Kamis, 27 Februari 2025

Belajar Bahasa Di Dunia Maya

Saat belajar apapun tak terbatasi ruang dan waktu, belajar melalui internet bisa menjadi alternatif pilihan, termasuk belajar bahasa asing.

www.theedgemalaysia.com

Jika kita dulu ingin belajar bahasa, step-nya mungkin ada beberapa. Mencari tempat belajar yang sesuai,  baik metode pembelajaran, tutor dan harganya, mendaftar, lalu menyiapkan atau menyesuaikan waktu dengan jadwal yang dimiliki tempat kursus tersebut. Kini, hanya dengan bermodal gadget dan kuota internet, belajar bahasa tetap bisa dilakoni. Lebih praktis dan terjangkau. Pilihannya pun beragam. Mau Jepang, Korea, Arab, Jerman, Prancis sampai Bahasa Italia dan Turki.

wannaspeak.korean misalnya. Akun Instagram ini cukup menarik karena menampilkan konten pembelajaran Bahasa Korea secara aplikatif dengan mengambil cuplikan-cuplikan penggunaan ekspresi tertentu dari drama atau film. Ditampilkan pula huruf Hangul-nya, cara pengucapannya dalam Bahasa Latin, lalu disertakan pula keterangan apakah itu bentuk casual (yang digunakan sehari-hari) atau polite (bentuk formal atau sopan). Akun sejenis adalah tomikorean. Hanya saja, tomi juga menyertakan konten lain seperti penjelasan mengenai perbedaan penggunaan kata tertentu plus menjual buku-buku untuk belajar Bahasa Korea. 

Konten yang juga menarik adalah pembelajaran bahasa Korea di akun koreanfriendhailey. Pemilik akun sekaligus gurunya adalah seorang wanita native Korea yang cantik dan mahir berbahasa Inggris. Penyampaian yang mudah dimengerti menjadi nilai plus untuk akun ini. Selain kosakata, diajarkan pula bagaimana membuat kalimat sederhana dalam Bahasa Korea. Hailey juga memiliki channel YouTube dengan subscriber ratusan ribu. Ia pun membuka kursus online Bahasa Korea melalui zoom. Konten lain yang cukup unik adalah milik Amelia Tantono. Wanita asli Indonesia yang kini tinggal di Seoul ini juga sesekali membahas Bahasa Korea di akun Instagram miliknya. Menariknya, Amel mengemasnya dalam bentuk percakapan atau interaksi langsung dengan penutur asli. Kita seperti melihat role play dengan kondisi real, misalnya mengenai percakapan di kantor atau di telepon. Satu kali, Amel juga pernah mengenalkan aplikasi percakapan dengan penutur asli Korea bernama hilokal. Tetapi, Amel yang juga punya saluran YouTube Amelicano ini memang tak mengkhususkan pada pembelajaran Bahasa Korea karena isi kontennya banyak pula mengenai kesehariannya di negara tersebut.


Tertarik dengan Bahasa Jepang? Akun dan saluran Youtube yang mengajarkan bahasa ini juga banyak bertebaran. Nihongodekita salah satunya. Selain kosakata dan ekspresi yang lazim digunakan,  wanita pemilik akun ini juga mengajarkan langsung bagaimana pengaplikasiannya melalui konten video.  Misalnya, bagaimana melakukan percakapan di bandara dan sebagainya. Menurut saya, di antara konten sejenis, akun dengan bahasa pengantar Bahasa Inggris ini termasuk yang mudah dimengerti. Konten belajar Bahasa Jepang dengan touch komedi dapat ditemui di akun Instagram yang saya lupa namanya apa haha..  Gaya penyampaian yang teatrikal membuat akun ini disukai dan bisa bikin kita tertawa saat menyimak materinya. Kelebihannya,  akun ini tak hanya mengajarkan bahasa dan namun juga budaya, melalui dialog-dialog yang dimainkan si pemilik konten itu.  Kalau ingin belajar kosakata dari 3 bahasa sekaligus, Korea, Jepang dan Cina, ada akun dearasia_london. Akun ini menampilkan banyak kosakata misalnya nama negara, nama tempat, dan lainnya lain dalam 3 bahasa. Setiap kata diucapkan oleh penutur asli dari ke-3 negara tersebut.

Bagaimana dengan bahasa inggris? Wuah.. akun pembelajaran bahasa ini lebih seabreg sepertinya. Tak hanya dibuat oleh penutur asli namun juga oleh orang-orang lokal Indonesia atau pun lembaga-lembaga penyedia kursus Bahasa Inggris. Salah satu yang saya notice adalah akun sluggish_journey milik seorang wanita Indonesia bernama Ida. Menarik, karena ia banyak mengenalkan kosakata maupun ekpresi-ekspresi yang sering digunakan  dan bermanfaat untuk percakapan sehari-hari. Ida juga mengajarkan padanan kata dalam Bahasa Inggris untuk menerjemahkan suatu kata dalam Bahasa Indonesia. 

Bisakah efektif?

Belajar online memang praktis namun perlu kedisiplinan jika ingin menguasai bahasa tersebut dengan baik. Pertama, materi yang diajarkan di akun-akun Instagram dan sebagian channel biasanya mengenai kosakata dan ekspresi umum yang durasinya tidak terlalu lama. Memang lebih praktis tapi menguasai bahasa tak cukup dengan punya banyak kosakata. Belajar struktur untuk mengetahui penggunaan kosakata itu dalam kalimat juga perlu begitu pula hal-hal lain untuk menunjang penguasaan skill berbahasa. Jika ingin menambah lagi, harus mengikuti materi yang lebih lengkap misalnya di saluran YouTube. Banyak yang menyediakan pembelajaran lengkap seperti , latihan mendengarkan , memahami video dan sebagainya. Kedua, butuh kedisiplinan untuk mempelajari bahasa asing secara autodidak. Perlu waktu khusus untuk menyimak, memahami, dan mempraktekkan materi yang sudah didapat  Beberapa bahasa bahkan memiliki huruf-huruf khusus hingga perlu waktu juga untuk memahami dan mengetahui cara penulisannya. 

Banyak yang berhasil belajar bahasa secara online, banyak pula yang kesulitan dan tetap butuh guru yang mengajarkan secara tatap muka. Kita sendiri yang tahu, kita tipe pembelajar seperti apa. Jika memang hanya untuk mengetahui ilmu dasar bahasa tersebut, nampaknya belajar online bisa menjadi option yang cukup bisa diandalkan.

Senin, 24 Februari 2025

The Most Beautiful Girl In The World : Film Indonesia Rasa Drama Asia

 


Film Indonesia NetFlix terbaru ber-genre romantic comedy. Menampilkan 2 bintang utama dengan kemampuan akting tak diragukan , Reza Rahardian dan Sheila Dara. Apakah filmnya se-cemerlang bintangnya?

Cerita dibuka dengan adegan panggung sebuah reality show "The Most Beautiful Girl In the World" yang dipandu 2 host, Rigen Rakelna dan Indra Jegel. Disebutkan, kalau acara malam itu adalah malam puncak program tersebut, saat seorang pria  lajang akan memilih 1 dari 5 wanita cantik yang masuk ke final untuk menjadi pasangan kencannya. Nampak 3 orang petinggi stasiun televisi yang menayangkan program itu, Reuben Wiraatmadja (Reza Rahardian), Gunadi Wiraatmadja (Bucek Depp) dan Agung Santoso (Indra Birowo) duduk di baris terdepan menyaksikan acara. Tak dinyana, saat mereka diminta menyalami para finalis, sebuah insiden terjadi. Salah satu wanita finalis menampar Reuben. Belakangan, diketahui kalau si wanita adalah pacar Reuben yang tak terima diputuskan beberapa saat sebelumnya.

