Minggu, 19 Februari 2017
Sabtu, 18 Februari 2017
Haru Biru Pernikahan Dalam Novel
Ada
salah satu tema cerita yang dimunculkan oleh salah satu penerbit besar di
Indonesia. Namanya Le Mariage. Saya
pikir ini seperti pengkhususan tema dari
penerbit saja bukan sebuah genre sastra baru. Sesuai dengan namanya,
novel-novel yang terklasifikasi dalam Le
Mariage bercerita tentang romantika pernikahan. Mirip-mirip dengan novel
metropop, tokoh-tokoh dalam novel Le Mariage umumnya adalah kaum muda di usia matang, baru atau belum lama menikah.
Kehidupan pernikahan itu lah yang kemudian dieksplor oleh penulis dengan bumbu
konflik dan drama. Saya baru membaca 3 novel jenis ini. Awalnya hanya karena
tertarik dengan salah satu novel yang saya baca resensi singkatnya di sebuah
toko buku online lalu saya beli. Pada
tulisan ini saya hanya akan menulis 2 di antaranya.
Manja Vs Playboy
Novel
pertama yang saya beli berjudul Not A
Perfect Wedding karya Asri Tahir. Bercerita tentang Pramudya Eka Rahardi,
Pram, yang terpaksa harus menikahi calon istri adik kandungnya, Raina Winatama,
karena adiknya , Prakarsa Dwi Rahardi, Raka, meninggal tepat di hari
pernikahan. Pramudya yang lama tinggal di luar negeri tidak pernah mengenal
perempuan yang menjadi calon istri adiknya itu. Namun demi memenuhi janji
kepada adik satu-satunya itu sebelum meninggal sekaligus menjaga nama baik
keluarga besar, Pram bersedia menikahi Raina.
Tentunya,
bukan hal mudah menjalani pernikahan tiba-tiba itu. Bagi Raina, Pram adalah orang
asing dengan karakter yang sangat jauh berbeda dengan almarhum Raka. Pram lebih
ekspresif namun matang dan tentu saja tampan. Meskipun Pram selalu berusaha
memperlakukannya dengan baik, bagi Raina, Pram masih menjadi sebuah misteri.
Apalagi kemudian Raina mengetahui sebuah rahasia Pram di masa lalu. Begitupun
bagi Pram, Raina adalah gadis asing yang juga berbeda dengan mantan-mantannya
dulu. Rasa tanggungjawab akan janjilah yang membuat pria itu bersabar
menghadapi Raina yang manja dan belum dapat melupakan Pras sepenuhnya. Situasi
menjadi rumit saat Sashi, wanita dari masa lalu Pram, muncul hingga menyurutkan
keyakinan Raina yang mulai membuka dirinya untuk Pram.
Cukup
menarik menyimak tarik ulur hubungan kedua tokoh ini. Jujur saya agak iri pada
Raina. Ia digambarkan sebagai wanita yang nyaris sempurna: berasal dari
keluarga harmonis dengan 2 orang kakak yang amat sayang padanya, lalu tiba-tiba
ketiban pulung menikah dengan pria
mapan dan tampan seperti Pram haha... Yang sedikit mengganjal adalah karakter
Pram. Ia digambarkan sebagai pria playboy
yang cuek dan anti komitmen. Diceritakan, Pram pun lama tinggal di luar negeri hingga memiliki
gaya hidup yang berbeda dengan adiknya Raka yang cenderung lebih “manis” dan dekat dengan
keluarga. Namun saat terpaksa menikahi Raina, Pram berubah menjadi pria yang
bertanggungjawab banget, sabar dan
dewasa.
Hmm..saya
cuma membayangkan, akan sangat tidak mudah bagi laki-laki bebas seperti Pram
untuk menjalani pernikahan yang sebenarnya tak ia inginkan, apalagi menikahi
seorang wanita yang tak pernah dikenalnya. Apakah tidak ada pemberontakan gitu? Oke lah, Raina digambarkan sebagai
wanita yang menarik. Tapi terasa mengganjal saja jika karakter seperti Pram
bisa tiba-tiba pasrah dengan keadaan lalu jatuh cinta.
