanya dari Annida.
Majalah ini memang berperan besar dalam perkembangan FLP di kemudian hari:
memuat rubrik khusus berisi info FLP dan menjadi sarana untuk merekrut anggota
baru. Helvy, dalam bukunya Segenggam
Gumam bercerita, ada 2000 orang yang mendaftar melalui Annida saja.
Setelah
ini, terbit banyak novel islami dan juga sempat menjadi booming di awal 2000-an. Saat itu, banyak penerbit yang juga
ikut-ikutan menerbitkan novel genre ini. Tentunya, ini menjadi wadah baru bagi
para penulis untuk menerbitkan karya mereka agar dikenal lebih luas.
Berubah Lalu Menghilang
Sayangnya,
menurut saya, saat sedang digandrungi Annida
malah beralih haluan menjadi majalah yang lebih dewasa, bernuansa sastra. Saya
sempat mengikuti beberapa edisinya. Ada rubrik bahasan utama dengan tema yang
lebih ‘serius’ dibandingkan bahasan di majalah Annida edisi awal dan tak lagi banyak membahas tentang dunia
remaja. Saya merasa, Annida versi nyastra ini terasa lebih mature. Mungkin memang terasa greget
untuk sebagian pembaca tapi karena segmen pasarnya tak berubah, rasanya isi Annida yang seperti itu jadi terasa
seperti kehilangan ruhnya yang dulu.
Cover majalah yang semula
gambar ilustrasi, berubah menjadi foto model. Bagi saya yang sejak awal
mengikuti Annida malah merasa kurang sreg. Bisa jadi, redaksi ingin mengubah
tampilan agar berbeda atau untuk menyamakan dengan majalah remaja lain. Namun
menurut saya, menampilkan cover foto
model perlu effort lebih besar
misalnya perlu memikirkan pemilihan model, make
up, lighting, kostum maupun kualitas foto yang tepat dan baik. Dibandingkan dengan majalah serupa, Annida jelas kalah saing karena majalah
remaja umum memiliki kemampuan yang lebih profesional selain kualitas kertas
majalah yang lebih baik juga kualitas fotonya.
Ketika beralih ke media online, sebenarnya Annida punya peluang untuk tetap memiliki banyak pembaca.
Sayangnya, Annida nampak tak seserius
saat menggarap versi cetak, entah karena kendala apa. Isi rubrik yang sering
tak up-to-date atau tampilan yang
kurang eye catching dapat menjadi
sebab pembaca “lari”. Bisa pula karena tak semua pembaca memiliki akses
internet-saat itu belum marak hape android-
atau bukan tipe yang suka membaca via layar seperti saya. Akhirnya, Annida makin kehilangan pembaca yang
mungkin awalnya hendak setia namun gigit jari karena banyak kecewa atau kendala
lainnya.
Kini, majalah Annida hanya tinggal kenangan. Saya masih memegang beberapa edisi
yang memuat karya saya: tulisan dan surat pembaca J Selebihnya, koleksi saya dihibahkan ke
perpustakaan sekolah. Saya yakin, masih banyak mantan pembaca Annida lama yang merindukan munculnya Annida kembali. Walaupun mungkin agak
sulit terealisasi karena trend pembaca (remaja) saat ini sudah berubah, namun
kekangenan pada cerpen berkualitas dengan sisipan nilai dan pesan keislaman
tetap ada. Ini tak tergantikan dengan membaca buku bernuansa religi. Walaupun
telah “tiada”, namun peran Annida
dalam perkembangan penulisan cerita islami perlu dikenang sebagai hal yang berharga.
Kamis, 18 Juni 2020
Media Cetak, Riwayatmu Kini
![]() |
sumber: jatim times |
Kisah Preman Yang Digandrungi
Setelah sinetron serial Si Doel
Anak Sekolah (SDAS) booming pada
tahun 90-an, sinetron berlatar budaya lokal mulai disukai dan dianggap memiliki
daya jual. Sejak itu, banyak sinetron sejenis yang diproduksi dan tayang di
layar kaca. Ada yang sukses, ada pula yang tak terlalu mampu menggaet banyak
penonton.