Cerita kemudian bergulir. Reuben yang katanya playboy punya hubungan tak harmonis dengan ayahnya, Gunadi. Salah satu perdebatan mereka adalah tentang program reality show The Most Beautiful Girl yang menurut Reuben enggak banget. Acaranya settingan dan dibuat hanya demi rating. Gunadi berdalih, walaupun settingan tapi penonton suka dan itu berarti untung besar untuk Win TV stasiun TV mereka. Walaupun sering berdebat, Gunadi tetap berharap putra tunggalnya yang sebenarnya brilian itu bisa menjadi penerusnya mengurusi WinTV. Reuben sendiri sebenarnya tipe idealis yang tidak suka komitmen termasuk untuk menikah karena ia merasa trauma ditinggalkan ibunya tiba-tiba sejak kecil.  Ada pula para karyawan WinTV dan kolega mereka. Salah satu karyawan WinTV, Kiara Clarissa (Sheila Dara) menarik perhatian Reuben karena berani mendebatnya. Kiara yang suka muntah-muntah kalau sedang stres itu sebenarnya bermimpi menjadi produser acara TV dan bisa membeli apartemen impiannya. Itu pula yang membuatnya berusaha bertahan walaupun tak suka dengan bos-nya Reuben.

Masalah muncul saat Gunadi tiba-tiba meninggal. Sahabat sekaligus pengacara keluarga Wiraatmadja mengumumkan isi surat wasiat yang dibuat Gunadi untuk putranya, Reuben. Disebutkan, Reuben akan mewarisi seluruh aset dan kekayaan sang ayah dengan syarat ia harus menikah dulu dengan wanita tercantik di dunia. Reuben yang antimenikah dan lebih suka bermain-main dengan wanita, jelas merasa tak suka. Tapi demi mendapatkan warisan itu, mau tak mau ia harus memutar otak agar bisa segera menemukan wanita tercantik dan menikahinya. Tercetuslah ide untuk mencari pasangan lewat program reality show TV mereka, The Most Beautiful Girl dan Kiara  ditunjuk sebagai produsernya. Dua orang yang sebenarnya suka berseteru ini dipaksa untuk berkomunikasi intens untuk membuat program itu berhasil. Sampai Reuben akhirnya menemukan pemenang yang ia pilih sendiri dan sesuai janjinya harus ia nikahi.

Sebuah peristiwa tak terduga membuat Reuben dan Kiara menjadi dekat. Hingga Reuben menyadari, makna cantik sesungguhnya tak selalu berarti cantik fisik. Apakah ia menemukan itu pada diri Kiara? Bagaimana nasib wanita yang telah telanjur dipilih Reuben dari reality show sebelumnya?

Nuansa Drama Asia

Jujur saja ketika menonton film ini, saya berharap banyak pada 2 bintang utamanya, Reza yang langganan masuk nominasi Piala Citra dan pernah meraih 2 piala, Sheila juga pernah meraih piala tersebut. Ternyata ekspetasi saya tak terpuaskan. Film ini terasa tak terlalu istimewa dan akting keduanya tidak terlalu tereksplore dengan baik.

Ada beberapa bagian cerita yang malah mengingatkan saya pada drama-drama Asia yang pernah saya tonton. Tampilan WinTV dengan semua vibes-nya, mengingatkan saya pada cerita-cerita drakor yang memang tak pernah setengah-setengah menampilkan background cerita hingga nampak sangat nyata. Ketika Reuben dan Kiara tiba-tiba terdampar di sebuah pulau terpencil dan beberapa adegan di dalamnya, membuat saya teringat pada adegan film Hana Yori Dango The Movie. Terdampar berdua dijadikan alasan logis kenapa akhirnya kedua orang ini saling jatuh cinta. Adegan Reuben menonton potongan rekaman video lama saat ibunya masih ada juga terasa familiar. Boleh jadi penulis skenario terinspirasi drama-drama itu atau memang sengaja dibuat begitu agar lebih menarik.

Hal lain, karakter Reuben yang katanya playboy tak terlalu tergambarkan dengan baik.  Hanya ada adegan dia ditampar seorang wanita yang diputuskannya dan kebersamaanya dengan seorang wanita di pub.  Selebihnya tidak ada.  Jadinya, cap playboy itu seperti hanya wacana saja. Tentang keduanya yang yang tiba-tiba terdampar di pulau juga agak membingungkan. Reuben yang biasa hidup nyaman dan berkecukupan mendadak begitu terampil mendirikan tempat berteduh darurat bahkan mencari ikan menggunakan tongkat bambu. 

Terlepas dari itu, film ini menjadi trending no 8 di NetFlix. Kembali ke soal selera ya.. Bisa jadi, orang-orang punya pendapat berbeda dengan saya dan malah menyukainya.

Minggu, 23 Februari 2025

Ramuan Cerita Ala Drama Korea


Drama Korea alias drakor jadi favorit banyak wanita di Indonesia dengan berbagai alasannya. Mulai dari ceritanya yang bisa mengaduk-aduk perasaan, pemainnya yang ganteng dan cantik, aktingnya yang bagus dan sebagainya. Kalau diperhatikan, cerita-cerita  drakor ini memiliki banyak persamaan yang boleh dibilang, klise dan terkesan cheesy. Tapi mungkin itu yang malah membuat drakor digandrungi. "Ramuan" cerita yang jadi resep drama-drama itu di antaranya: 

1. Cinta antara si kaya dan si miskin atau si biasa-biasa aja-- si kaya biasanya pemeran utama laki-lakinya. Profesi paling sering sebagai CEO. Pokoknya si cowok tergolong chaebol alias konglomerat alias sultan yang punya kekuasaan dan pastinya punya duit banyak tak terhingga. Karakter khasnya, si chaebol ini dingin, ngeselin, sombong lalu tetiba ketemu pemeran wanitanya yang punya sifat bertolak belakang dan biasanya berasal dari keluarga biasa saja bahkan jadi karyawannya. Tentu ini nggak selalu ya.. Ada juga yang pakai "ramuan"  lain, misalnya si perempuannya yang kaya  atau keduanya berasal dari kalangan biasa. 

2. Punya second lead-character yang juga kiyowo. Pemilihan second-lead ini kayaknya cukup berperan penting dalam sebuah drama Korea karena mereka juga punya porsi cerita sendiri bahkan bisa menjadi daya tarik drama tersebut. Kadang, justru si second-lead ini yang lebih mencuri hati penonton. Second-lead bisa berperan sebagai sahabat pemeran utama, sekretaris (ini paling sering), atau saudara kandung. Kadang, second-lead ini juga dipasangkan biar jadian, walaupun nggak selalu ya hehe..

3. Punya cerita masa lalu -- Ini juga hampir selalu ada di naskah cerita dan bisa menjadi alasan logis kenapa si pemeran utama punya karakter atau fobia tertentu. Bisa jadi, kisah masa lalu itu ada hubungannya dengan pemeran utama lain atau pemeran penting lainnya dalam cerita. Misalnya, dalam peristiwa lalu itu, si pemeran utama ditolong oleh seseorang yang punya hubungan dengan pemeran utama wanita yang kebetulan disukainya. Skenarionya sih nggak selalu persis begitu tapi kurang lebih sama idenya.