Karakter
lebih riil mungkin ada pada Raina. Bagaimana penolakannya pada Pram yang telah
menjadi suaminya secara mendadak, kemanjaannya atau bagaimana ia menyesuaikan
diri saat telah menjadi istri, terasa lebih masuk akal buat saya.
Chef Ganteng Berwajah Jepang
![]() |
www.bukukita.com |
Novel
kedua yang saya baca, lagi-lagi mengambil judul dari bahasa asing, After Wedding. Novel yang ditulis
Pradnya Paramitha ini bercerita tentang Reya Gayatri, seorang dosen ilmu
politik yang dengan nekat menerima lamaran Radina Alief Pramoedya, Rad, seorang celebrity
chef yang baru dikenalnya dalam hitungan hari.
Keputusan
gila itu diambil Reya karena ia baru saja putus cinta dari kekasihnya,
Hario, akibat sang kekasih berselingkuh.
Sementara Rad melamar Reya karena: pertama, memenuhi perintah Jessy, ibu
angkatnya, untuk segera menikah. Kedua, karena sebuah alasan yang berhubungan
dengan masa lalunya, Rad merasa tak dapat lagi mencintai gadis lain. Namun demi memenuhi keinginan Jessy yang telah
sakit-sakitan, Rad mau menikah asalkan wanita itu tidak mencintai atau jatuh
cinta padanya. Rumit ya?
Meskipun
sempat membuat kesepakatan untuk tidak saling jatuh cinta, termasuk tidak ada
kontak fisik, namun bisa ditebak, seiring waktu hubungan Rad dan Reya semakin
dekat –iyalah wong tinggal serumah- dan perasaan mereka pun berubah. Rad pun
terombang ambing antara memenuhi janji pada Kinanti, gadisnya di masa lalu atau
menjalani masa depannya bersama Reya yang pelan-pelan mulai ia cintai.
Saya
menyukai gaya bercerita penulis dalam novel ini. Sangat mengalir dan alur
ceritanya juga menarik. Meskipun bukan tema baru, penulis mampu mengemasnya
menjadi cerita menarik lengkap dengan dinamikanya. Yang saya suka tentu saja
tokoh Rad, sang chef yang deskripsinya
kok mirip salah satu celebrity chef yang sering muncul di TV.
Misalnya , diceritakan Rad menjadi chef
juri dalam salah satu reality show lomba memasak, dalam acara
tersebut ia harus berkarakter jutek tapi justru itu yang membuatnya digilai
banyak fans wanita. Terakhir, tentu saja ia ganteng luar biasa. Sounds familiar,kan? Bedanya, Rad ini
digambarkan berwajah oriental karena punya darah Jepang – jadi bikin saya inget pemain utama di Hana Yori Dango haha..
Tapi,
berhubung ini novel tentang pernikahan, ada beberapa adegan 21 tahun ke atas
yang diselipkan dalam cerita. Gaya bercerita penulis pada bagian ini
mengingatkan saya pada novel karya Daniel Steel dan Shidney Sheldon. Meskipun
begitu, saya suka bagaimana Rad memperlakukan Reya yang smooth banget..
Di
www.goodreads.com ,
novel ini mendapatkan apresiasi bagus dengan rata-rata mendapatkan 4 bintang.
Meskipun begitu, ada pula yang menulis “cacat” yang dibuat penulis karena
katanya kurang observasi. Misalnya, proses penulisan disertasi Reya, yang calon
doktor, terkesan terlalu lancar dan singkat padahal normalnya butuh waktu lebih
lama.
