Selasa, 19 Maret 2013

Saat Malam Menjelang..



Buat ibu-ibu macam saya, mencari waktu luang untuk diri sendiri tidaklah mudah. Apalagi sekarang saya tak lagi punya pembantu. Jadilah setiap hari saya harus pintar-pintar membagi waktu untuk bekerja-meskipun hanya part time- dan mengurus rumah tangga. Untuk dua hal itu saja saya merasa selalu kekurangan waktu. Belum mencari waktu untuk aktivitas sosial-arisan atau pengajian misalnya-, waktu untuk pengembangan diri atau sekedar melakukan hobi. 

Saya memang tak mau waktu saya hanya habis untuk urusan rumah dan pekerjaan. Biar seimbang dan biar nggak gampang stress juga ,kan?. Konsekuensinya, waktu yang cuma 24 jam itu harus saya bagi-bagi lagi hingga semua kebutuhan saya terpenuhi. 

Karena itu, saya bakal bersorak jika waktu malam tiba. Saat anak sudah tidur, saya bisa sedikit rileks, lepas dari aktivitas melelahkan seharian. Biasanya, waktu santai saya dimulai jam 9 atau setengah sepuluh malam. Saya biasa mengisinya dengan browsing, menulis, membaca atau nonton TV. Kadang, saya mengisinya dengan ngobrol ringan dengan suami sambil nonton film di DVD. 


Setiap menit yang terlewati betul-betul saya nikmati. Soalnya, di pagi atau siang hari agak sulit saya melakukan aktivitas fun buat diri sendiri. Lucunya, kadang malam hari pun saya masih melakukan pekerjaan rumah. Mencuci piring, bebenah atau menyetrika baju. Biasanya saya lakukan kalau besoknya saya harus berangkat cepat atau ingin sedikit bersantai di pagi hari.

 

Selasa, 05 Maret 2013

Yang Tak Terlupakan



Beberapa hari lalu, saya bermimpi “bertemu” dengan Nenek saya yang sudah almarhumah. Dalam mimpi saya itu, tiba-tiba saya berada di rumah saya di Sukabumi. Saat sedang mengbrol dengan Mama, tiba-tiba Nenek muncul di ruangan lain.
Meskipun dalam mimpi, otak saya masih bisa mengirimkan pesan kalau Nenek saya sudah meninggal. Tapi dalam mimpi itu, saya tetap bercakap-cakap dengan Nenek meski hanya sebentar.
Ini bukan kali pertama saya bermimpi tentang Nenek atau tentang rumah masa kecil saya. Saya tak tahu intensitasnya. Yang jelas, mimpi-mimpi itu selalu muncul meskipun sudah lama saya tak pulang kampung. Setting-nya selalu seputar rumah tempat saya menghabiskan masa kecil sampai masa remaja dan rumah Nenek tempat saya biasa main.
Nampaknya, alam bawah sadar saya masih terpatri di sana meskipun raga saya ada di kota lain. Otak saya punya rekaman memori khusus tentang kedua tempat itu hingga saking berkesannya memori itu akan terus “terpanggil” selama apapun saya meninggalkan kampung halaman.
Setelah bermimpi begitu, rasa rindu saya pada kota kelahiran biasanya akan makin kuat. Jujur saja, jika boleh memilih saya lebih suka tinggal di Sukabumi. Selain udaranya lebih nyaman, rumah saya juga strategis karena terletak di pusat kota. Mobilitas jadi amat mudah. Tinggal naik angkot 5 menit saja, saya bakal sampai di mall terdekat. Ongkosnya cukup 2000 rupiah jauh atau dekat. Jalan kaki juga bisa. Belum lagi di sana saya bisa lebih dekat dengan orang tua dan sanak saudara.
Tapi jalan hidup membawa saya ke kota lain. Hal yang tak saya sesali. Hanya saja, kenangan rumah dan kota kelahiran nampaknya memang punya tempat spesial dan tak terlupakan hingga saya seringkali memimpikannya. Sambil bercanda, saya sempat melontarkan ide pada suami. Kalau kami panjang umur, saya ingin menghabiskan hari tua di Sukabumi...Mungkinkah..?

Sabtu, 02 Maret 2013

Masih Nostalgia 90-an..



Saya selalu terkenang dengan masa 90-an karena saat itulah saya menghabiskan masa remaja yang penuh haru-biru he..Karena itu, masih dalam rangka mengenang tahun 90-an, ini lanjutan ceritanya..