4. Family issues -- Persoalan keluarga hampir selalu menjadi bumbu cerita drama Korea, kadang ada hubungannya dengan cerita masa lalu pemeran utamanya. Sampai saya berpikir apakah memang mayoritas orang Korea mengalami masalah keluarga yang super serius itu, sampai berefek ke kepribadian si tokoh di kemudian hari. Yang umum diangkat misalnya pemeran utamanya dicampakkan orang tua atau mengalami kecelakaan hingga hidup sebatang kara, orang tuanya pemabuk atau suka melakukan kekerasan, tinggal dengan orang tua tunggal, tinggal hanya dengan nenek atau kakeknya dan sebagainya. Tidak seperti di Indonesia, kayaknya kalau di Korea begitu kita kehilangan orang tua, nggak ada yang mau peduli. Apalagi mereka biasanya hanya punya sedikit anak saja. 

5. Momen berdua -- biasanya untuk 2 pemeran utamanya. Yang paling khas, adegan main berdua ke taman bermain. Si cowok yang kaya, menyewa taman itu agar pujaan hatinya bisa puas menikmati seluruh wahana tanpa gangguan. Atau jalan-jalan sambil nyobain makan pinggir jalan, membeli barang-barang random dan semacamnya. Para penonton merasa terhibur melihat sweet moments ala-ala ini sambil menertawakan sikap si pemeran utama yang kaya tadi karena nggak pernah melakukan hal-hal yang nampaknya remeh itu seumur hidupnya. 

6. Surprise... surprise..  --- Pergi ke taman bermain bisa jadi salah satu bentuk kejutan manis yang bikin meleleh. Ramuan lain adalah kejutan sederhana yang tetep bikin meleot karena dilakukan dengan penuh effort apalagi kalau dilakukan chaebol yang biasanya tinggal main perintah. Bentuk surprise-nya, misalnya masangin lampu warna-warni, masak untuk berdua dan sebagainya. 

7. Act of Service  --- yang nampakna sederhana tapi bikin penonton melting. Nampaknya, penulis skenario drama Korea pinter banget mencari dan menciptakan momen dan act yang sederhana tapi manis ini. Misalnya yang udah umum banget, memperbaiki tali sepatu, memasangkan alas kaki, memayungi saat hujan, sampai masangin plester saat si cewek atau cowoknya terluka. Duh.. duh...

Nah..nah... penulis sendiri sampai sebegitu hafalnya adegan-adegan di drakor ya.. Bukan penggemar sih tapi suka menyimak aja hihi... Makanya, mungkin ada detail cerita khas yang terlewat di tulisan ini... Menurutmu?

Senin, 06 Maret 2023

Mari Belajar Di Akademi Pernikahan

 

pict: www.greenrabbitflowers.co.uk

Mungkin sejak setahun belakangan, mulai bermunculan Majelis Taklim yang menawarkan kajian mendalam berseri tentang persiapan pernikahan. Jika diamati, “akademi” penggonjlok para single ini biasanya membahas beberapa materi. Mulai dari tips dan trik memilih calon pasangan hidup, visi misi pernikahan, persiapan ilmu setelah menikah seperti ilmu menyiapkan diri sebagai suami atau istri, hingga ke persiapan finansial dan ilmu  mendidik anak. Pembicara materi-materi ini juga kompeten , beberapa di antaranya sudah banyak dikenal. Calon peserta biasanya diminta membayar sejumlah uang sebagai investasi. Ada yang diadakan online, ada pula yang offline. Beberapa kali saya pun dikirimi panitia kajian sejenis, mengajak untuk ikut serta sekaligus membantu menyebarkan informasi kajian mereka.

Terdorong Untuk Belajar

Kemunculan kajian-kajian pra-nikah ini jarang ada di zaman saya dulu. Kalaupun ada, gebyarnya mungkin tak sesemarak sekarang karena tempat-tempat penyelenggara kajian pun belum terlalu banyak. Obrolan tentang “menikah” saat kuliah atau setelah lulus sekalipun, nampaknya hanya menjadi obrolan diam-diam antar teman dekat saja 😊. Kadang ada rasa malu atau segan saat mengikuti kajian pranikah apalagi jika masih di awal-awal tahun kuliah. Seperti khawatir dicap “kebelet nikah” haha..

Ilmu pranikah biasanya didapat melalui majalah-majalah islam atau buku. Salah satu buku yang meledak di masa saya adalah buku Kupinang Engkau Dengan Hamdallah karya Ustadz Muhammad Faudhil Adzim. Saya ingat saat kuliah dulu ada pula sebuah majalah islam yang membahas tentang pernikahan kira-kira judulnya serupa dengan buku fenomenal itu. Wah… kayaknya hampir semua teman saya – di Rohis Fakultas -membicarakannya. Konon majalah itu laku keras dan majalah nomor itu mendadak sulit didapat di lapak-lapak koran.

Saat kini informasi sudah semakin mudah didapat, kesadaran tentang perlunya membekali diri sebelum menikah juga semakin besar. Kalau dulu generasi lama belajar soal pernikahan langsung dari hasil melihat rumah tangga orang tua dan saudara, kini kita seolah bisa “melongok” langsung pernikahan orang banyak dari media sosial. Baik buruknya pernikahan dari hasil menyimak, mendengar dan menonton ini jadi pembelajaran tidak langsung bagi generasi kini hingga terdorong untuk merasa perlu menyiapkan diri lebih baik lagi sebelum benar-benar menjalaninya sendiri.

 

Tak Melulu Dengan Teori

Adanya kajian-kajian pranikah ini tentunya perlu diapresiasi dan disambut baik. Dalam Islam, pernikahan tak sekedar menyatukan dua insan dalam sebuah lembaga halal. Lebih jauh lagi, menikah adalah ibadah. Menjalaninya tentunya tak cukup hanya bermodal niat, keseriusan apalagi sekedar cinta tapi juga butuh ilmu.

Tak ada salahnya para jomblowan jomblowati mengikuti kajian-kajian ini. Namun menurut saya pada akhirnya saat menjalani pernikahan sesungguhnya kita tak hanya bisa berpegang pada teori. Seperti halnya ilmu-ilmu lain, kadangkala teori menyatakan A namun saat menjalaninya kita harus melakukan B yang bisa jadi tidak pernah terbahas dalam teori yang kita pelajari. Kecuali panduan ilmu syar’I, kadangkala tidak ada teori pasti dalam menjalani sebuah pernikahan. Banyak faktor lain yang membuat kita mampu mengarungi pernikahan itu.

Ilmu yang diperoleh dalam kajian-kajian itu sesungguhnya adalah salah satu modal saja. Selanjutnya, barengi lagi dengan tambahan ilmu-ilmu lain. Banyak bertanya, berdiskusi dengan “senior” juga banyak membantu. Tidak kaku, tidak teoritis namun tidak juga apatis dengan tawaran belajar di kajian-kajian ini.

 

Rabu, 26 Oktober 2022

Bernostalgia Lewat YouTube

Kayaknya bukan rahasia lagi kalau  di YouTube orang bisa menemukan rupa-rupa video bahkan dari tahun jadul sekalipun. Sebagai generasi lama, saya memanfaatkan web ini untuk memuaskan kesukaan saya mendengarkan lagu-lagu lawas yang dulu bahkan tak saya tahu video klipnya. Ini beberapa lagu "temuan" saya..


Lagu lama yang cukup dikenal pada tahun 94-an kalau tidak salah ingat. Waktu itu, Cindy sedang naik daun dengan lagunya yang lain, Aku Sayang Kamu. Tiba-tiba saya mendengar request lagu di radio dari teman sekolah saya. Ya ini lagunya.. Saya langsung suka walaupun sebenarnya lagunya nggak terlalu istimewa sih.. hehe..