Salah satu sinetron serial berlatar budaya
lokal yang tergolong berhasil adalah Preman
Pensiun (PP). Berlatar budaya Sunda, sinetron ini cukup digemari hingga
dibuat sekuelnya, kini masuk sekuel 4. PP tak terlalu mengandalkan daya tarik
pemain terkenal untuk menggaet penonton. Selain almarhum Didi Petet sebagai
Kang Bahar dan Epy Kusnandar sebagai Muslihat atau Kang Mus, tidak ada pemain
terkenal lain yang berperan dalam sinetron ini. Malah boleh dibilang, beberapa pemain
yang awalnya belum terkenal itu menjadi dikenal khalayak setelah bermain dalam PP.
Bagai Organisasi
PP bercerita tentang Kang Bahar, seorang
preman yang amat berkuasa dan terkenal di kota Bandung. Tak tanggung-tanggung,
pasar, terminal sampai jalanan dikuasai oleh anak-anak buah Kang Bahar. Bahar
yang awalnya merantau ke Bandung untuk mencari nafkah sebagai penjual makanan,
menjelma menjadi preman yang ditakuti dan disegani setelah melalui perjalanan
panjang.
Tak ubahnya sebuah organisasi, Kang Bahar sebagai
ketua memiliki tangan kanan bernama Kang Mus dan para anak buah seperti Pipit
dan Murad yang menjadi pemegang kuasa di jalanan, Jamal penguasa terminal dan Komar
penguasa pasar. Para “ketua” pemegang kuasa wilayah ini masing-masing memiliki
sejumlah anak buah lain.
Setelah istrinya meninggal, Kang Bahar
memutuskan untuk pensiun sebagai preman. Kisah Kang Bahar dan para preman serta
dinamika kehidupan mereka ini lah yang menjadi jalinan cerita PP. PP
memperlihatkan tak hanya kehidupan preman yang keras dan kadang penuh bahaya,
namun juga menceritakan sisi kehidupan pribadi mereka. Komar yang garang di
tempat “kerja” nya ternyata takluk pada istrinya. Kang Mus yang nampak sangat
berwibawa dan disegani para anak buahnya amat segan pada Emak, ibu mertuanya
yang ketus dan galak. Pergulatan batin para preman ini saat ingin “taubat” dan
berhenti menjadi preman juga tak luput jadi bahan cerita. Selain kisah para
preman, disisipkan pula kehidupan jalanan lain sebagai pencopet yang juga tak
kalah menarik untuk ditonton.
Sejak pertama kali tayang di televisi pada 2015,
PP
telah menarik banyak penonton yang pastinya
tak semua berasal dari suku Sunda. Cerita PP yang sederhana dan dekat dengan
keseharian nampaknya menjadi salah satu daya tarik sinetron ini. Bisa juga
karena penonton tertarik dengan cerita soal preman yang amat jarang diangkat
sebagai tema cerita sebuah sinetron.
PP
tak menawarkan kemewahan
atau keelokan rupa para pemainnya namun bertumpu pada kekuatan cerita, dialog
dan karakter peran yang ada di dalamnya. Kesuksesan PP versi sinetron kemudian diangkat ke layar lebar. Film yang tayang di awal tahun 2019 ini pun mampu menggaet jutaan penonton.
Bagi kamu yang pernah tinggal di kota
kembang, Bandung, lokasi syuting PP
di kota tersebut juga bisa jadi nostalgia tersendiri. Di episode-episode awal,
PP pernah pula bekerjasama dengan Pemkot Bandung untuk mempromosikan spot-spot
menarik di kota tersebut bahkan sempat menampilan Ridwan Kamil- yang saat itu
masih menjadi walikota- sebagai bintang tamu.
Sekuel terbaru PP – Preman Pensiun 4- telah tayang selama sahur bulan Ramadhan
lalu. Menampilkan banyak wajah baru, PP 4
lebih banyak menceritakan bagaimana para mantan preman ini berjibaku dengan
hidup mereka setelah pensiun sebagai preman. Kang Mus dan Ujang berjuang
membesarkan usaha kicimpring, Boim mantan preman di terminal berdagang kaos,
Murad yang memilih menjadi security
atau Cecep yang justru kembali ke dunia preman karena tak menemukan pekerjaan
lain. Sayangnya karena keburu pandemi, syuting PP 4 harus dihentikan dan cerita hanya sampai episode 33.