Foto: www.artistdirect.com

1.     Ballad..oh..Ballad..Seingat saya, era 90an terutama awal 90-an adalah masanya lagu-lagu ballad. Para penyanyi cowok banyak yang menyanyikan lagu-lagu mellow dan manis, penuh lirik cinta yang romantis. Yang saya ingat adalah lagunya Michael.W. Smith, I Will Be Here For You, Rick Price, Heaven Knows atau yang lebih jadul lagi Tommy Paige, A Shoulder To Cry On. Lucunya, penampilan para penyanyi cowok itu tak selalu semanis lagunya. Malah terkesan “garang” karena mereka tampil dengan rambut gondrong dan dandanan nggak rapi-rapi amat.


2.    OSELLA. Dulu, produsen T-shirt dan semacamnya nggak sebanyak sekarang. Merk yang saya ingat hanyalah Hanny and Robert (H&R)- yang juga memroduksi jaket, C59-kaos produksi Bandung, dan satu lagi OSELLA. Dengan lambang kodok, merk OSELLA kayaknya nempel banget di kepala saya karena promosinya yang gencar di majalah remaja. Malah OSELLA pernah jadi sponsor utama GADIS SAMPUL. Tak hanya T-shirt, OSELLA juga memroduksi polo shirt dan kemeja. Saya sampai pengeen banget beli OSELLA. Tapi karena harganya lumayan mahal, saya harus nabung dulu baru bisa beli atau nungguin ortu beliin saat lebaran. Kayaknya, sekarang OSELLA sudah nggak diproduksi lagi. Padahal kualitasnya bagus. 

Fot; Iginindnesiablog.com

3.    Dari Cutbray Sampai Jelly Shoes. Mode yang saya ingat di tahun itu adalah gaya back to eightiesnya. Cutbray dan sepatu berhak tebal jadi salah satu cirinya. Lucu banget karena saya pernah pengen punya sepatu tebal tapi nggak ada uang. Padahal apa enaknya pake sepatu kayak ulekan ha..ha..Setelah itu, ada pula trend serba transparan. Ada jelly shoes- warna putih sampai pink, jelly bag, tempat pensil transparan..Dan kayaknya mode dan trend di atas sempat berulang pada masa 2000-an.

4.    Kosmetika Remaja. Dulu, remaja tak punya kosmetik khusus. Saya saja biasa bedakan pake bedak bayi..hi..hi..Tahun 93-an mulai diproduksi kosmetika remaja, BELIA Martha Tilaar. Konon, Martha Tilaar memroduksi kosmetika remaja karena terinspirasi oleh putrinya, Whulan Tilaar, dan ingin mempersembahkan produk itu untuknya.

Promosi BELIA lumayan gencar di majalah. Saya ingat, model BELIA pertama adalah Cut Tary yang waktu masih segeer banget. Produk BELIA terhitung lengkap mulai dari produk perawatan sampai kosmetika seperti compact powder, lipstik . ligloss sampai belakangan ada pula eye shadow-nya. Sebagai ABG, saya juga nggak mau ketinggalan membeli produk-produk BELIA. Saya punya hampir semua produknya: pembersih, penyegar, cleansing foam (pembersih wajah), body cologne, body lotion, compact powder dan lipgloss. Sekarang, kosmetika remaja sudah banyak bermunculan dan nama BELIA juga udah mulai terlupakan.

5.    Telenovela VS Thailand Drama. Marimar, Maria Mercedes..Telenovela dari Mexico dan Venezuela jadi favorit ibu-ibu bahkan remaja putri. Biasanya ditayangkan pagi atau siang menjelang sore. Nama Thalia dan Gabriella Spanic menjadi amat tenar. Malah sempat diundang segala ke Indonesia untuk jumpa fans.

Padahal, cerita telenovela menurut saya intinya sama saja: cewek cantik tapi biasanya miskin jatuh cinta dengan cowok ganteng dan kaya. Ibu atau bapak si cowok tak setuju dan menentang hubungan mereka serta melakukan berbagai cara untuk memisahkan 2 sejoli itu. Biasanya, akan ada orang ketiga diantara keduanya entah berkarakter protagonis atau antagonis. Intinya sih si orang ketiga ini jadi “pengacau” hubungan kedua orang yang saling cinta tadi. Selain itu ada pula “bumbu” rebutan warisan atau rebutan kekuasaan.

Di akhir 90-an, giliran drama asal Thailand yang jadi favorit. Awalnya hanya ditayangkan oleh salah satu televisi swasta. Karena sukses lalu diikuti oleh statsiun TV lain. Bedanya, Thailand drama lebih minim dialog dibandingkan dengan telenovela. Berantem aja banyak diemnya. Gemees..