Ini lagu yang selalu saya ingat. Saya suka lagu-lagunya Air Supply lalu membaca lirik lagu ini di majalah. Saya coba terjemahkan, kebetulan saya sedang semangat belajar Bahasa Inggris. Liriknya ternyata amat puitis. Sampai-sampai saya tuliskan khusus di buku lagu saya.. So.. memorable..

Dulu hanya pernah mendengar lagu soundtrack film ini di radio. Lalu saat menonton filmnya, Catatan Si Emon, di televisi, saya mendengar lagu ini lagI. Nggak pernah tahu siapa penyanyinya. Eh ternyata yang nyanyi Kris Dayanti masa masih remaja :) dan masih meniti awal karir. Hanya saja, saya itu ia masih menggunakan nama panggung, Dayanthie.





Mohon maaf kalau saya banyak membahas lagu 90-an ya... karena saat itu saya lagi senang-senangnya denger lagu, apalagi kalau lagi galau haha.. Ini salah satu lagu yang saya suka dari Titi DJ dari albumnya yang juga memuat lagu terkenal kala itu, Bintang-Bintang





Ini terhitung lagu paling "baru" yang saya bahas di sini. Terkenal di tahun 2002-an kalau tidak salah ingat. Lagu ini yang melambungkan nama Numata, trio musisi kakak beradik yang ternyata putra-putri penyanyi terkenal zaman dulu, Tety Kadi. Eh.. nggak tahu kenapa kok saya sempat suka sama vokalisnya.. Kayaknya cool gitu haha.. 

Selasa, 17 November 2020

Song-Song Couple : Cinta Yang Berubah

 

Song Joong Ki dan Song He Kyo nampak begitu ideal sebagai pasangan. Tak ada yang meragukan cinta Joong Ki yang mengakui telah lama mengagumi Hye Kyo. Lalu, mengapa cinta itu seolah hilang dengan cepat dan mereka tak mampu bertahan?

source: youtube


Tak bisa dipungkiri, sukses besar drama Korea Descendants Of The Sun pada 2016 tak lepas dari kecemerlangan akting para pemainnya. Chemistry yang terjalin di antara mereka mampu membuat drama ini nampak lebih real selain tentu saja membikin baper.  

Song Joong Ki dan Song He Kyo yang berperan sebagai sepasang kekasih dalam drama ini sukses membuat penonton termehek-mehek. Sebutan Song-Song couple muncul sebagai bukti betapa orang memuja keduanya. Akting mereka dalam drama itu dinilai jempolan sampai-sampai saat itu banyak fans yang mendoakan keduanya beneran berjodoh di dunia nyata. Banyak pula fans yang sengaja membuat video tentang mereka. Intinya sih mencocok-cocokkan keduanya agar beneran bisa bersatu. Apalagi katanya, Jong Ki nampak benar-benar suka dengan lawan mainnya yang cantik itu. Terang-terangan ia menunjukkan kekagumannya pada Hye Kyo walaupun saat itu Kyo nampak tak terlalu menanggapi.

Maka ketika Song-Song betul-betul menikah, yang paling girang adalah para fans mereka. Pernikahan keduanya bak dongeng yang jadi nyata. Yang satu ganteng yang satu cantik. Si pria nampak begitu memuja wanitanya. Si wanita juga nampak bahagia di hari pernikahannya. Setelah itu, para fans fanatik ini lalu berharap keduanya segera diberi momongan. Malah ada yang mereka-reka akan seperti apa bayi pasangan ini kelak. Sudah pasti akan serupawan ibu bapaknya, begitu kata para netizen yang sok tahu.

Tak dinyana, pernikahan mereka hanya seumur jagung. Dua puluh bulan setelah pernikahan menghebohkan itu, Joong Ki dan Hye Kyo mengumumkan perpisahan setelah publik sebelumnya sempat menerka-nerka hubungan mereka telah merenggang. Sampai kini, para fans tetap dibuat penasaran apa yang membuat pasangan yang nampak ideal ini memutuskan bercerai. Apakah karena kesibukan yang membuat mereka jarang bertemu, apakah Hye Kyo terlalu mandiri hingga merasa pernikahan itu membuatnya terkekang, apakah cinta tak cukup untuk mengikat keduanya?

Soal sebab pasti mengapa Song-Song berpisah, tentu hanya mereka yang tahu. Saya pun tak terlalu kepo mencari tahu karena apa urusan saya hehe.. Hanya saja, sebagai orang yang telah menikah, saya terpikir untuk membuat tulisan tentang pernikahan yang terinspirasi dari kisah keduanya berdasarkan pengalaman saya selama ini.

Cinta Yang Berubah

Saat masih muda, kita mengira bahwa cinta satu-satunya alasan tepat untuk bersama selamanya dengan seseorang. Siapa pula yang tak mau selalu dekat dengan yang dicinta? Rasanya, sesulit apapun, hidup akan terasa ringan jika dijalani dengan yang tercinta. Gula jawa aja bisa terasa kayak coklat, begitu perumpamaan perasaan orang yang sedang cinta-cintanya. Bahkan sifat atau karakter buruk pasangan pun termaafkan dengan mudah karena cinta kita yang besar kepadanya.

Di awal pernikahan, cinta mungkin masih mendominasi hari-hari kita. Memasuki hitungan bulan, kita akan dihadapkan pada realita sesungguhnya. Bahwa kebiasan buruk pasangan yang dulu kita maklumi jadi terasa menyebalkan, bahwa pasangan yang dulu romantis setelah menikah kita anggap tak lagi seromantis dulu, bahwa banyak hal yang mungkin dapat melunturkan cinta yang dulu menggebu, bahwa rutinitas bisa menciptakan kebosanan, bahwa kebiasaan keluarga besar kita dan pasangan yang berbeda bisa menyulut masalah baru, bahwa kesibukan masing-masing membuat kita dan pasangan merasa jauh.. Kehadiran anak (-anak) juga membuat hidup kita berubah. Waktu untuk berduaan jadi minim, prioritas hidup yang tak lagi sama, penampilan istri yang mungkin tak se-kinclong dulu dan seterusnya.

Mungkin cinta memang tak pergi kemana-mana. Ia masih ada namun telah bersalin rupa. Tak lagi berupa cinta yang menggebu yang membuat kita begitu bahagia saat sekedar bisa memegang tangan pasangan kita. Cinta, kata yang telah menjalani pernikahan lama, akan bertransformasi menjadi rasa respek. Kita mungkin tak lagi merasakan cinta bak remaja kasmaran tapi telah mewujud jadi cinta yang lebih dewasa.

Masalahnya, tak semudah itu pula mempertahankan cinta. Cinta yang ada jika tak dirawat akan pergi juga. Syukur jika hanya berubah wujudnya tapi jika hilang, perekat itu sudah tak lagi ada. Penyebabnya bisa beragam. Ingat, ketika menikah banyak faktor intern dan ekstern yang berpotensi menimbulkan konflik. Jika tak terselesaikan dengan baik, konflik akan terus terjadi. Kekecewaan, rasa marah dan semacamnya akan menumpuk dan menjelma jadi bom waktu yang siap meledak kapan saja dan perlahan melunturkan cinta. Semakin lama dibiarkan akan semakin banyak tumpukan “sampah” emosi itu.

Menghadapi ini, cinta jadi punya porsi yang tak terlalu besar lagi dalam kehidupan pernikahan. Kedewasaan, kelapangan hati, komunikasi punya peran yang jauh lebih penting. Belum lagi soal visi. Ini berhubungan dengan tujuan pernikahan. Mau dibawa kemana pernikahan kita dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan pernikahan itu. Bisa jadi, di awal pernikahan kita punya visi yang sama dengan pasangan. Namun seiring waktu, bisa saja visi itu berbeda karena beragam sebab. Jika tak segera disamakan kembali, kapal rumah tangga bisa oleng dan karam.

