Sebut satu majalah wanita, bisa jadi Femina jadi salah satu nama yang muncul
di kepala. Majalah ini bagai “buku pedoman” yang wajib dibaca oleh para wanita
khususnya di perkotaan dan memiliki banyak pembaca loyal.
“Perkenalan” saya dengan Femina terjadi saat saya SMU. Saat itu, Mama saya sering membeli
majalah ini. Saya yang suka baca ikut-ikutan melihat-lihat Femina. Saya menyukai majalah ini karena bahasanya yang enak dibaca
selain artikel-artikelnya. Saya suka rubrik Kisah
yang menceritakan kisah hidup publik figur dalam dan luar negeri. Yang saya
sukai, Femina seringkali mampu
mengorek sisi lain tokoh yang tak saya temui di media lain dengan bahasa khas Femina. Saya ingat pernah membaca kisah
Marlyn Monroe, Ernest Hemmingway, Garin Nugroho, Ruth Sahanaya sampai Eko
Patrio sempat saya baca di rubrik itu.
Rubrik
Fiksi Femina juga jadi favorit saya
selain Rubrik Gado-Gado. Tulisan pendek satu halaman yang
mengangkat cerita sehari-hari ini termasuk banyak juga penggemarnya. Tulisan
saya malah pernah 2 kali dimuat di rubrik Gado-Gado. Yang juga sering saya baca
adalah Rubrik Tips-Tips Praktis seperti tips memasak atau tips berbusana. Femina juga seringkali mengangkat topik
yang sedang in saat itu di rubrik
Liputan Khas atau Rupa-Rupa, jadi wawasan saya juga bertambah.
Saat
kuliah, saya hanya membaca Femina
kalau pulang ke rumah. Nggak sanggup
beli sendiri J.. Sampai akhirnya,
saya menemukan koleksi Femina yang
lengkap di sebuah tempat penyewaan bacaan. Femina
jadi salah satu bacaan yang sering saya sewa. Saya lupa berapa harga sewanya
saat itu. Kalau tak salah hanya 1500 rupiah per majalah. Kadang, saya bisa
menyisihkan uang untuk membeli Femina
baru. Koleksi Femina saya ada yang masih
tersimpan rapi hingga kini, ada pula yang saya jual atau buang karena saat itu
saya harus pindah rumah.
 |
Femina Edisi Perdana (source: ensiklopedia sastra Indonesia |
Sejarah Femina
Perjalanan
Femina menjadi sahabat wanita
Indonesia ditandai dengan terbitnya edisi perdana majalah ini, bersampul
seorang wanita bertangan 10 dan anaknya pada 18 September 1972. Edisi newborn itu sudah menampilkan artikel
tentang tren belajar membatik, mode, make
up, sampai trik pencahayaan dan warna untuk interior rumah.
Tiga
wanita pendiri Femina, Mirta
Kartohadiprojo, Widarti Gunawan dan Atika Makarim bermimpi untuk dapat lebih
memberdayakan, meningkatkan kesejahteraan serta memperbaiki kualitas wanita itu
sendiri. Bukan hal mudah bagi Femina
membuka jalan itu karena di awal Femina
terbit situasi jauh berbeda dengan sekarang. Kiprah wanita di ruang publik terhitung
jarang. Masih ada norma tertentu yang memosisikan wanita sebagai pihak yang tak
berdaya.
Sejak
awal, Femina telah berhasil menarik
keingintahuan pembacanya. Kata Widarti, majalah ini di mata pembacanya seperti kamus
serba ada, yang bisa ditanyai mulai dari soal rumah tangga sampai soal menjahit
baju. Dulu, Redaksi Femina yang
berkantor di garasi kediaman Pia Alisjahbana di Jalan Sukabumi Menteng sering
kebanjiran pertanyaan. Pada masa itu, saluran komunikasi hanya ada 2: melalui telepon
dan surat,
“Dari
situlah, muncul ide untuk membuatkan acara buat pembaca. Tujuan awalnya
sebetulnya untuk memindahkan rubrik populer Femina menjadi pertemuan.” Tutur Widarti.
Acara yang sudah digelar mengangkat
topik beraneka rupa mulai dari kuliner, gaya hidup, hobi hingga fashion.