Tema Seragam
Dua
novel ini, termasuk 1 novel lagi yang saya baca namun tidak saya tuliskan di
sini, memiliki satu kesamaan: pernikahan yang sebenarnya tidak diharapkan
tetapi kedua tokoh akhirnya bisa saling mencintai. Konflik yang tercipta pun
berasal dari masalah yang sama : keterikatan karakter utama pria dengan wanita
di masa lalu dan kemunculan mereka setelah si pria menikah. Mungkin sudah tak
terhitung novel,drama atau film yang mengambil tema ini dengan akhir cerita
yang mudah ditebak. Toh harus diakui,
tema mainstream ini memang selalu
disukai apalagi jika tokoh utama prianya memang digambarkan selalu ganteng –
memang nggak elok sih kalau
digambarkan jelek hehe- dan si wanitanya cantik- kadang biasa saja tapi
menarik. Bisa jadi ini untuk memuaskan imajinasi pembaca ya.. atau memang
memuaskan imajinasi penulis?
Akhirnya,
menarik tidaknya cerita menjadi bergantung pada penulisnya. Ia harus memiliki
kemampuan untuk meramu tema mainstream
ini menjadi cerita yang antimainstream
–setidaknya bisa membuat pembaca tetap mau membaca bukunya hingga halaman
terakhir- misalnya melalui gaya bahasa
atau penokohan yang kuat.
After Wedding
menurut saya memiliki keunggulan dari gaya bercerita dan dialog-dialog antar
tokoh yang terasa bernas. Seperti yang disampaikan penulis di awal bab bukunya,
ia memang “menitipkan” pertanyaan-pertanyaan penting pada tokoh-tokoh yang ia
ciptakan. Soal peran ganda wanita misalnya atau mengenai makna cinta. Novel ini
pun tak hanya berisi kisah hubungan dan cinta 2 manusia namun ada muatan lain yang membuatnya lebih
bermakna.
Anyway,
sebagai pembaca, saya selalu menghargai setiap karya. Karena saya yakin, bukan
hal mudah untuk menghasilkan sebuah cerita, apalagi berbentuk novel beratus
halaman. Biasa ya..penonton mah
sering merasa lebih pintar dari pemain haha... Tulisan ini hanyalah bentuk
apreasiasi dan kecintaan saya pada buku. Itu saja saya kira.
@Private
room, 19 Februari 2017
Kamis, 16 Februari 2017
John Wick, Jagoan Yang Canggung
Dirilis
cukup lama dari bagian pertamanya, tahun 2014, akhirnya John Wick: Chapter 2 beredar di bioskop pada Februari tahun ini.
Bagi penonton yang telah menonton film sebelumnya, mungkin telah mengetahui
siapakah John Wick (Keanu Reeves)? Namun
jika Anda langsung menonton sekuelnya ini, seperti saya, bisa jadi Anda akan
lebih dulu sibuk memahamkan diri siapa sih
John Wick yang dijuluki si hantu karena kepiawaiannya dalam membunuh tanpa
jejak?
Sayangnya,
benang merah yang dapat menjadi penghubung cerita pada sekuel ini dengan film
sebelumnya, nampaknya nyaris tidak ada. Jadilah penonton harus mengikuti cerita
sambil mengira-ngira mengapa tokoh ini berbuat begini atau begitu tanpa tahu
alasannya.
www.advance-screenings.com |
Adegan
dibuka dengan kebut-kebutan antara seorang pengendara motor dengan sebuah motor
lain di jalan raya. Setelah cukup lama aksi ini terjadi, sebuah mobil tiba-tiba
muncul dan menghadang motor tersebut hingga motor itu berhenti mendadak
sementara pengendaranya terlempar ke aspal. Keluarlah sesosok pria yang dengan
tenang menghampiri pria pengendara motor itu. Lalu, ia mengambil sesuatu dari
jaket si pria yang ternyata sebuah kartu berlogo khusus.
Selanjutnya,
barulah diketahui kalau pria pengambil kartu itu adalah John Wick. John
bermaksud untuk mengambil kembali mobilnya yang dicuri oleh adik seorang ketua
komplotan penyelundup –sepertinya penyelundup heroin-. Dengan mudah, John masuk
ke dalam gedung tempat komplotan itu berada, dengan menggunakan kartu khusus
yang diambilnya dari pria bermotor tadi.