Begitulah. Jika sebelum menikah Joong Ki sangat memuja wanitanya, amat berbinar ketika berada di sampingnya, setelah menikah semuanya bisa berubah. Mungkin cinta memang tak hilang. Namun jika tak dijaga, cinta jadi kalah oleh realita, tak mampu menyelamatkan kapal rumah tangga. Hye Kyo mungkin sama cintanya. Tapi banyak hal yang dialami setelah menikah juga bisa melunturkan cinta. Kalaupun cinta itu masih ada, terkadang jadi pertimbangan ke sekian jika merasa ada pelanggaran hal prinsip yang tak bisa lagi ditoleransi. Eh.. saya bukan sedang menganalisa penyebab retaknya mereka ya.. Hanya saja, hal-hal seperti di atas mungkin terjadi pada rumah tangga bintang atau rumah tangga siapapun dan dimanapun.

Saya percaya, pernikahan yang langgeng memerlukan perjuangan seumur hidup. Tak hanya bisa didapat dengan modal cinta dan niat ingin menikah saja. Beradaptasi terus menerus, penyamaan visi pernikahan terus menerus, mencari ilmu bersama terus menerus, adalah ikhtiar pernikahan awet. Tentu saja sembari terus berdo’a agar Allah melanggengkan pernikahan kita, berharap pernikahan itu tak hanya seumur jagung bagai Song-Song couple.

 

 

 

 


Wanita Indonesia Tumbuh Bersama Femina

 

Sebut satu majalah wanita, bisa jadi Femina jadi salah satu nama yang muncul di kepala. Majalah ini bagai “buku pedoman” yang wajib dibaca oleh para wanita khususnya di perkotaan dan memiliki banyak pembaca loyal.

  “Perkenalan” saya dengan Femina terjadi saat saya SMU. Saat itu, Mama saya sering membeli majalah ini. Saya yang suka baca ikut-ikutan melihat-lihat Femina. Saya menyukai majalah ini karena bahasanya yang enak dibaca selain artikel-artikelnya. Saya suka rubrik Kisah yang menceritakan kisah hidup publik figur dalam dan luar negeri. Yang saya sukai, Femina seringkali mampu mengorek sisi lain tokoh yang tak saya temui di media lain dengan bahasa khas Femina. Saya ingat pernah membaca kisah Marlyn Monroe, Ernest Hemmingway, Garin Nugroho, Ruth Sahanaya sampai Eko Patrio sempat saya baca di rubrik itu.

Rubrik Fiksi Femina juga jadi favorit saya selain Rubrik Gado-Gado. Tulisan pendek satu halaman yang mengangkat cerita sehari-hari ini termasuk banyak juga penggemarnya. Tulisan saya malah pernah 2 kali dimuat di rubrik Gado-Gado. Yang juga sering saya baca adalah Rubrik Tips-Tips Praktis seperti tips memasak atau tips berbusana. Femina juga seringkali mengangkat topik yang sedang in saat itu di rubrik Liputan Khas atau Rupa-Rupa, jadi wawasan saya juga bertambah.

Saat kuliah, saya hanya membaca Femina kalau pulang ke rumah. Nggak sanggup beli sendiri J.. Sampai akhirnya, saya menemukan koleksi Femina yang lengkap di sebuah tempat penyewaan bacaan. Femina jadi salah satu bacaan yang sering saya sewa. Saya lupa berapa harga sewanya saat itu. Kalau tak salah hanya 1500 rupiah per majalah. Kadang, saya bisa menyisihkan uang untuk membeli Femina baru. Koleksi Femina saya ada yang masih tersimpan rapi hingga kini, ada pula yang saya jual atau buang karena saat itu saya harus pindah rumah.

 

Femina Edisi Perdana 
       (source: ensiklopedia sastra Indonesia

Sejarah Femina

Perjalanan Femina menjadi sahabat wanita Indonesia ditandai dengan terbitnya edisi perdana majalah ini, bersampul seorang wanita bertangan 10 dan anaknya pada 18 September 1972. Edisi newborn itu sudah menampilkan artikel tentang tren belajar membatik, mode, make up, sampai trik pencahayaan dan warna untuk interior rumah.

Tiga wanita pendiri Femina, Mirta Kartohadiprojo, Widarti Gunawan dan Atika Makarim bermimpi untuk dapat lebih memberdayakan, meningkatkan kesejahteraan serta memperbaiki kualitas wanita itu sendiri. Bukan hal mudah bagi Femina membuka jalan itu karena di awal Femina terbit situasi jauh berbeda dengan sekarang. Kiprah wanita di ruang publik terhitung jarang. Masih ada norma tertentu yang memosisikan wanita sebagai pihak yang tak berdaya.

Sejak awal, Femina telah berhasil menarik keingintahuan pembacanya. Kata Widarti, majalah ini di mata pembacanya seperti kamus serba ada, yang bisa ditanyai mulai dari soal rumah tangga sampai soal menjahit baju. Dulu, Redaksi Femina yang berkantor di garasi kediaman Pia Alisjahbana di Jalan Sukabumi Menteng sering kebanjiran pertanyaan. Pada masa itu, saluran komunikasi hanya ada 2: melalui telepon dan surat,

“Dari situlah, muncul ide untuk membuatkan acara buat pembaca. Tujuan awalnya sebetulnya untuk memindahkan rubrik populer Femina menjadi pertemuan.” Tutur Widarti.  Acara yang sudah digelar mengangkat topik beraneka rupa mulai dari kuliner, gaya hidup, hobi hingga fashion.

Femina menyapa pembacanya sebagai wanita aktif bukan wanita karier atau wanita bekerja. Kendati dulu belum banyak wanita yang menjadi wirausaha, namun Femina sudah menyadari wanita pun bisa berpenghasilan sendiri tanpa harus ke kantor. Di kemudian hari, Femina bahkan membidani event yang menjadi “penemu” para wirausahawan wanita sukses melalui Lomba Wanita Wirausaha, maupun mengadakan beragam seminar wirausaha.

Event lain yang juga digagas Femina dan para alumninya dikenal luas adalah Wajah Femina, Lomba Perancang Mode (LPM), Lomba Perancang Aksesoris serta Lomba Cerpen dan Cerber Femina. Wajah Femina misalnya telah menelurkan banyak publik figur berprestasi, tak hanya di bidang modelling namun juga bidang lain seperti dunia hiburan dan jurnalistik.

Femina pun menggagas Jakarta Fashion Week pada 2008 yang mewadahi para perancang mode Indonesia untuk menampilkan karya-karyanya, tak hanya di hadapan publik lokal tapi juga internasional. Event ini diharapkan menjadi pembuka jalan bagi dunia mode Indonesia agar dapat berkiprah di dunia mode dunia.

Seiring waktu, Femina menerbitkan “adik” dan “saudara” satu grup seperti Majalah Gadis (untuk remaja putri), Cita Cinta (untuk wanita dewasa awal), Dewi (untuk wanita usia matang 40-an ke atas), Ayahbunda (majalah untuk pedoman tumbuh kembang bayi)  dan beberapa majalah franchise.

Imbas Majalah Digital

Awalnya, Femina terbit mingguan. Tebal majalah bervariasi begitupun jenis kertas yang digunakan. Pada masa krisis moneter akhir 90-an sampai awal 2000-an, Femina terkena imbasnya, tampil lebih tipis dibandingkan sebelumnya.