Femina
menyapa pembacanya sebagai wanita aktif bukan wanita karier atau wanita
bekerja. Kendati dulu belum banyak wanita yang menjadi wirausaha, namun Femina sudah menyadari wanita pun bisa
berpenghasilan sendiri tanpa harus ke kantor. Di kemudian hari, Femina bahkan membidani event yang menjadi “penemu” para
wirausahawan wanita sukses melalui Lomba Wanita
Wirausaha, maupun mengadakan beragam seminar wirausaha.
Event
lain yang juga digagas Femina dan
para alumninya dikenal luas adalah Wajah
Femina, Lomba Perancang Mode (LPM), Lomba
Perancang Aksesoris serta Lomba Cerpen dan Cerber Femina. Wajah Femina misalnya telah menelurkan
banyak publik figur berprestasi, tak hanya di bidang modelling namun juga bidang lain seperti dunia hiburan dan
jurnalistik.
Femina pun
menggagas Jakarta Fashion Week pada
2008 yang mewadahi para perancang mode Indonesia untuk menampilkan
karya-karyanya, tak hanya di hadapan publik lokal tapi juga internasional. Event ini diharapkan menjadi pembuka
jalan bagi dunia mode Indonesia agar dapat berkiprah di dunia mode dunia.
Seiring
waktu, Femina menerbitkan “adik” dan “saudara”
satu grup seperti Majalah Gadis (untuk
remaja putri), Cita Cinta (untuk
wanita dewasa awal), Dewi (untuk
wanita usia matang 40-an ke atas), Ayahbunda
(majalah untuk pedoman tumbuh kembang bayi) dan beberapa majalah franchise.
Imbas Majalah Digital
Awalnya,
Femina terbit mingguan. Tebal majalah
bervariasi begitupun jenis kertas yang digunakan. Pada masa krisis moneter
akhir 90-an sampai awal 2000-an, Femina
terkena imbasnya, tampil lebih tipis dibandingkan sebelumnya.
Gempuran
media online dan digital membuat oplah
Femina makin menurun. Harus diakui,
nampaknya majalah ini, juga media cetak pada umumnya, lamban melakukan antisipasi
terhadap adanya perubahan besar industri media yang sudah terjadi sejak 2 dekade lalu.
 |
Femina Edisi Mei 2020 (source:ebook.gramedia) |
Sejak 2017, Femina tak lagi terbit mingguan tapi 2 mingguan. Kemudian terbit
bulanan dan tahun ini malah terbit tak tentu. Edisi terakhir Femina terbit pada November 2020 setelah
edisi sebelumnya terbit pada Mei 2020. Nampaknya, kini Femina mengandalkan pembaca majalah online juga berinteraksi melalui media sosial seperti Instagram dengan
mengadakan beberapa event rutin.
Walaupun
memiliki lini online, nampaknya hal
ini belum mampu mengangkat oplah jual Femina.
Hal ini berimbas pada keuangan
perusahaan. Pada 2016, para karyawan Forum Komunikasi Karyawan Femina Grup mengadukan nasib mereka pada
Lembaga Bantuan Hukum Pers. Mereka mengeluhkan gaji yang dicicil, awalnya 2
kali dengan perbandinga 50;50. Sampai pada Juli 2017, gaji mereka mulai tak
jelas. Terkadang gaji dicicil lebih dari dua kali, dengan
skema persentase tak tentu. Bisa hanya 10:10:20 persen atau 40 persen, tetapi
tidak pernah mencapai 100 persen lagi.
 |
Femina Edisi November 2020 (source: twitter/Femina) |
Femina masih berjuang untuk bertahan di tengah gempuran zaman juga preferensi
pembaca yang lebih memilih media digital dengan alasan kepraktisan. Jika gagal,
Femina akan mengikuti jejak majalah “saudara”
nya Cita Cinta dan media franchise
lain yang bernaung di grup yang sama. Kemudian, saya dan pembaca lainnya hanya
akan mengenang Femina. Keberadaan
majalahnya akan menjadi koleksi langka juga menjadi saksi akan pernah adanya
majalah wanita berkelas yang menjadi teman tumbuh wanita Indonesia. (sebagian sumber dari kumparan.com)