Meskipun
mobilnya nyaris hancur akibat ditabrak dan ditembaki oleh anggota komplotan
yang hendak merebut mobil itu kembali, John tetap mempertahankannya. Ia
berhasil membawa pulang mobilnya tanpa melakukan apapun pada ketua komplotan
yang ketakutan karena didatangi John Wick. Sikap John yang berubah “baik”
membuat ketua komplotan itu berpikir kalau John Wick sudah pensiun. Rupanya,
bukan tanpa alasan jika John bersikeras mempertahankan mobilnya. Dalam dashboard-nya, ia menyimpan sebuah
fotonya bersama sang istri yang telah meninggal.
John
lalu pulang dan disambut oleh anjingnya yang setia namun tak ia beri nama. Dalam
rumahnya yang besar, John terus terkenang akan istrinya. Muncullah sosok
Santino D'Antonio (Riccardo Scamarcio) yang menawari John untuk “bekerja” kembali. Namun John menolak dengan
halus meskipun Santino memaksa dan menekannya. Penolakan John ternyata
berbuntut pada dibakarnya rumah John oleh Santino.
Dengan
berbagai pertimbangan, John akhirnya mau melakukan “misi” dari Santino. Ia
berharap, jika ia telah selesai melakukan tugas itu, ia dapat lepas sepenuhnya
dan hidup damai bersama anjingnya. Misi itu adalah membunuh adik Santino, Gianna D'Antonio. Ternyata, setelah berhasil membunuh adik
Santino, John tetap tak dapat melepaskan diri. Bahkan ia harus berhadapan
dengan Santino yang berbalik ingin membunuh John Wick untuk mengamankan
dirinya sendiri.
Jagoan Yang Canggung
Boleh
dibilang, film ini hanya memiliki Keanu Reeves sebagai daya tarik. Jika dilihat
dari tema, tak ada sesuatu yang baru dalam film ini. Mirip dengan tokoh John
Bourne yang dimainkan Matt Damon, John pun diceritakan ingin pensiun sebagai
pembunuh bayaran. Namun sayangnya, tidak jelas mengapa ia ingin berhenti. Jika
boleh disimpulkan, John ingin pensiun karena kematian istri yang amat
dicintainya. Tapi mengapa? Apakah istrinya meninggal karena berhubungan dengan
pekerjaan John sebagai pembunuh bayaran ataukah sebab lain? Mengapa John begitu
terpukul dengan kematian istrinya itu hingga ia mati-matian mempertahankan
mobil yang di dalamnya ada foto istrinya?
Inilah yang gagal diinfomasikan kepada
penonton dalam film ini. Bahkan, flashback
saat John bersama istrinya hanya ditampilkan dalam hitungan detik saja. Padahal, hubungan John dengan istrinya dapat
menjadi bumbu drama yang menarik dan menciptakan emosi.
Entah
karena faktor skenario, John Wick pun nampak seperti jagoan tanpa gigi. Ia
memang hanya mantan pembunuh. Tapi saya kok
tak melihat sisa-sisa kehebatan John sebagai pembunuh yang dijuluki The Boogeyman alias si hantu dan konon
mampu membunuh tiga orang musuhnya hanya dengan pensil. Ia nampak begitu
canggung, tidak jelas maunya bagaimana dan minim ekspresi. Sebagai penonton,
saya cuma mengira-ngira, kalau sikapnya itu terjadi karena kesedihannya yang
mendalam akibat kematian istrinya. Tapi benarkah?
Namun
jika Anda menyukai adegan laga, bolehlah menyaksikan bagaimana Keanu Reeves
berkelahi. Meskipun, adegan laga yang ditampilkan juga tak terlalu seru seperti
saat menonton The Fast and The Furious haha..
Langganan:
Postingan (Atom)