Gempuran media online dan digital membuat oplah Femina makin menurun. Harus diakui, nampaknya majalah ini, juga media cetak pada umumnya, lamban melakukan antisipasi terhadap adanya perubahan besar industri media  yang sudah terjadi sejak 2 dekade lalu.

Femina Edisi Mei 2020
(source:ebook.gramedia)

Sejak 2017, Femina tak lagi terbit mingguan tapi 2 mingguan. Kemudian terbit bulanan dan tahun ini malah terbit tak tentu. Edisi terakhir Femina terbit pada November 2020 setelah edisi sebelumnya terbit pada Mei 2020. Nampaknya, kini Femina mengandalkan pembaca majalah online juga berinteraksi melalui media sosial seperti Instagram dengan mengadakan beberapa event rutin.

Walaupun memiliki lini online, nampaknya hal ini belum mampu mengangkat oplah jual Femina.  Hal ini berimbas pada keuangan perusahaan. Pada 2016, para karyawan Forum Komunikasi Karyawan Femina Grup mengadukan nasib mereka pada Lembaga Bantuan Hukum Pers. Mereka mengeluhkan gaji yang dicicil, awalnya 2 kali dengan perbandinga 50;50. Sampai pada Juli 2017, gaji mereka mulai tak jelas.  Terkadang gaji dicicil lebih dari dua kali, dengan skema persentase tak tentu. Bisa hanya 10:10:20 persen atau 40 persen, tetapi tidak pernah mencapai 100 persen lagi.

Femina Edisi November 2020
(source: twitter/Femina)


Femina masih berjuang untuk bertahan di tengah gempuran zaman juga preferensi pembaca yang lebih memilih media digital dengan alasan kepraktisan. Jika gagal, Femina akan mengikuti jejak majalah “saudara” nya Cita Cinta dan media franchise lain yang bernaung di grup yang sama. Kemudian, saya dan pembaca lainnya hanya akan mengenang Femina. Keberadaan majalahnya akan menjadi koleksi langka juga menjadi saksi akan pernah adanya majalah wanita berkelas yang menjadi teman tumbuh wanita Indonesia. (sebagian sumber dari kumparan.com)

 

 

 

Rabu, 11 November 2020

Nostalgia 3 Masakan Tradisional

Murah, sederhana, mudah dibuat dan tentu saja lezat. Masakan tradisional yang agak mustahil bakal jadi favorit anak generasi YouTube 

 1. Sayur Rebung (Iwung)

Foto: Dok Pribadi

Rebung adalah tunas muda yang tumbuh dari akar bambu. Teksturnya renyah dan aromanya khas. Orang Sunda menyebutnya iwung. Masa saya kecil, Mama terhitung sering memasak iwung di rumah. Iwung-nya lebar-lebar. Mama biasa memasak iwung dengan santan ditambah sedikit cabai. Yang saya ingat, aroma sayur iwung saat masih hangat. Haruum sekali. Menggugah nafsu makan. Seingat saya, hanya saya dan Mama yang suka makan sayur iwung. Sementara Papa dan adik saya tak begitu suka. 

Setelah merantau dan menikah, nyaris tak pernah saya memasak iwung. Saya pun melihat jenis iwung di perantauan lain dengan di kampung halaman. Iwung- nya kecil-kecil tidak selebar di tempat saya yang biasa dimasak Mama. Sebulan lalu, saya coba bernostalgia dengan memasak lagi sayur iwung itu. Karena doyan pedas, saya tambahkan lebih banyak cabai. Aromanya mengingatkan saya pada masa kecil dulu. Mau coba resep sayur iwung ala saya? Bahan-bahannya hanya 2 siung bawang merah, 2 siung bawang putih, cabai rawit merah sesukanya, daun salam, daun serai digeprek, garam, santan. Jangan lupa rebungnya. Pilih yang muda agar teksturnya tidak keras. 
Foto: Dok Pribadi

2. Tumis Kulit Melinjo
Pertama kali mencoba masakan ini saat berkunjung ke kosan teman masa kuliah dulu. Teman saya bilang “jaket” karena bahannya diambil dari “jaket” atau kulit melinjo. Padahal waktu itu kulit melinjonya hanya ditumis saja tapi saya suka. Mungkin karena bumbunya pas, pedas pula. Kata teman saya, ini masakan murah meriah. Cocok dimasak kalau nggak punya duit  Benar ternyata, ketika saya merantau, masakan ini biasa saya buat kalau pas uang cekak. Murah hanya 5 ribu sebungkus. Dapatnya lumayan banyak haha.. Bahan-bahannya, cukup bawang merah, bawang putih, garam, daun salam, dan cabai rawit kalau ingin rasa pedas. Bumbunya bisa diulek dulu atau langsung ditumis saja. 

 3. Tumis terubuk
Terubuk atau trubus sesungguhnya adalah bunga tebu. Di Jawa Barat biasa disebut turubuk. Teksturnya mirip dengan telur ikan. Terubuk yang biasa dimakan adalah yang berusia sekitar 5 bulan. Bagian yang dipanen adalah bagian 'malai' yang masih muda sedangkan yang dikonsumsi adalah bagian bunga yang terbungkus dengan pelepah daun atau dikenal dengan istilah kelobot

Terubuk biasa dimakan dalam bentuk mentah sebagai lalaban, dikukus atau ditumis atau menjadi sayur lodeh. Kadang sebagai campuran kare atau sayur asem. Masa saya kecil, terubuk biasa dimasak dengan ditumis saja. Entah kenapa, tumis terubuk buatan Mama rasanya super enak. Bumbunya pas. Yang paling saya ingat, saat menyantap tumis terubuk hangat saat sahur. Hmmm … Bikin semangat makan sahur. Bahan-bahan tumis terubuk: bawang merah, bawang putih, cabai rawit, tomat, garam.

Senin, 09 November 2020

Lagi- Lagi Video Tak Senonoh..

 

Untuk ke sekian kalinya, sebuah video yang memerlihatkan adegan intim beredar di media sosial. Yang menghebohkan, pelakunya adalah seorang wanita yang katanya mirip artis cantik GA dengan seorang pria bertubuh kekar entah siapa. Ada yang menduga, si pria dalam video berdurasi 19 detik itu adalah manager si artis, ada juga yang menyangka kalau pria tersebut salah satu pemain band pengiringnya. GA sendiri memberikan jawaban mengambang, tak mengiyakan atau menolak kalau wanita dalam video itu adalah dirinya. Sementara pria yang diduga ada dalam video sudah mengklarifikasi kalau itu bukan dirinya. Belum habis kehebohan publik, muncul lagi video sejenis yang juga menampilkan seorang wanita mirip artis.  Belum ada klarifikasi yang bersangkutan terkait video ini.

Dua peristiwa ini mengingatkan publik pada hal serupa yang terjadi belasan tahun ke belakang. Saat itu, video asusila seorang vokalis band besar dengan 2 wanita berbeda tersebar. Ada pihak yang mengaku walaupun ada pula yang sampai sekarang tak mengakui itu dirinya. Apapun, publik tetap menghujat dan mencaci maki terutama karena salah satu pelaku telah berkeluarga.

Harga yang harus dibayar amat lah mahal. Selain harus mendekam di balik jeruji besi dengan tuduhan telah lalai menyimpan video tak senonoh, mereka pun mendapat sangsi sosial. Banyak kontrak iklan dan pekerjaan dibatalkan dan diputus di tengah jalan, program TV yang memajang mereka memutus kontrak sepihak selain tentu saja menanggung malu. Perlu bertahun-tahun bagi mereka untuk kembali ke dunia hiburan dan tampil lagi di depan kamera dengan karir yang mungkin tak secemerlang sebelumnya.

Tersebarnya adegan intim yang dilakukan publik figur sebenarnya acapkali terjadi. Sebelum tahun  2000-an tersebar video singkat yang memerlihatkan seorang wanita mirip artis almarhumah Euis Sukma Ayu. Euis, putri artis senior Nani Wijaya, yang saat itu sedang naik daun, tak mengakui kalau itu dirinya. Euis terhitung “beruntung” karena masa itu belum ada media sosial begitupun handphone belum banyak dimiliki orang. Pemberitaan tentang Euis lebih banyak muncul di televisi dan koran-koran gosip. Namun tetap saja hal ini memengaruhi karir Euis di dunia hiburan.

Untuk Konsumsi Pribadi?

Sebenarnya sudah bukan rahasia lagi jika dunia selebriti lekat dengan pergaulan bebas. Saya yakin, yang biasa melakukan hubungan intim dengan pasangan walaupun belum menikah tak hanya dilakukan oleh para artis yang videonya tersebar itu. Boleh dibilang, mereka ini hanya sedang “sial” saja karena video pribadi mereka tersebar (atau disebarkan) ke publik. Ini terjadi bisa karena yang bersangkutan lalai hingga video itu bocor ke pihak lain atau bisa jadi gadget atau alat penyimpan video hilang dan jatuh ke tangan orang yang tak bertanggungjawab.

Saya sendiri tak paham mengapa adegan intim harus divideokan. Apakah sekedar untuk “dokumentasi” atau memang sengaja direkam untuk jadi konsumsi pribadi yang bisa ditonton berkali-kali? Semua memang hak dan jadi tanggungjawab masing-masing orang. Namun menjadi masalah jika video itu tersebar lalu ditonton publik termasuk anak-anak di bawah umur. Apalagi saat ini, dengan mudahnya foto atau video tersebar tanpa bisa kita cegah. yan

Kontrolnya ada di diri kita. Jika kita tanpa sengaja menerima kiriman video macam itu, stop sampai di kita saja tak perlu disebarkan. Tak perlu juga menghujat sampai sengaja ikut berkomentar di akun media sosial si artis. Kita jadi salah jika ikut mengumpat dan berkata kasar. Konsekuensi atas apa yang telah dilakukan, biarlah jadi tanggungan masing-masing individu. Dosa tidak berdosa itu urusannya dengan Tuhan. Jadilah penyimak atau jika bisa pengkritik yang baik saja.

 

 

 

 

 

 

 



                                                                                                                     

Minggu, 08 November 2020

Mengenang Awal Pandemi

 

source: katadata.com

Semua terjadi begitu cepat. Hari itu, Sabtu 14 Maret 2020, saya masih bepergian dengan kereta untuk mengawas ujian TOEFL. Anak saya masih ke sekolah untuk latihan persiapan lomba Pramuka esok harinya. Namun situasi memang sudah nampak tak biasa. Di stasiun, saya melihat sudah mulai banyak orang memakai masker. Saya pun begitu, memakai masker walaupun masih buka tutup.

Malamnya, televisi menyiarkan kabar tentang salah satu Menteri yang terkena covid 19. Grup WA para orang tua murid yang anak-anaknya hendak ikut lomba esok harinya mulai ramai dengan ungkapan kekhawatiran. Mempertanyakan bagaimana keamanan anak-anak selama lomba nantinya, siapa saja yang akan mendampingi dan seterusnya. Puncaknya, jelang malam ada beberapa orang tua yang menyatakan anaknya mengundurkan diri dari lomba karena mempertimbangkan resiko.

Akhirnya, jelang tengah malam sekolah memutuskan untuk mengundurkan diri. Keputusan ini disesali beberapa orang tua yang masih ingin lomba terus berlanjut. Orang tua lain, termasuk saya, kebingungan menyampaikan pada anak-anak  yang sudah tertidur pulas tentang pembatalan ini. Terbayang betapa kecewanya mereka saat di pagi hari bangun, lalu tak jadi pergi karena batal. Padahal, mereka semua sudah sangat bersemangat dan tak sabar sampai-sampai semua perlengkapan termasuk sepatu sudah disiapkan benar untuk besok hari. Saya ingat, anak saya belum tidur karena tak sabar ikut lomba esok harinya. Dia menangis saat tahu sekolah tak jadi ikut lomba yang sudah lama ia tunggu-tunggu.

Dilanda Bosan

Setelah itu, mulailah hari-hari panjang di dalam rumah. Minggu-minggu pertama, anak-anak sangat antusias setiap kali mengikuti meeting online, merasa kangennya sedikit terobati. Sekolah juga masih gagap menghadapi situasi mendadak ini. Belum ada variasi pembelajaran. Orang tua juga masih beradaptasi. Banyak yang gagap teknologi, tak familiar dengan aplikasi-aplikasi yang dipakai anak untuk belajar online. Grup ramai dengan curhat dan pertanyaan orang tua yang kesulitan menggunakan aplikasi-aplikasi itu.

Setelah 3 minggu, rasa bosan mulai melanda. Rasanya cukup tersiksa harus tinggal di rumah padahal biasanya bisa beraktivitas bebas di luar rumah. Waktu itu, belum ada kajian-kajian atau pelatihan online jadi memang betul-betul hanya sibuk dengan aktivitas rumah saja. Saya keluar rumah hanya seminggu sekali untuk belanja stok makanan. Tukang jualan yang biasanya lewat ke kompleks rumah juga dilarang. Benar-benar dibatasi. Anak saya lebih banyak disibukkan dengan tugas-tugas sekolah. Sebagai pengobat kangen, guru kelasnya sering mengadakan challenge yang akan di-upload di status WA nya. Misalnya tantangan mengulek sambal atau memarut kelapa.

Paling terasa sepinya saat bulan puasa. Kalau biasanya kami bisa taraweh dan ngabuburit , kini tidak lagi. Sedih rasanya melihat mesjid gelap dan sepi. Kami pun hanya beribadah di rumah. Tidak ada lagi acara buka bersama. Bahkan saya sama sekali tidak ke rumah mertua atau rumah adik selama awal pandemi walaupun kami masih tinggal di kota yang sama. Kami lebih banyak berkomunikasi lewat video call atau WA. Tapi saat itu sudah mulai banyak kajian via aplikasi meeting online atau di channel YouTube. Lumayan jadi aktivitas baru untuk saya yang tak lagi bisa bepergian untuk menuntut ilmu. 

Oh ya, selama bulan puasa, acara TV yang selalu saya tonton dengan anak adalah Tukang Ojek Pengkolan yang syutingnya tak lagi di luar ruangan tapi di studio. Walaupun bukan penggemar berat, tapi itu lah tontonan yang bisa kami tonton jelang magrib dan setelah magrib. Nggak ada lagi tontonan yang lumayan soalnya.

Hikmah Awal Pandemi

Pasti selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Walaupun merasa bosan, tapi saya merasa  jadi lebih dekat dengan keluarga terutama dengan anak. Kalau biasanya kami sibuk dengan aktivitas sendiri-sendiri, selama awal pandemi kami jadi banyak beraktivitas bersama. Saya jadi sering ngobrol banyak dengan anak termasuk soal nostalgia masa saya kecil dan sekolah. Malah kayaknya stok cerita saya sudah mulai habis saking seringnya saya bercerita haha..

Selama Ramadhan, saya pun merasa lebih khusyu. Biasanya ada hari- hari saat kami sibuk dengan acara buka bersama dan sebagainya. Rasanya waktu buka bersama malah tak banyak. Saat pandemi itu, setiap hari kami bisa buka bersama di rumah walaupun lebih sering saya berdua anak saja.Begitu pun amaliyah harian, bisa lebih ter-upgrade karena tak banyak keluar rumah.

Walaupun sedih tak bisa pulang kampung saat Lebaran, tapi kejadian ini membuat saya makin menyadari betapa  berharganya waktu bersama keluarga itu. Saat Allah mengambil keleluasaan bepergian untuk bertemu dan beraktivitas, baru lah terasa nampaknya saya kurang menghargai kebersamaan itu karena menganggap hal itu biasa saja.

Tak terasa, 8 bulan sudah kita mengalami pandemi. Aktivitas sudah mulai berangsur normal dan kita mulai terbiasa dengan aktivitas dalam rumah. Tentu saja, kami kangen sekali dengan aktivitas kami yang dulu. Anak saya malah sudah sering bilang ingin kembali ke sekolah. Entahlah.. Melihat kondisi saat ini, saya sampai berpikir jangan- jangan sekolah pun baru buka awal tahun ajaran baru tahun depan. Itu artinya, anak saya tak lagi bisa kembali ke sekolah karena sudah keburu lulus! Duh.. sedih juga membayangkannya. Semoga tidak terjadi..

 

Jumat, 06 November 2020

Yang KW Yang (Tak) Terkenal

 

Jagat maya sedang dihebohkan oleh seorang remaja 19 tahun, penjual bakso di Bekasi Timur Jawa Barat yang katanya mirip Raffi Ahmad muda. Seorang pembeli mengunggah video yang memerlihatkannya sedang berjualan. Menjadi viral, Dimas Ramadhan, pemuda yang mirip Raffi muda itu, kemudian dijemput tim Rans Entertainment untuk dipertemukan langsung dengan Raffi Ahmaad di rumah pribadinya. Bagai ketiban pulung, Dimas mengaku serasa bermimpi bisa bertemu dengan artis terkenal bahkan bisa masuk rumahnya. Dimas dihadiahi sepatu mahal Raffi dan dijanjikan untuk dibiayai kuliahnya. Yang membuatnya tak kalah senang, sejak video tentang dirinya viral, omset jualan bakso milik ayah Dimas ikut naik.

Selain Dimas, ada pula Affief yang katanya mirip artis muda Rizky Billiar.  Walaupun tak seheboh Dimas, Affief mengaku memang banyak yang bilang kalau dia mirip artis yang sedang naik daun itu. Secara khusus, Affief tak pernah diundang langsung oleh Rizky untuk bertemu, “Hanya pernah kolaborasi untuk TikTok saja.” aku Affief pada reporter sebuah acara TV.


Source: VOA Indonesia


Imitasi Publik Figur

Satu hal yang wajar ketika seorang fans mengimitasi tokoh idolanya. Umumnya fans mengimitasi gaya berbusana, gaya berbicara atau ekspresi khusus tokoh yang disukainya itu. Teman saya pernah bercerita, kakak laki-lakinya sangat suka pada Kaka Slank. Sampai-sampai ia sengaja membuat gigi depannya patah sedikit biar makin mirip Kaka! Saat itu, Kaka memang punya gigi seperti itu dan belum serapi sekarang. Untunglah kakak teman saya itu tak ikutan nge-drugs seperti Kaka!

Banyak orang di dunia yang mengikuti gaya dan busana King of Pop Michael Jackosn, Elvis Presley atau penyanyi Reggae Bob Marley. Di Indonesia, gaya dan busana Rhoma Irama nampaknya juga banyak ditiru. Tak masalah jika harus mengeluarkan uang demi memiripkan diri dengan sang idola. Soal beneran mirip atau tidak, itu nomor dua. Yang penting usaha!

Bertahun lalu bahkan pernah ada program TV yang khusus mencari dan menampilkan orang-orang yang mirip publik figur tertentu. Program bertajuk Asal alias Asli Tapi Palsu itu mengundang 3 orang yang dianggap paling mirip dan bertemu langsung dengan publik figur aslinya. Mereka akan diminta melakukan hal yang biasa dilakukan si publik figur misalnya menyanyi atau akting. Yang bikin geli,tak selalu yang diundang mirip banget ternyata. Palingan mirip kalau dilihat sekilas. Program TV dengan host almarhum Taufik Savalas ini sempat sangat disukai saat itu. Acara ini pernah di-remake tapi nampaknya tak sesukses sebelumnya.

Bagi yang memiliki paras wajah seperti orang terkenal, bisa jadi itu bagai sebuah anugerah. Tak perlu bersusah payah meniru, mereka sudah mirip dari sono-nya. Tinggal dipoles sedikit saja bisa lebih mirip lagi.  Komedian Jarwo Kuat misalnya mulai dikenal karena konon mirip mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Ia pun bisa meniru gaya berbicara beliau. Banyak pula yang mengaku atau diakui mirip komedian Sule. Ada juga Ilham Anas, pria berdarah Minang yang mirip Barack Obama.

Sama-sama Terkenal?

Banyaknya orang “biasa” yang mirip publik figur kini makin mudah dikenali karena bantuan teknologi. Jika ada yang mengunggah video atau foto lewat media sosial, seketika ia bisa menjadi viral. Namun apakah kemiripan itu membawa keberuntungan yang sama seperti publik figur yang dimiripinya, itu soal lain. Kembali ke niat dan mungkin juga keberuntungan. Ada yang memang memanfaatkan kemiripan dirinya itu untuk mendulang rupiah dan merintis karir di dunia hiburan, ada pula yang sekedar merasa senang saja tanpa berniat memanfaatkan situasi.

Salah satu yang memanfaatkan momen kesukaan orang pada kemiripannya  dengan publik figur misalnya Jarwo Kuat. Jika awalnya ia sering diminta jadi Pak Kalla gadungan, kini Jarwo lebih sering berperan sebagai komedian. Karirnya pun terhitung lumayan. Ada pula yang mengaku mirip Sule bahkan mengikuti gaya rambut komedian asal Jawa Barat itu. Sempat membintangi sinetron dan iklan tapi nampaknya karir Sule KW ini tak terlalu moncer.

Kisah cukup menarik terjadi pada Ilham yang mirip benar dengan Mantan Presiden Amerika Barack Obama. Sejak pelantikan Obama menjadi Presiden Amerika beberapa tahun ke belakang, Ilham mulai dikenal. Tak tanggung-tanggung, berkat kemiripannya itu ia ditawari main film hingga ke negeri Cina. Ilham bahkan bisa melanglangbuana ke berbagai negara sebagai Obama palsu dengan menjadi bintang iklan, menjalani proyek film, iklan dan menghadiri peluncuran berbagai produk.  Mengaku sebagai Obama KW Super, Ilham bahkan seringkali dikira Obama saat sedang berjalan-jalan. Tak heran, ia pun laris manis diajak berfoto. Setelah Obama lengser, tawaran untuk menjadi Obama KW tak lagi ramai walaupun kata Ilham ia tetap optimis karirnya tetap bisa berjalan baik.

Punya wajah dan perawakan mirip publik figur adalah pemberian yang Maha Kuasa. Jika mau memanfaatkan itu sebagai cara mengais rezeki, tentu syah-syah saja. Namun sebagaimana seharusnya, menjadi seorang (yang mirip) publik figur hendaknya tak lantas menghilangkan identitas pribadi apalagi jadi tinggi hati. Kalau ternyata bisa seterkenal dan rezekinya selancar tokoh yang dimiripi, syukurilah. Jadi ketika orang tak lagi mengenal sebagai si KW, kita tak perlu merasa terlalu kecewa.